jump to navigation

Kotemplasi-Siklus Hidup 11 Agustus 2008 8:53 pm

Posted by zal in Yang direnungkan.
trackback

Kontemplasi, sepertinya lebih dekat pada maksud “Merenung” atau “Berfikir Lebih Dalam” ketimbang “Sekedar Berfikir”, apalagi “merasa sudah berfikir”, 🙂 … Just Kiding…, mungkin dalam bahasa lainnya ”Tafakkur”, dan bagi orang-orang yang selalu melakukannya, Allah memanggilnya dengan “Yaa Tafakkaruun”.

 

Kami hendak bertanya pada sahabat yang arif lagi berilmu mengenai Apa tujuan, saya dan segala sesuatu diciptakan,  sebab ini sepertinya jarang tersenggol, sehingga siklus hidup hanyalah sebagai sesuatu yang berlangsung begitu saja, tanpa sentakan fikian,… jadilah pertanyaan yang bergelayut…apa sich perlunya saya dan segala sesuatu ada..????  

 

yaa, rada aneh memang, mengapa yang sudah berlangsung, dan merupakan “Kehendak” Sang Pencipta koq ya..masih harus dipertanyakan…???, apa masih layak dipertanyakan sesuatu yang sudah berlangsung mungkin milyaran atau trilyunan tahun yang lalu…

 

Yaa.., justru itulah membuat saya bertanya-tanya, sebab yang terpandang pada saya, berlakunya suatu siklus yang teratur atas keberadaan manusia di muka bumi ini, yang terdiri dari

1.   Lahir,

2.   Tumbuh,

3.    Perkawinan  (jika Allah Menjodohkan)

4.   Berketurunan (jika point 3 terpenuhi) (yg menimbulkan awal baru dari suatu yg bernama “lahir”), dan,

 5.  Mati (yg merupakan titik akhir dari sebuah jasad yang tadinya lahir) , inilah siklus yang menurut saya berketeraturan, dan berlangsung terus menerus.

 

Apa tujuan siklus ini berlangsung terus menerus, jika tujuannya disebutkan Allah untuk mengabdi, mengabdi yang bagaimana..,???, apakah dengan menjalankan Rukun Islam saja, lalu bagaimana ”Pengabdian” yang terlahir dari keturunan yang bukan Islam …???, bukankah Allah juga yang menciptakan mereka, termasuk mereka-mereka yg terlahir didaerah pedalaman hutan, seperti Anak Dalam di Jambi, masyarakat Badui di Sunda, Masyarakat Dayak di Kalimantan, yang rata-rata mengimani Tuhannya dengan pola animisme…

 

Sudilah kiranya Para Arifin memberikan masukan kepada saya….

 

Billahi Taufiq wal Hidayah Assalamu’alaikum WW 

Komentar»

1. sitijenang - 12 Agustus 2008 10:02 am

wah… saya sih *gelar tikar aja deh*😎

2. agorsiloku - 12 Agustus 2008 5:39 pm

Bolehkan yang tidak termasuk arifin berkomentar..😀
Iya, saya juga kadang mempertanyakan, mengapa Allah menyampaikan visi manusia adalah mengabdi dan missinya memakmurkan dunia. Mengapa bukan yang lain (?), apa ya?.

Kalau kita sedikit lepas dulu dari jawaban-jawaban Allah terhadap tujuan akhir kehidupan, maka kita bertanya bukan pada tujuan yang disampaikan Allah, tapi mundur sedikit : Mengapa kita hidup, Adakah hidup ini memiliki tujuan, apakah manusia memiliki tujuan dalam siklus kehidupannya. Atau lebih menelisik ke dasar lagi, apakah penciptaan alam semesta ini memiliki tujuan, apakah kejadian penciptaan itu untuk mencapai suatu tujuan?. Ataukah kejadian penciptaan itu terjadi secara kebetulan? Dengan kata lain, alam semesta itu tidak memiliki tujuan sehingga segala apa yang dibawa dan terjadi dalam kehidupan berikutnya juga, hakikatnya tidak akan memiliki tujuan.
Maka pertanyaan postingan ini harus dijawab dari dua sisi : Membuktikan secara logis bahwa alam semesta hadir dengan adanya tujuan dan kontemplasi berikutnya adalah pertanyaan pada tujuan-tujuan yang mungkin dan akan terjadi.
Membuktikan secara logis bahwa alam semesta hadir tanpa tujuan, tanpa arah, dan kontemplasi berikutnya adalah pertanyaan pada kebetulan demi kebetulan yang terjadi.

Fakta-fakta kemudian yang diteliti para pakar, menunjukkan bahwa kebetulan-kebetulan itu tidak ada. Semakin digali dan dirumuskan, ternyata alam semesta itu deterministik, sebuah kepastian yang terukur. Pemahaman ini menimbulkan pemikiran bahwa kepastian itu, ukuran-ukuran itu menunjukkan bahwa alam semesta memiliki tujuan. Namun, di sini pemahaman alam semesta yang memiliki tujuan juga terbentur pada tujuan apa?.
Fakta-fakta alam sebagai kebetulan sulit dipertahankan, karena setiap penemuan dan kemungkinan yang terjadi, begitu spesifik dan terukur. Ini tentulah bukan kebetulan. Harus ada perancanangan sempurna untuk mencapai kepastian.

Ketika kembali ke ranah agama, kaum beriman dengan santai menjawab bahwa tujuan penciptaan adalah pengabdian. Seperti kata penciptaNya.
Kaum agnostik atau deis masih berkutat dipencarian jawaban ketika sepanjang prosesnya tidak mau menjawab deterministik keberadaan Sang Pencipta.

Kalau jawabannya adalah pengabdian, maka pertanyaan berikutnya adalah : Mengapa term ini yang dipilih….?..

Ah udah dulu… komentar jadi kepanjangan. Ujungnya masih sama. Mengapa harus mengabdi?, padahal siklis kehidupan saja belum dijawab…😀

3. zal - 12 Agustus 2008 10:04 pm

::mas sitijenang, lah ..panjenangan, koq yo malah ngegelar tikar…, padahal ini salah satunya wilayah njenengan…, tapi yo monggo..pinarak…

::Mas Agor, memang ilmuwan, yang terperhatikan di saya, bahwa keilmuawanan berada pada wilayah yg cukup sulit, dan bisa dikatakan wilayah persimpangan, sebab yg dipandang adalah Ciptaan yang berbentuk, nah wilayah ini adalah wilayah “dengan perumpamaan itu, banyak yang mendapat petunjuk, banyak pula yang disesatkan…” kalau tidak menjadi seperti Socrates, yang pemahaman saya minimal menemukan 4 Sifat Allah, maka akan bergulir menjadi Ateis, namun kefahaman saya mengatakan inipun tidak berbahaya, sebab beda tahu dengan tidak tahu, hanya berada pada rumit tidaknya menemukan “Kehendak”, sebab yg diukur adalah “apa yg dibalik dada itu”
Kembali kearah tujuan penciptaan, ada sebuah hadist qudtsi, mengatakan “Tidaklah AKU ciptakan Alam Semesta ini, kalau bukan karenamu Muhammad”, namun Muhammad yang mana, yang Allah maksud, Muhammad, yang Nabi SAW, atau Muhammad yang Nur, yang berdasarkan suatu kisah, terjadi percakapan antara Adam dengan Allah, mengenai penyebutan sebagai Manusia yang pertama diciptakan, dimana Adam disebutkan sebagai manusia pertama namun Adam mengetahui bahwa Muhammadlah yg lebih dahulu diciptakan”
jika dikaitkan hal diatas dengan adanya pertanyaan Bani Quraysh, sewaktu pemberian nama Muhammad, “Mengapa diberi nama Muhammad…”, ya..jika diperhatikan bahwa seringkali seseorang mengalami lupa, perpendapat sangat tolol, atau berpendapat sangat baik, yang kesemuanya berada diluar kontrol manusia tsb, dan ini terkait juga dengan ayat “Setelah Kami sempurnakan kejadiannya, lalu kami balut dengan tulang dan daging” , dengan ayat ini, koq sepertinya Manusia itu juga lebih dekat dari urat leher itu kan…, dan dia juga berada pada Sisi KAMI, disamping “Antara Manusia dan Qolbunya ada Hijab”.
sampai disini, yang tergambar adalah ada sesuatu yang pastinya Ianya juga Ghaib, yang bergerak, dan hidup didalam tubuh ini, yang hendak diajarkanNYA, sebab tanpa adanya Yang Hidup itu, maka sisi badan yang mana saja yang ditinggalkan hanya seperti rumah siput, yang tiada lagi bergerak…, namun ada juga pandangan dari pengarang Novel/ script film MIB (Man In Black)…🙂

4. sitijenang - 13 Agustus 2008 5:54 am

lha mongsok wilayah saya… gak kuku:mrgreen:
tapi, saya pernah liat opini abah dedhot (yg sekarang entah bertapa di mana), bahwa Tuhan berkehendak mencipta cermin diri-Nya sendiri. trus saya mikir, buat apa? ya kalo pendapat tersebut dianggap benar, tentunya supaya bisa bercermin. konon kan Tuhan itu indah dan suka keindahan. tak salah kalau Dia berkehendak untuk memandangi diri-Nya sendiri.

*gelar tikar lagi aja ah*:mrgreen:

5. agorsiloku - 13 Agustus 2008 5:00 pm

Mas Zal, maksud agor, manusia punya tujuan pengabdian sebagai jawaban Allah karena memang sistem mulai dari penciptaan juga memiliki tujuan. Pengabdian dipahami sebagai ketaatan/patuh/bertasbih. Maka sejak penciptaan awal, alam semesta memiliki tujuan dan seluruh pergerakan kehidupan memiliki tujuan. Tujuan akhir berupa pengabdian adalah sisi yang sempurna sebagai pilihan pemahaman tujuan.

Sisi Positip/Jalan Lurus : Mengabdi kepada Allah.
Sisi Negatif/Jalan Sesat : Mengabdi kepada Hawa Nafsu atau Iblis, mengabdi pada keluarga, mengabdi pada golongan, dst, dst.

Kalau kita perhatikan, apa yang kita lakukan selalu bertujuan mengabdi (boleh jadi karakter dasarnya). Kita mengumpulkan harta dunia sampai lupa diri, sering bukan untuk diri kita, tapi untuk harga diri atau untuk keluarga habis-habisan. Harta seolah menjadi tujuan, padahal juga bukan tujuan, karena ada tujuan lain.

Siklus hidup adalah akumulasi budaya dalam siklus hidup linier. Akumulasi dalam proses budaya, siklis dalam lahir -hidup – mati – bangkit – hidup (surga/neraka).

6. zal - 14 Agustus 2008 6:44 am

::terima kasih Mas Agor, pada comment pertama, sebenarnya Mas Agor sudah menggambarkan Fenomena-fenomena yg sudah mulai dikritisi, sehingga terpandang bahwa Alam memili tujuan, dan pada comment kedua Mas Agor meski lebih pendek namun lebih memadatkan dan menjatuhkan pilihan hal tujuan tersebut sebagai suatu ketaatan/patuh dan bertasbih.
Pernahkah Mas Agor terbacakan bahwa :

1. Diilhamkan kepada jiwa itu Ketaatan dan kesesatan, bukankah ketaatan sudah menjadi kontent jiwa…?
2. Segala sesuatu bertasbih…, termasuk segala sesuatu yang ada pada diri kita kan Mas..???

bukankah kedua faktor diatas sudah given.

sebanarnya pada comment pertama, saya mengharapkan mas agor dapat masuk pada alam khayal, mengapa harus khayal…??

Sebab sesuatu apapun itu, yang saat ini terhijab dari kita, sebenarnya sudah dikenalkan kepada kita pada alam penciptaan.
untuk stattement ini, bisa kita sepakati Mas…??

saya lanjutkan lagi ..

Biasanya, kalau kita bercerita tentang sesuatu yang sudah kita kenal sebelumnya, akan mengiringi dalam khayal kita pada saat ianya diceritakan,
Misalkan : Mas Agor ketemu dengan teman Mas, yang baru kembali dari tempat yang Mas Agor pernah kunjungi sebelumnya, lalu berjalanlah kisah tentang daerah tersebut, tentang tempat rekreasi, tempat makan, hotel atau apa saja…apa yang terjadi pada fikiran kita…tergambarkah dia pada saat alur cerita berjalan..??

Apa khyal yang saya ceritakan pada comment pertama :
1. “yang hendak AKU lihat apa yang dibalik dada itu”, Jika Mas menanam semacam bibit tanaman, apa yang hendak Mas perhatikan..??,
2. Tidaklah KUciptakan semesta ini, kalau bukan karena engkau Muhammad, Segala seuatu ditundukkan Allah untuk Muhammad yang ini…bebaskan fikiran Mas..biarkan imajinasi membelah segala bukit yang menjulang
3. Setelah disempurnakan penciptaan, lalu dibalut dengan tulang dan daging,
apa saja perumpamaan yang bisa hadir dalam imajinasi kita jika hal ini digambarkan…, , bisa apa saja, telur mungkin, lemper, roti isi daging, maka tanpa isi itu, yang diluarnya tidak berasa….

cobalah Mas tatap imajinasi itu, sebab segala jawaban ada disitu, bahkan berkata-kata, menulis…semuanya hadir dulu baru ada kata-kata, baru ada tulisankan…

Mohon maaf, bukan untuk membantah, yang saya gambarkan sisi dalamnya, yang mas gambar sisi luarnya…dan ini berjalan bersama mencapai tujuan Sang Penyemai…

7. irdix - 14 Agustus 2008 9:13 pm

Tuhan emang Maha Bercanda :p

8. zal - 15 Agustus 2008 5:40 am

::iya ya dix, cuma yang nyari di tempat-tempat serius, dan menakutkan amat banyak lho…padahal ..akh aku juga main PS koq… 🙂

9. agorsiloku - 15 Agustus 2008 5:44 pm

Betul juga Mas, hanya… diilhamkan jalan ketaatan dan jalan kefasikan adalah pilihan. Ketika jiwa menerima amanat dari Allah untuk menjadi khalifah maka kontent kebebasan berpikir dan bertindak dalam wadah yang disediakan menjadi dibuka.
Di dalam sisi dalam manusia. Wah di sini agor blank deh. Agor tidak punya pengalaman spiritual untuk merasakan getaran al wujud, lebih hanya yang nampak.
Dalam kontemplasi yang agor pikirkan, adalah bagaimana deterministik Allah dalam mengatur kehidupan menggerakan posisi manusia melalui kehendakNya atau melalui kehendak kita yang dilantunkan melalui semangat dan do’a.
siklus yang terjadi dipengaruhi oleh hak perogatif Allah dalam mengabulkan dan menolak atau memberikan azab pada manusia. Tanpa posisi do’a maka deterministik manusia menjadi gambaran (kah) yang sudah pasti?. Nah di sisi dalamkah ini? kalau boleh Mas Zal urai lagi deh.

10. zal - 16 Agustus 2008 11:01 am

::Mas Agor, kalau kata Allah, diilhamkan, sesungguhnya itu sudah ada baik taat maupun fasik, hanya saja kita sepertinya perlu mengamati apakah maksud taat, yg ada, dan apa maksud fasik yg ada, bagi Iblis, ketaatan mungkin bentuk penggodaan, jika yg digoda bertahan jika dia berlepas dari itu itulah namanya pemenuhan janji, dan taat akan janji,

segala baik maupun buruk, wajib berlangsung, namun seperti apa baik, dan seperti apa buruk, ini pun memerlukakn kontemplasi, “baik menurutmu belum tentu baik, buruk menurutmu belum tentu buruk” semua wajib berlangsung.
seorang yg ditokohkan sebagai peran baik, tidak boleh berbuat jahat, demikian juga tokoh antagonis harus berbuat sebaliknya, semakin baik jalan perannya semakin berkualitas dalam peran.

Kontemplasi, terhadap apapun, semakin dalam kontemplasinya, maka akan menjadi kosong fikirannya, dan tanpa disadarinya mungkin dia sudah didepan pintu istana pustaka, dan Allah mengatakan “dari jalan yang tidak diduga-duga..” ya … memang Allah Maha Surprise, inilah Yang membedakan Allah dengan Makhluknya, dan dengan Pola Surprise Allah inilah maka kita dapat mengenalNYA.

Amal dan Ilmu adalah sejalan, tanpa Ilmu tak mengenal amal, demikian pula tanpa amal ilmu tak berkembang, dan apakah ilmu..??, ilmu bukan seperti apa yg kita fikirkan selama ini, sejau apa yang kita baca, itu masih merupakan pengetahuan, Ilmu adalah dimana pengetahuan berjumpa dengan pembuktian, dan dari pembuktian, menyedarkan diri kepada yang membuktikan.

Sesungguhnya, segala hal adalah dalam genggaman Allah, tidak ada yang yang diwakilkan Allah, kecuali kepada diriNYA sendiri, oleh sebab itu Allah menggelar dirinya AL Wakil, namun dimanakah Dia dalam kedudukan sebagai Al Wakil, silahkan Mas Agor berkontemplasi, lihat AQ mulai dari penciptaan Manusia, lalu ikuti yang dialami Para Anbiya, sampai dengan mengapa Nabi Muhammad bersyahadat kepada dirinya sendiri, dan kita semua melakukan demikian…

Keuataamn do’a sebenarnya lebih dekat pada pernyataan, daripada meminta, meminta sebenarnya masih mengandung peremehan kepada Kemahatahuan Allah, meskipun Allah menyuruhnya, berkontemplasilah mengenai hal ini, niscaya akan dipertemukanNYA, sebab Do’a ssemestinya mempertemukan Permintaan dengan Pengabul, namun seringnya setelah meminta, namun oleh karena datangnya pengabulan dari sisi makhluk, bahkan Sang Pengabul malah terabaikan.., seandainya Allah menurunkan azab karena marah, maka sudah lama semua yang ada menjadi musnah, mustahil Yang Maha Bijaksana marah kepada yang maha bodoh…
lha kita saja dapat memaklumkan seseorang yang bodoh jika berbuat fasik kepada kita, apalagi Allah…

Masalah azab, akan menimbulkan ketakutan, sedangkan ketakutan itu bersumber dari dalam diri manusia, entah darimana letaknya, dapat menimbulkan gemetar, dapat menimbulkan lumpuh juga…namun yg jelas takut itu berada dari dalam diri manusia, jika dampak azab yang kita lihat seperti mati tenggelam, bagi yg mati, selesaikan…dia tak akan merasakan apapun lagi, bagaimana dengan yang melihat…, dan takut itu adalah suatu rahmad,,,sebab tidak semua orang juga menjadi takut sungguhan…., sebahagian besar akan lupa jika bantuan sudah mengalir, lihat saja ummat nabi Musa AS… Wallahu a’lam.

11. hanggadamai - 17 Agustus 2008 8:43 am

wallahu alam..🙂

12. mengejaperistiwa - 21 Agustus 2008 9:29 pm

sepertinya ada ayat yang menyatakan begini, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahKu” [ayat berapa dan surat apa saya lupa:mrgreen: ]

saya memikirkan dua penafsiran dari ayat itu;
pertama, Gusti Allah menunjukkan/memerintahkan kepada menusia bahwa hanya Dia lah yang patut di sembah, dan tidak menyembah selain Dia.

kedua; itu merupakan alasan Allah menciptakan jin dan manusia, yaitu untuk menyembahNya. tetapi apakah Dia perlu kita? untuk menjadi Tuhan perlu juga hamba? lalu menciptakan kita yang kemudian diperintahkan menyembahnya? Tuhan menciptakan kita, yang segala sesuatunya sudah Dia tetapkanNya, tetapi Dia akan mengadili kita bila berbuat salah, sedangkan saat kita berbuat salahpun sudah menjadi ketetapannya..*binggung saya*:mrgreen:

sebenarnya apakah kita pernah benar-benar memiliki kehendak kita sendiri, sedang Dia telah menetapkan apa saja tentang kita, bahkan jumlah rambut yang tumbuh dikepalapun..???

salam kenal, bung zal..
*sebenarnya saya sudah beberapa kali koment di blog, bung, tapi kenalan lagi bolehkan?!🙂 *

13. zal - 22 Agustus 2008 3:36 am

::Bung Mengejaperistiwa, yang ngakunya udah sering, padahal ..🙂

mungkin ya..lebih tepatnya mengabdi, ketimbang menyembah…sebab jika menyembah koq terkesan engga ada manfaatnya…:
Misalnya Allah katakan, Semua soleh, tidak menampah, semua sesat, tidak mengurang…
Lainnya, Malaikat pada waktu penciptaan manusia protes, “bukankah kami selalu bersujud dan memuji Engkau”…malah dijawab Allah, bukankah, Aku lebih tahu dari yang tidak enkau ketahui”
malah malaikat yg disuruh bersujud kepada Adam…, lho ada apa ya…, kayaknya itu bukan sekedar diperintahkan, namun mesti ada sesuatu bentuk dimana malaikat memang akan bersujud padanya mestipun tidak diperintah…”katakanlah Sesungguhnya AKU amat dekat…”
Mengapa lebih tepat mengabdi oleh karena kedudukan “AKU amat dekat..”…maka ada arah yang menuju keberserahan, namun meskipun sampai ke ujung pandangan ini, tak akan mudah berlepas diri, dan mendudukkan diri menjadi tak ada, sebab Lahaula wala quata illa billah, memandangkan pada uda sosok…

salam kenal juga…

14. peristiwa - 22 Agustus 2008 10:26 am

waduh, disapa bung lagi saya..:mrgreen:🙂

Bung Mengejaperistiwa, yang ngakunya udah sering, padahal ..

padahal emang baner kok, saya dah sering mampir, walau gak selalu koment :mrgeeen: . salah satuya ada di ‘Perjalanan Setetes Air’ nya sampean, saya sebagai pemulung, tapi blog saya yang itu dah saya hapus.. [halah..protes mode on..🙂 ]

ba(u)ng zal, saya mahluk yang berselaput dara, jadi…🙂

15. esensi - 28 Agustus 2008 5:21 pm

monoton sekali berarti hidup itu ya, Pak. Proses selama hidup itulah yang mungkin lebih menyenangkan untuk dielaborasi makna dan hakikatnya.
.
entahlah…

16. nun1k04a - 29 Agustus 2008 1:58 am

artikel anda:

http://gaya-hidup.infogue.com/
http://gaya-hidup.infogue.com/kotemplasi_siklus_hidup

promosikan artikel anda di infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler,telah tersedia widget shareGue dan nikmati fitur info cinema. Salam!

17. syahbal - 31 Agustus 2008 12:43 am

Assalamualaikum,wr,wb….

Mas apa kabar?????

Kontemplasi… heeemmmmmm…

Badui… anak dalam… de el el…. gimana ya????

ya maybe harus IQRA…

Seperti Muhammad disuruh IQRA…..

dengan IQRA kita tahu bagaimana cara mengabdi…..

mari berIQRA….

Wassalam…

18. zal - 31 Agustus 2008 1:28 am

::Mbak (mengejar peristiwa), ooppss, waduch maaf, habis saya cek emailnya juga dengan initial name yg bisa digunakan untuk nama lelaki.., namun menurut saya laki-laki dan perempuan tergantung karakter yg disajikan, fisiknya wanita, karakternya berani, kukuh, bertanggung jawab, saya lebiih senang menyebutnya lelaki…dan wajar jika dia menjadi Pemimpin…

::Mas Aris, sepertinya jika sebuah konsep dilahirkan maka ada catatan maksud dan tujuan dialirkannya, sehingga bergulirnya program seerti spek, skedul, dll, akan dilakukan dengan pendekatan tujuannya, agar dicapai suatu pekerjaan yang effisien dan effektif, nah disini kita yang mungkin adalah sebagai objek yang digelar itu, apakah tidak sepatutnya kita mengetahui dahulu apa tujuan kita diadakan, sehingga kita dapat dengan effisien bergulir sebagaimana yg diharapkan Sang Pencipta.

::nun1k04a, thanks…

::Syahbal, Wa’alaikum salaam WW, Alhamdulillah khabar baik, ya ada hal setidaknya yang Allah suruhkan kepada kita, Iqra’ dan bertafakkur dan apabila tidak tahu bertanyalah kepada yang tahu,

Mohon maaf, untuk semua, selamat menjalankan Ibadah Puasa…

19. yudhisidji - 31 Agustus 2008 8:47 pm

sedikit ada cerita menarik dari temen saya saat mengintip kediaman tuhan, yang saat itu sedang duduk2 males2an, tapi tiba tiba temen saya mendenganr ” hei..hei…mikail…jibril…pergi sana..! bawa apapun yang orang itu minta”. kata temen saya mikail dan jibril terlihat sangat tergesa, tapi tetep saja mereka risau shg bertanya…: mengapa tuan sangat peduli ? Tuhan menjawab : ” apa kamu tidak bisa lihat…. orang itu pake doa mustajab,…di tempat mustajab…. sambil nangis pula ? bagaimana aku bisa menghindar ?

20. zal - 1 September 2008 4:42 am

::Mas yudhisidji , apakah mas yudhi mempercayainya…???…bagaimana jika ditawarkan bahwa Allah tidak terkungkung dalam dimensi tempat dan waktu….???, dan yang dilihat itu hanya apa yg dibalik dada itu…bahkan DIAnya amat dekat…

21. kurt - 5 September 2008 2:56 am

siklus yang telah dicatat oleh Kang Zal itu memang benar dari lahir hingga mati… siklus itu akan terus hingga tak ada ujungnya. jadi ditambah satu lagi dibangkitkan….

Nah pada pemahaman saya intisari hidup adalah ya di sana. hakekat dan kenyataan prikehidpan kita ya setelah kematian pertama:

Kang zal sungguh tiada orang yang mengerti apa itu akherat, tapi Maha RahmanNya telah membuka tabir-demi-tabir kehidupan akherat itu dengan firmannya yang cukup banyak: tentang syurga, neraka, kehidupan di dalamnya dan seterusnya.

Kita di dunia sementara ini tidaklah akan bisa menjawab misteri2 tersebut. Sebab konon, akal manusia itu hanya menggunakan 1% saja.

22. kurt - 5 September 2008 2:58 am

ralat: tidak ada istilah kematiam pertama maksudnya pertama kali mati kemudian dibangakitkan kembali.

23. C4ndra - 5 September 2008 3:21 pm

Kalau menurut saya sendiri rahasia tentang afterlife itu masih terkunci rapat. Ada pun bocoran tentang hal tersebut kalau di telaaah lebih lanjut malah terdapat banyak kontradiksi di sana sini. Sebelumnya saya merasa bingung, kok setiap agama yang ada dan yang pernah ada mengkonsepsikan afterlife itu dengan gambaran yang berbeda-beda. Apa mungkin tiap agama itu setiap pemeluknya akan menuju ke arah afterlife seperti yang di konsepsikan dan digambarkan oleh ajaran agamanya masing2 …?🙄

Islam seperti yang di konsepsikan oleh islam, hindu seperti yang di konsepsikan oleh hindu, kong hucu seperti yang di konsepsikan kong hucu dan sebagainya. Kalau demikian adanya sepertinya tuhan itu masih kekurangan minimal dua nama. Maha ribet dan maha lucu😆 , namun jika memang benar adanya, ada satu nama yg layak kita copot ramai2 yaitu yang dia maha sempurna:mrgreen:

Jadi yang bener itu yang mana duong…?

Biarlah misteri itu akan tetap jadi misteri gak usah kita refot2 mencari tahu soalnya harganya terlalu mahal 😉

Iya kan bang Zal..?

24. zal - 7 September 2008 9:15 am

::Pak Kurt, ada sebuah hadist kudsti yang menyebutkan bahwa dalam mengambil pernyataan dari ciptaannya Allah melakukan dalam beberapa termin, selesai dalam satu termin Allah bertanya siapa AKU siapa kamu, dijawa aku adalah aku kamu adalah kamu, lalu Allah membenamkan lagi ciptaan itu selama 200 tahun, selesainya Allah bertanya dengan pertanyaan serupa hingga timbul jawaban Engkau Tuhanku dan aku hambaMU…, apakah itu sudah berlalu atau sedang berlansung mari kita renungkan…
tentang alam akhiratpun Allah ada menyebutkan bahwa mereka keluar dan memasuki surga itu seperti memasuki rumah sendir…juga dapat direnungkan pula, apakah alam akhirat itu…

::C4ndra, thanks udah mampir, sesungguhnya pandangan itu sama saja, hanya cara penyampaian dan penerjemahannya saja terlihat seperti berbeda, silahkan pula direnungi semua konsep-konsep yang ada, dan jangan mengambil sesuai kebutuhan, namun dapatkanlah kebenaran dari tiap-tiap bentuk..

Sesungguhnya kata Allah pada tiap-tiap ummat ada rasul yang diutus dan Rasul tersebut membawa Al-haq, bukankah Nabi Muhammad juga bersyahadat atas Rasul…???
carilah kebenaran itu sendiri, sebab tiada yang membawa keyakinan kecuali diri sendiri menyadarinya…
Allah Maha Kaya, dan Mengkayakan yang dikehendakiNYA, maka tiada yang mahal…sebab segala tersedia, dengan sendirinya…

kalau cukup sampai pendapat c4adra tersebut.., iya c4ndra benar…🙂

25. santribuntet - 8 September 2008 12:26 am

deep thinking … kurt eheheh😀
iyaa benar hadits itu apakah masuk dalam tahapan kita sekarang ini dimana berproses tengah berjalan?

Akherat apalagi syurga kadag dimaknai taman-taman jadi apakah taman itu adalah syurga dimanakah taman itu dan apakah ayat2 Allah yang mengabarkan tentang syurga juga terkait dengan syurga zaman sekarang?

mari kita renungkan…😀

Pusing pak kepala saya, tapi perenungan itu sangatlah penting di mana kita patut menikmatinya. tapi bagaimana dengan koridor yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw: “tafakkaruu filkholqi walaatafakkaruu filkholiqi, fatahliq.” bertafakurlah dalam urusan makhluq namun bukan urusan Khaliq karena bisa rusak… ”

inilah yang kadang menjadi dilema orang2 kita dalam menangkap leibh jauhisyarat2 Tuhan..😀

26. zal - 8 September 2008 9:39 am

::Pak Kurt, hadist tersebut benar, bertafakkur dalam urusan makhluq, bukan zat, bukankah segala sesuatu makhluq Allah, termasuk huruf, gerak, dsb mungkin kita hanya melihat makhluq adalah dari apa yg kita ketahui berkehidupan,jika Allah mencipta tiada lain bahan dasarnya bukan dari ketiadaan namun dari yang ada, dan Allahlah satu-satunya yang ada tiada yang lain.

Tentang rusak menurut Rasulullah tersebut, dapatkah kita fahami dengan membaca kalimat itu..???, sedangkan maksudnya tersimpan dalam benak Rasul,

Biasanya seorang detektif akan melihat korelasi-korelasi dan mengaitkan satu dengan lain hal untuk menemukan motif, demikian juga kita jika memperbincangkan sesuatu maka kita akan mencoba, memainkan imajinasi kita untuk mendapatkan hubungan pembicaraan dengan aspek yang dituju, baru kita mendapatkan pokok-pokok fikiran.

Demikianlah perumpamaan-perumpamaan, kegelapan membutuhkan cahaya, dan ilmu adalah juga cahaya…disebut cahaya ilmu….

27. sitijenang - 8 September 2008 12:45 pm

numpang nanya nih, kang. kata tafakur sendiri artinya apa sih? kayaknya banyak persepsi juga tuh.
*asli nih gak tahu*

28. Puasa Kembalikan Modal Hidup (2) « SANTRI BUNTET - 8 September 2008 8:10 pm

[…] harga diri kita selama ini. Saya tidak bermaksud meniru psikolog tetapi sekedar meniru kontemplasi Kang Zal yang superberat, sejauhmana harga diri kita di mata manusia dan tentu saja di hadapan […]

29. zal - 9 September 2008 9:07 am

::sitijenang, kalau di kamus, ingrisnya tafakur itu, contemplation/reflective…, saya yakini memang harusnya itu, bukan sekedar berfikir….

30. sitijenang - 9 September 2008 11:03 am

berarti merenung, menyelami relung jiwa lalu berusaha memahami. kalo urusan Tuhan hanya sifat, bukan zat. saya kira kita sepakat. *halah* thx.😎

31. jhon - 10 September 2008 10:25 pm

Ass wr.wb. Salam kenal buat Mas Zal.
Saya sdh cukup sering baca2 blog spt ini. Blog spyn termasuk bagus mas. Saya ada pertanyaan sdkt nih ,as Zal, mudah2an spyn bersedia menjawab ya. Stlh membaca sana sini, anggap saja saya agak sdkt mengerti, tapi msh blm terbuka. ibaratnya, saya seorang anak kecil yg msh buta huruf, sering didongengin buku doraemon oleh kakak saya. Walaupun saya blm bisa baca, tapi saya bisa mengikuti cerita tsb. Masalahnya, kalo kakak saya tdk ada, saya hanya bisa memandang buku tsb, tanpa bisa membacanya, apalagi memahaminya, wong msh buta huruf. Bagaimana cara secara terusterangnya : tehknik utk bisa membaca. Apa ada amalan2 khusus, apa nunggu sampai ‘difahamkan’, spt kata Abah Dhedhot?. Terus terang, saya jadi sdkt kendur/bingung/apatis dng amalan2 yg selama ini saya kerjakan. Dimana amalan2 tsb saya peroleh dari kakak saya yg ‘tengah berjalan’. Dia memahami ttg sejatinya manusia, yaitu jiwa/nafs. Raga hanya kendaraan, sedangkan ruh adalah zat yg ada didlm diri kita yg mempunyai tugas berhub lgsg ke sang Khaliq. Demikian sdkt pertanyaan dari saya, mudah2an sudilah kiranya mas Zal atau mgkn abah Dhedhot memberi pencerahan ke saya.

32. jhon - 10 September 2008 10:28 pm

oh iya…, maaph.., lupa.., terima kasih sebelumnya. Wass wr wb.
(tertunduk malu, sambil keluar ruangan, ngumpet.., sambil harap2 cemas dapat jawaban dari mas/abah) (maaph lagi, gak tau cara ngeluarn emoticonnya, jadi pake bhs tulis gini deh)

33. jhon - 10 September 2008 11:02 pm

Jadi intinya, saya ingin dalam mengucap 2 kalimah syahadat, betul2 tahu, sebab kata2 : “saya bersaksi…”, kok aneh gitu. kapan saya menyaksikan? kalo pake kata ” saya beriman…”, mgkn saya gak pusing2 spt sekarang. Nah.., bgmn cara agar pada saat ngomong “saya bersaksi…”, saya tuh betul2 haqqul yakin/ainul yaqqin dng apa yg saya ucapin. BUkankah kita semua mmg pernah bersaksi? Bgmn cara/tehnik/amalan agar saya dapat penyaksian yg sesungguhnya? kalo jawaban utk ini bersifat sangat personal, mgkn sudilah dijawab di email saya (mgkn). Tks.

34. zal - 12 September 2008 2:17 am

::sitijenang, seumpama kejadiannya sifat juga zat…, yak opo… he…he…,

::Bang Jhon, biarpun abang merendah kayak apa, kalau dasarnya ketinggian…maka pucuknya tetap nongol…, he..he.. Bang Jhon lebih dahulu tahu dari saya tentang apa yang ditanyakan…

Kalau masalah Syahadat, itu, meski engga melihat kayaknya engga masalah Bang…, meskipun kebersaksian dengan ‘ainul yaqiin, mungkin sebaiknya dapat ditempuh bagi hati yang ragu…
dan ALlah juga menetapkan Bahwa Muhammad adalah 1 dengan 2 porsi Nabi dan Rasul, dan kesaksian menurut saya tidak harus selalu rupa/ bentuk, namun dari dapat terhubung dari kepercayaan atas kalimah, yang pada akhirnya menemukan gaya kalimah…

Mungkin hadist riwayat yang menggambarkan Rasulullah bertanya kepada sekelilingnya mengenai siapa yang paling dicintai Allah, Rasulullah/ Nabiullah Muhammad SAW, diujungnya nanti mereka yang jaraknya jauh dariku namun mereka mencintai Allah dan juga kepadaku. dapat menggambarkan tentang keringan tentang saksi pandang atau saksi keyakinan…apa engga gitu bang…??

kurasa, sebaiknya Bang Jhonlah yang memberi pandangan, bukan saya…itu terbalik namanya…🙂

35. kurt - 12 September 2008 7:51 am

Siklus manusia

1. Lahir,
2. Tumbuh,
3. Berkahwin (jika Allah Menjodohkan)
4. Berketurunan (jika point 3 terpenuhi) (yg menimbulkan awal baru dari suatu yg bernama “lahir”), dan,

kalau kita bandingkan dengna siklus makhluk bernama binatang ternyata sama kang Zal. tentu binatang berderajat tinggi. Lebih lanjut, bisa juga dengan tumbuhan.

Sementara jika tujuan yang ingin dicapai adalah hasil. Maka bisa kita lihat padi yang tumbuh, semuanya ditanam disiram dirawat, namun saat panen, maka si petani akan mengambil yang bagus-bagus saja. sementara yang jeleknya (padi yang tak berisi) akan dtinggalkan dan dibiarkan dimakan tanah menjadi penyubur.

Lalu saya berpikir, mungkinkah siklus manusia itu juga seperti tanaman padi. Ia ditandur, kemudian dirawat, diairi, lalu dibajak sawahnya dan terus diikuti perkembangannya. Saatnya panen si padi akan dipungut dan hanya yang berisi saja yang akan menjadi manfaat, sementara yang gabug (tak berisi) akan forgetted.

Saya dan kita semua tentu ingin agar menjadi padi yang berisi dan bermanfaat bagi petani.😀 heheh … bagaimana kang Zal?

36. zal - 13 September 2008 6:11 am

::pancen kyai…, nah tuh Pak Kurt sudah membaca umpama… siiip🙂

37. sitijenang - 16 September 2008 7:47 am

saya ada kutipan suluk wujil tuh, kang. coba liat deh… katanya bikinan sunan bonang.

38. joyo - 19 September 2008 5:57 am

weh dah lama gak sowan…
klo saya ni Ki…
Pengabdian itu ya menjalani hidup ini sebaik2nya, dan yg baik itu ukurannya adalah the golden rule, tidak menyakiti diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
(sok tau :D)

39. sufimuda - 22 September 2008 10:13 pm

mmm… bagus nya kita tanya ama Tuhan aja ya, pasti ada jawabannya🙂

40. zal - 23 September 2008 2:41 pm

::Joyo,..kefahaman saya juga mengatakan demikian, sebab bergeraknya tubuh adalah suatu gerak dari Sang Maha Bergerak, sedangkan fikiran bisa berkeinginan lain, yang menimbulkan ketidaksingkronan, yang bisa jadi inilah yang disebut perlawanan, kalau sudah menjadari sumber gerak, lalu mengaku-ngaku perbuatannya inilah yang disebut pengingkaran.

::sufimuda, ya..yok temui Tuhan, dan Bertanya, sebab DIA Yang Maha Tahu…, namun kalau sudah Sami’na apakah lantas bisa bersambut dengan Atho’na…ya…

41. wibowo - 25 September 2008 11:15 pm

tetep tidak terjawab…
kenapa manusia dicipta?

42. zal - 27 September 2008 10:23 am

::wibowo, ya tak berjawab pada blog ini ya…😉

43. Rindu - 29 September 2008 9:29 am

satu pertanyaan yang bikin males mudik “jadi kapan De?”

Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah🙂

Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Rindu [a.k.a -Ade-]

44. zal - 30 September 2008 12:17 am

::emang udiknya ade dimana…???,
Taqobbalallahu minna waminkuum, syiamana syamakum, maaf terhatur salam…amiin

45. fauzansigma - 2 Oktober 2008 11:37 am

siklus.. itu berarti rutinittas…

46. fauzansigma - 2 Oktober 2008 11:39 am

oh iyah.. maafkan lahir dan batin

47. mujahidahwanita - 6 Oktober 2008 10:47 pm

Assalam mualaikum Wr,Wb

kenapa manusia dicipta?

Kalau manusia tidak di ciptakan siapa yang bakalan membesarkan nama-Nya?
untuk itulah manusia di ciptakan, untuk menyaksikan bahwasannya tuhan itu ada, dan untuk membesarkan nama-Nya

Maaf tanpa maksud mendahului bang Zal

Wassalam

48. zal - 16 Oktober 2008 4:35 am

::fauzansigma, kalau hanya berjalan seperti itu, artinya mungkin melakukan kebiasaan-kebiasaan yang ada, sedang Allah melakukan sesuatu tidak dengan sia-sia kan…??, “mereka yang merenungi CiptaanKU berkata sungguh tiada yang sia-sia ..”, kayaknya yang melepaskan dari kebiasaan harus melalu penatapan dan perenungan serta menindakinya…

::sama-sama…

mujahidwanita, he..he… apakah Allah kehilangan keagunganNYA tanpa pengagungan manusia, pada saat penciptaan manusia Malaikat berkata kepada Allah, bukankah kami selalu bersujud dan membesarkan namaMU..”, sepertinya Allah juga Maha Pesolek kan…
mobil saja ada salonnya. kan..🙂

49. Rebecca Donaldson Makopuva - 14 Mei 2012 6:39 am

tapi kami masih bertahan hingga kini sebabnya masing2 sayang antara satu sama lain walaupun hubungan kami sekarang ibarat sudah mati .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: