jump to navigation

Kartun Nabi Muhammad…??…ah yang benar… 4 Desember 2008 2:36 am

Posted by zal in Yang dialamikan, Yang direnungkan.
trackback

Berita terhangat selain “Langit tersenyum” akhir-akhir ini adalah mengenai kartun dan komik, yang katanya tentang Nabi Muhammad, setelah saya coba ngeliat melalui images.google, saya jadi tertawa sendiri…bukan lantaran mentertawai sosok yang sangat saya kagumi itu, ..namun lebih kepada Sang Creator dengan amat sangat cerdas menguji dengan cara satire…, bagaimana tidak Sosok yang sebenarnya hanya dikenali oleh orang-orang yang pernah bersama  semasa Beliau hidup saja, sebab sepertinya tidak meninggalkan Foto, lukisan atau patung, kalaupun ada itu adalah gambaran saja dari yang mengkisahkan/ meriwayatkan.

Kebetulan dahulu saya pernah membaca buku ..ah saya lupa judulnya…dimana dibuku tersebut menggambarkan bagaimana tentang keseharian Beliau, misalnya Beliau digambarkan, rambutnya panjang sebahu, tergerai dan kalau Beliau berjalan gerak rambutnya menambah kegagahan Beliau (jadi sepertinya engga pake tutup kepala seperti gambaran pada images google itu) , badannya tegak, dan kalau berjalan seperti orang yang sedang berjalan pada jalan yang menurun,  dan  gambaran itu secara imajinasi terbentuk pada fikiran saya…jadi kalau menurut saya, gambar-gambar pada komik atau kartun itu ngga ada mirip-miripnya sama sekali,  jangan-jangan ini entah Muhammad yang mana…kan di Indonesia bahkan bukan orang arab, banyak yang bernama Muhammad, yang bisa juga guru ngaji, ustadz atau entahh apalah profesinya..(padahal kalau gambar kartun tokoh, meskipun ditampilin aneh, namun tanpa ditulis namanya kita sudah bisa menebak nama tokoh yang pada digambar dengan gaya kartun tersebut..)

Yang mengherankan saya, adalah kemarahan orang atas penulis komik atau gambar kartun tersebut, kenal dengan Nabi Muhammad engga, atau juga engga tau gambar itu mirip atau engga ….

entah mengapa ya sebagian besar manusia ini mudah sekali digonjang ganjing…diombang-ambingkan…disesat-sesatkan fikirannya, entah oleh apa saja yang dipandang perlu di bela, sementara diri sendiri lupa dibela, dibela dari rasa sombong,  sehingga mudah marah, dari rasa rendah diri sehingga menjadi budak mahluk lainnya, padahal yang disuruhkan merendah yang jauh dari rasa sombong dan rendah diri… 

Mengenai gambaran kisah diatas,  rasa marah itu, mungkin ada miripnya dengan kisahku sewaktu masih kecil dulu, dimana abang-abang (kalau di Medan, Laki-laki yang usianya lebih tua dari kami dipanggil abang) disitu seringkali mengadu domba kami, yang secara usia maupun fisik lebih kecil dari mereka, caranya : diletakkan masing-masing sebuah batu krikil dihadapan kami, lalu disebutlah bahwa batu krikil yang dihadapan saya adalah Bapak dari anak yang akan diadu dengan saya, demikian juga dengan batu krikil yang dihadapan anak tersebut disebut bahwa itu Bapak saya…(duch koq Bapak saya disamain dengan batu ya…) , biasanya dengan segera saya tendang batu yang dihadapan saya…dengan demikian sudah dapat dipastikan kami berdua adu hantam…saling piting, dan bergelut…

lalu apa hasilnya…, Abang_abang yang mengadu domba  tertawa menonton kami berkelahi yang kalah-menangnya engga jelas untungnya , sedang pada saat saya pulang Bapak saya dengan santainya membaca koran, tanpa sedikitpun merasa tertendang seperti batu yang ditendang lawan saya tersebut…

Ach…kita ini, sebenarnya selalu diajari Oleh Robbul ‘alamiin,  melalui apa saja, bahkan dari sejak kita mungkin masih didalam kandungan…bisa jadi kita selalu lalai, (sayangnya lalai yang dimaksud difahami hanya atas waktu mengerjakan sembahyang itu saja, oleh karena bahasanya  “ansholatihim sahuun”  (lalai dalam shalatnya) entah apa benar demikian sebab lalali biasanya dibahasakan dengan “ghaafiluun” ) namun kelalaian yang maha dahsyat atas membaca Al’Quran yang berserakan di alam ini, dimana AQ juga dibuka dengan kandungan huruf yang hampir mirip dengan Alam yakni A-lifLam-Mim, yang semestinya dengan sadarnya atas pengajaranNYA tersebut mungkin akan semakin  tegaklah maklumat dari yang diikrarkan baik dengan bacaaan maupun gerakan dalam pengerjaan shalat…

Komentar»

1. sitijenang - 4 Desember 2008 3:30 am

kalo istilah psikologi mungkin: sebetulnya ego mereka sendiri yg kesenggol. tapi mereka yg tersinggung pastinya punya jalur logika tersendiri, meski fallacy sekalipun. mungkin juga disertai referensi sejarah sebagai pendukung reaksi.

2. Hasan Seru - 4 Desember 2008 3:40 am

provokasi aja kayaknya.. yg bikin kartun gak ada kerjaan bgt kayaknya

3. danalingga - 4 Desember 2008 7:15 am

Yah, kan tidak perlu tahu wajahnya, cukup lihat label Nabi Muhammad di teks gambar, maka Muhammadlah itu.😆

4. nurma - 4 Desember 2008 7:40 am

…kita ini, sebenarnya selalu diajari Oleh Robbul ‘alamiin, melalui apa saja, bahkan dari sejak kita mungkin masih didalam kandungan…

kenapa Ia buat aku lupa? sungguh Kang, aku gak bisa inget “pelajaran2” itu…

*baca komen pamanda*
Ah yang benar saja…:mrgreen:

5. Gobet - 4 Desember 2008 11:45 pm

sangat – sangat memprihatinkan

pertamax broooo

6. sitijenang - 5 Desember 2008 4:52 am

@nurma
pamanda itu sapa ya? pamannya panda?:mrgreen:

7. zal - 5 Desember 2008 10:35 am

::sitijenang, memang mesti karena ego, (nah go lo di salahin tuh ama gua dan sijen..🙂 ), masalahnya yang dibela itu mahluk yang amat sabar, jadi Beliau seandainyapun masih ada sekarang saya yakin engga mempan dengan ejekan yang para presiden amerika aja enggga memasalihin kartun wajah mereka dibakar, udah wajah kartun dibakar pula… kalau kata orang medan kecil kali itu…

::hasan seru, Islam itu agama berserah diri, mestinya engga ada masalah dengan yang demikian, lagian kalau engga ada yang membuat marah…, pake apa nguji yang namanya sabar…seharusnya mereka yang menuju Allah bersyukur jika ada yang mau memicu marahnya…sebab ada test gratis ya engga…

::Dan, gitulah aku sewaktu kecil dulu, masak Bapakku bisa diumpamakan dengan batu, dan aku bisa marah cuma lantaran batu yang diumpamakan bapakku tersebut ditendang…ha..ha..jadi lucu sendiri jika mengingatnya sekarang….

::nurma…makanya cepato omah-omah, yen due rezekin meteng, ben ngerti opo maksute “diajari sejak dalam kandungan” yen saiki yatafakkaruun wae …perhatikan semua pertemuan saklar sebab akibat, sehingga semua garis lintang akan mencuat kepermukaan memperlihatkan sumber dan arah….dengan cara demikian pula secara zahir orang sudah tahu tentang “langit tersenyum” baik tanggal dan jamnya sebelum kejadian…

::gobet, duch…apanya yang memperhatinkan…tulisannya engga bagus ya..maklumlah…memang bukan penulis…
pertamax…gek ach…mahal…premium aja…🙂

8. frozen - 5 Desember 2008 10:44 pm

Jika yang membuat karikatur Nabi adalah masyarakat Skandinavia, saya rasa saya (masih) bisa maklum, atau terpaksa memaklumi. Latar belakang yang kuat berkenaan iklim kebebasan menyatakan pendapat (berekspresi; dalam hal ini termasuk membuat karikatur), amatlah dilindungi. Sebagaimana kita tahu, orang-orang Eropa sana, jika mengkritik seseorang, tak peduli yang mereka kritik orang di jajaran parlemen, selalu diungkapkan dengan karikatur (yang bernada mengejek). Dan keadaan aman-aman saja. Sialnya, ketika mereka memiliki stigma tentang Islam, yang kemudian ekspresi kebencian mereka, mereka tumpahkan kepada sosok Muhammad, mereka tidak mengetahui, kalau di dunia Islam ada sesuatu yang sacred. Ditambah parah lagi, umat Muslim tidak mengetahui benar bagaimana freedom of speech di Eropa adalah memang demikian. Jadi sumber masalahnya, sama-sama tidak tahu. Yang sebenarnya terjadi, berarti tak lain adalah benturan kebudayaan/peradaban (jadi ingat tesis Huntington).
.
Sebab kali ini lain, bahwa yang membuat karikatur kebablasan di WordPress itu adalah orang Indonesia, yang notabene seharusnya paham bagaimana reaksi umat Islam Indonesia apabila sesuatu yang “sakral” itu mendapat perlakuan tidak senonoh, saya sendiri pada akhirnya tidak bisa menutupi rasa jengkel atas pemuatan karikatur tersebut.
.
Tapi ya itu, saya ditenangkan dengan satu aksioma; yang mereka lukis bukanlah Muhammad, Ris. Nyantai aja, biarkan mereka capek sendiri. Yah, mungkin…🙄

9. zal - 6 Desember 2008 12:28 am

::ris, jika kamu ingin menguji sesuatu, mis, siapa saja yang bereaksi pada saat saya berteriak zal…dengan nada seperti memanggil, pada sekumpulan orang, maka yang spontan menoleh…hampir pasti dia juga bernama atau dipanggil zal…,

apa yang dilakukan untuk menguji, apakah orang-orang itu masih belum memahami satu hal,ungkapkan dengan satire…yang tak faham akan mencaci maki berdasarkan apa yang tertulis, bukan apa yang termaksud…
apa kamu masih melafazkan inni wajjahtu wajhia ris…, ayo…jangan bohong…🙂

10. frozen - 9 Desember 2008 6:48 am
11. qzink666 - 9 Desember 2008 8:14 am

*mengamini komengnya Frozen*

bener nian, yg jadi masalah mungkin adalah karena samo-samo dak tau. Ato bisa juga gara-gara tahu kelemahan satu-sama lain?? Ato juga karena sense of humor yang berbeda??

Ah, sabodo teuing.. Lieur abdi mah..:mrgreen:

12. sufimuda - 9 Desember 2008 9:03 pm

Berarti menyingkapi kasus2 penghinaan thdp Nabi Muhammad, kita harus lebih dewasa ya bang zal🙂

13. zal - 10 Desember 2008 4:24 am

::ris kenapa ..?? koq ..

::makmanonyo mengamini mak mengamini, jinguk dulu komengnyo frozen bukan do’a tu.. :mrgreen: juga lah…

::sufimuda, belumkah perjalananmu dipertemukan dengan maksud perjalanan itu sendiri, jika engkau kenali dirimu apa bedanya yang berteriak dengan yang diteriaki…., jadi bukan masalah menyikapi secara dewasa maupun tidak, fahamna..fahamna…itu adalah hakikat perjalanan,..lihatlah meski sekelas Habibullah Ibrahim AS dan Muhammad SAW, engga ada yang terlepas dari Beliau-Beliau itu dari kewajiban yang telah ditetapkan Allah baginya semasa menjalani hidupnya, kesulitan, kegundahan, kebahagiaan, dan kedamaian, namun apa yang difahamkan Allah kepadanya menimbulkan haqqul yaqin baginya… “tsumma latarawunnaha ‘ainal yaqiin”

14. agorsiloku - 15 Desember 2008 2:49 am

Jadi, haruskah kita mencak-mencak atau memiliki kemampuan untuk menunjukkan betapa mulia dan agungnya Junjungan…
atau kita menunjukkan diri bahwa kita sama dengan si pembuat..😦

15. zal - 16 Desember 2008 8:39 pm

Mas Agor, Coba searching “baginya” pada arti ayat AQ, adakah yang “baginya” menjadi bagian kita yang tidak berbuat..

16. kangBoed - 21 Maret 2009 2:39 am

hihihi… siapa ya sebenarnya yang harus di bela… widiiiiiw Rosul, Allah atau diri kita sendiri yang belum mengerti dan memahami makna makna kehidupan ini….. selalu merasa punya kuasa selalu merasa punya kehendak selalu merasa ya ya ya…. selalu merasa dan merasa sekali lagi merasa dua kali merasa… alias atw sejatinya kebanyakan merasa….. padahal siapa yang berkuasa dan berkehendak ? naaah gitu aja koook repot… mo bela anu mo bela entu… weleh weleeeeh hati hati ah….. semua terjadi karena siapa dan ijin siapa ? apalagi bagi yang sudah mengenal dan mengetahui sejatinya Muhammad weleh weleeeh. makanya mendingan dari pada buang waktu mending kita belajar aja sama pendekar tanpa bayangan agar kitapun mencapai dunia tanpa bayangan begitu mungkin ya mas ZAL nyang guanteng dan caem serta baik hati dan tidak sombong hihihihi… diborong semuanya…. siiip lah asyik nulis disini entu tapi nyang nulisnya lagi malas jadi kerjanya ngintipin nyang lagi komentar ooo meliputi katanya wakakakakak hehehe… Salam Sayang Selalu dari Bandung hihihi………

zal - 21 Maret 2009 11:54 pm

::KangBoed, gak ada ..termasuk diri ini.. wolo..wolo..kuwoto kan…🙂

17. afif\ - 11 Januari 2014 12:12 pm

itu bohong bid’ah

18. afif\ - 11 Januari 2014 12:13 pm

masa

19. zal - 21 Januari 2014 5:31 pm

apanya yang bohong bid’af afif\


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: