jump to navigation

@abahdedhot dalam episode kefahaman “benar” / “salah” 17 Mei 2008 7:06 pm

Posted by zal in Yang direnungkan.
trackback

Seorang yang kalau Allah perkenankan aku mengambil seorang sahabat, termasuk dalam kriteria yang aku senang jika Beliau menjadi sahabatku, menuliskan dalam ruang comment salah satu postingan ”disini” seperti ini :

 

NABI-NABI ALLAH… Telah terFAHAMkan betul dengan “lakon” yang diperjalankannya dalam kehidupan. Nyata, terang, jalas tidak tersamar dalam pengamatan pribadinya.
“Benar” dan “salah” adalah unsur hukum, satu paket yang melekat pada perannya sebagai manusia, selayaknya manusia. Paket ini amat sangat diFAHAMinya, ini hanya sekedar “lakon”, tanpa membias kepada sejati pribadinya, RASULULLAH.
Dudukan AKHLAQ dengan tepat, amati bahwa RASULULLAH melekat dengan sifat SIDIQ, AMANAH, FATONAH dan TABLIGH, jangan bergeser dari AQIDAH ini, saksikan dengan senyata-nyatanya penyaksian.
Kisah TAFSIR yang diceritakan, bermakna “pembenaran” atas dalil kemanusiaannya dan kenabiannya. Bila kisah ini tidak di paparkan, maka “peran” sebagai “manusia biasa” (Bashariah Rasulullah) tidak ada pengesahannya. Beliau akan sejajar dengan para malaikat yang statis dalam predikat “benar” yang disandangnya. Bila kisah ini tidak di paparkan, maka “kenabiannya” (yang dianugerahi link access super cepat dengan “BIG BOSS”, sehingga langsung ada “koreksi” dari ke”salah”an manusianya) tidak ada pengesahannya.

“Benar” dan “salah”nya bukan untuk ditiru, bukan untuk dijadikan “pembenaran” saat kita melakonkan “kebenaran” ataupun “kesalahan”.
Kita yang belum terFAHAMkan, kita yang masih mempunyai perasaan “memiliki”, selayaknya senantiasa berharap untuk dianugerahi “keberuntungan”, sehingga terFAHAMkan, eling (dan selaras dengan pola fikir dan salik para NABIALLAH), bahwa kehidupan ini hanya sekedar “lakon” yang sedang digelar, tidak digengggam oleh perasaan eksistensi.

 

Beginilah jika Beliau jika sedang berada pada alam ”kemelinduran”, lihatlah, rangkaian cerita yang tak bertautan, bergerak dan mengalir begitu saja.

 

Entah mengapa, saya merasa ini ”harus” saya jadikan postingan sebagai penyampaian maksud apa yang tersyirat dari apa yang disampaikan Beliau  , mungkin maksudnya agar saya memahami dari apa yang akan saya tulis nantinya, jika demikian maka saya serahkan saja tangan saya dan fikiran serta unsur-unsur pendukungnya berkolaborasi memahamkan saya dari maksud yang ada…

 

Yok kita mulai…

 

Para Nabiullah adalah manusia yang diberikan kefahaman mengenai maksud hidup dan tujuan hidup ini, dan melakoninya secara terang, nyata dan tiada yang tersamar pada pandangannya…

Hidup, adalah sesuatu pemberian dari Sang Maha Hidup ( Al-Hayyat), dengan keadaan ini maka adanya Alam, dengan segala atributnya termasuk didalamnya Manusia, dari keberadaan inilah mulailah melekat perjalanan waktu bagi makhluq hidup, dengan keberadaan ini pula tersandanglah pada yang hidup, aspek-aspek tujuan hidup yang harus diraih, aspek-aspek ini, berupa kode-kode yang tergambar sebagai arah untuk menggapai tujuan hidup dimaksud,

Kode-kode ini seperti sebuah program computer dimana ditempatkannya bentuk-bentuk yang dapat dikenali seperti makhluq, hewan, tumbuhan, langit, bintang bulan, matahari, laki-laki, perempuan, harta, ilmu, dan lain sebagainya inilah kesadaran yang ada pada makhluq, termasuk pada manusia,

dari kesadaran ini, mulailah manusia meresponnya dengan menetapkan pada dirinya pemahaman-pemahaman yang terus berjenjang mulai dari ”pemahaman rendah” sampai dengan ”pemahaman tinggi”.

Dalam pemahaman rendah, bentuk-bentuk parsial berkembang menjadi suatu bentuk seumpama kalimat singkat, misalnya dari kode Alam, maka tergambar bahwa alam itu adalah segala sesuatu yang tampak, ada matahari, bulan, langit, pepohonan, gunung-gunung lautan dan daratan… pemahaman ini akan tetap parsial dan belum terhubung satu dengan lainnya…

Lalu berkembang lagi, Alam tampak menjadi berbagi dengan alam tak tampak, namun juga masih parsial, dan dalam bentuk seperti alam tampak pada level pertama, yaitu adanya alam tak tampak, dimana diyakini sebagian orang, alam ini dihuni oleh makhluq-makhluq yang halus…

Berlanjut lagi, alam semakin berkemang dan mulai menyatu, dimana pada alam nyata, seperti manusia, melekat alam bentuk dan alam ghaib, dimana terbaginya ada bentuk kasar manusia dan ada bentuk halusnya yaitu bentuk fisik dan yang menjiwainya, ada alat berfikir yang alatnya fisiknya disebut otak, dan bentuk non fisiknya adalah fikiran, maka disini terjadilah pembagian alam bentuk dan alam fikiran dari satu terbagi menjadi banyak, dan dari banyak mulai disadari dalam satu kesatuan.

Dan berproses terus sehingga pada ujungnya akan tersadari suatu hal, bahwa segala sesuatu hanyalah suatu media saja, tidak lebih dari itu…sampai dengan proses ini, maka makhluq akan mengalami ketundukan secara mutlaq, keberserahan diri tanpa reverse pada Kehendak mutlaq yang amat sangat disadari dengan fenomena-fenomena yang amat jelas dalam pandangan dimana ”Yang Melihat” dgn ”Yang Dilihat” saling memandang, pada apapun, dan pada keadaan apapun…..

 

Pada perjalanan proses menjalani hidup ini, tersandanglah ”salah” / ”benar” yang sebenarnya dalam satu paket, dimana jika terlihat salah maka terpandanglah benar, demikian pula sebaliknya.

 

Abah dehot memisahkan Nabiullah sebagai satu sebutan, dan Rasulullah pada sebutan lain, mengapa demikian…yuk kita amati yuk…

 

Adalah seorang Nabiullah Muhammad SAW, mengajarkan pada ummat Beliau bersyahadat dalam bacaan sembahyang, yang isinya berbunyi ”asyhadu Alla ilaha Ilallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah” …lho..!!!😯 apa Nabi Muhammad SAW, demikian narsis, sehingga bahkan Beliau sendiri tentunya mengucapkan kalimat seperti ini kan jika shalat…, …ya…enggak mungkinlah…Beliau narsiskan…, ya Beliau secara fisik manusianya ya Nabiullah… ”akulah penutup para nabi, setelah aku tidak ada lagi nabi, aku ibarat sebuah bangunan, dimana salah satu sisinya jika ditutup akan membuat indah bangunan itu, itulah aku” nah ya kan… Muhammad SAW itu nabi…

 

Lalu yang Rasul yang mana..dan Beliau ini yang melekat padanya Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh itu…, dan ini pula yang disuruh diperhatikan kata abah dedhot saat ”mlindurnya”

Salah satu ayat di AQ 7: 158. Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan  selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”    

Dari ayat diatas sudah terlihat belum ya, terpisahnya Rasul-NYA dengan Nabi yang ummi, belum ya…cari lagi ya…

Satu lagi dari AQ 7: 35. Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak  mereka bersedih hati.

Masih bias juga…ya…

Coba yang ini ya…AQ 6: 9. Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan  tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri

 

Nah…kayaknya 3 ayat, cukuplah ya….

 

Rasul ini, mempunyai fungsi, menyampaikan, dan membacakan ayat-ayat, mengajarkan kitab dan hikmah serta mensucikan…(uupps malah lebih Tinggi dari yang dikira…)

 

AQ 2: 129. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab  dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

 

AQ 2 : 151. Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui

 

AQ 62 : 2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,  (wuiih..sampe segitunya ya…)

 

AQ 65 : 11. Seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

 

AQ 23 : 105. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya. (ah yang ini, pasti kerjaan orang-orng yang disono-sono…, bukan disini, kalau disini kayaknya sudah pada hafal….lihat aja, mana ada yang ngejelekin orang yang sefaham…, engga ada yang menghancurkan mesjid dari orang yg tidak sefaham, engga ada juga yang ngerusakin rumah bordil, itukan tugas Tibmas…)

 

AQ 23 : 66. Sesungguhnya ayat-ayatKu selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang…(lho disini ngga ada lho…ya..kan ..ya…)

 

Menurut hasil ”mlindurnya” abah dedhot disebutkan : “Benar” dan “salah”nya bukan untuk ditiru, bukan untuk dijadikan “pembenaran” saat kita melakonkan “kebenaran” ataupun “kesalahan”.


Kita yang belum terFAHAMkan, kita yang masih mempunyai perasaan “memiliki”, selayaknya senantiasa berharap untuk dianugerahi “keberuntungan”, sehingga terFAHAMkan. Ya..ini sejalan juga dengan bagiku agamaku, bagimu agamamu…bukan lantas menyama-nyamakan..kayaknya gitu nich…

 

AQ 27 : 92. Dan supaya aku membacakan Al Qura. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.

 

Nah kayaknya udah cukup banyak nih, mamerin ayat-ayat…yang percaya..silahken…yang engga percaya…ya silahken…

Sorry ya…saya engga pandai ngulas ayat, mungkin sebaiknya mengalir begitu aja…pada diri masing-masing….ah…akhirnya selesai juga…🙂

Komentar»

1. danalingga - 17 Mei 2008 8:10 pm

Tumben ayat-ayat ditebar gini zal.😛

Nah, saya jadi tertarik mengenai rasul ini zal. Boleh lebih dijelaskan:

1. Apa rasul ini tetap akan ada sampai sekarang?
2. Apa berarti fungsi rasul adalah membuat kita menjadi faham akan ayat-ayat?
3. Apa dan bagaimanakah rupa dari rasul ini?
4. Apa orang mungkin menjadi rasul bagi dirinya sendiri?

Segitu saja dulu zal. Ditunggu lindurannya.:mrgreen:

2. danalingga - 17 Mei 2008 8:14 pm

Nah kayaknya udah cukup banyak nih, mamerin ayat-ayat…yang percaya..silahken…yang engga percaya…ya silahken…

Sorry ya…saya engga pandai ngulas ayat,

Waduh, baru sadar saya ada peringatan gini zal. Kira-kira pertanyaan saya diatas dibolehkan nggak ya?🙄

3. Aryo Bandoro - 18 Mei 2008 8:25 am

Permisi, mo numpang photoq

4. zal - 18 Mei 2008 9:33 am

::he…he. dan kayak sekolahan ya…
Jawaban :
1. Kalau Rasul ya, itu sunatullah,
2. Pasti, Dan, hanya saja, perlu baca untuk dibacakan, dan mungkin bisa jadi hampir tak percaya, sebab ternyata sebelumnya sudah pernah, bahkan sering kita lakukan, bedanya ini sangat sadar, sedang sebelumnya dipandang biasa.
3. Kamu pasti sangat-sangat kenal dengannya, jika tidak engga mungkin dipercaya🙂
4. enggak usah kujawab :mrgreen:

5. Rindu - 19 Mei 2008 12:16 am

Serasa lagi membaca materi kuliah … panjang dan lebar ini tulisan🙂 bagus isinya.

6. zal - 19 Mei 2008 6:41 am

::yap bagus sekali, sampai saya sendiri bingung membacanya, jadinya saya edit lagi biar gampang membacanya…🙂
thanks ya… De, sudah berkunjung…

7. qzink666 - 19 Mei 2008 8:35 am

kebanyakan ayat, om… pusyiiiiiing..
sekarang beralih profesi jadi makelar ayat yak?🙂
*kabuuur tunggang langgang*

8. Santri Gundhul - 19 Mei 2008 8:55 am

Biyuh..biyuh…Kakang- Zal MENEBAR CAHAYA diatas CAHAYA rek..rek..

Sik…sik…arep takon kang, kalimat sampeyan di bawah ini maksudne kepiye…??
Rasul ini, mempunyai fungsi, menyampaikan, dan membacakan ayat-ayat, mengajarkan kitab dan hikmah serta mensucikan…(uupps malah lebih Tinggi dari yang dikira…).

RASUL kuwi sejating Menungso, opo ISI sing manggon neng SAJRONING manungso…??. Anggep waelah Menungso sing tak maksud misalne Muhammad bin Abdullah.
Cekak aose Hakekate RASUL apakah = Muhammad bin Abdullah…??.

Wis iki dhisik pitakonku Kang, nek wis SINKRON dilanjut meneh. Kita samakan dulu PERSEPSI tentang RASUL…

Ngglesod….lungguh silo, mandeng Kang Zal.

9. zal - 19 Mei 2008 11:01 am

::qzink666, wah..koq jadi merah monitorku…🙂
woi mangcek makmano tak ayat yg ditebar, karena cuma ini buku bersama…🙂 kalau buku yang lain, engga banyak pembacanya…, jadi kemungkinan sefaham agak sulit, katokanlah ini bahaso awak..

::lho cak, iki kan wes biasa di baca “Asyhadu Alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna muhammdarrasulullah”… lha Muhammad Bin Abdullah, bersaksi ambek sopo to…dan ambek opo ra opo ra…
siaah panjenenagan iki, mosok perlu takon tah…🙂..

10. Santri Gundhul - 19 Mei 2008 5:46 pm

Wes..COCOK tenan, sengaja aku takon koyo mengkono Kang. Supoyo para pembaca yang budiman di bolog sampeyan ki ora KLADUK pemahamane tengan HAKEKAT ” SYAHADAD ” Persaksian antara SIAPA yang DISAKSIKAN dan siapa yang MENYAKSIKAN. Jujur saja selama ini masih berkembang bahwa RASUL masih dipahami sebagai Muhammad bin Abdullah. Ketika kita masih memahami RASUL dalam wujud badan kasar JASMANI, maka ayat-ayat yang sampeyan nukilkan di atas akan menjadi GUGUR. Kasarnya AL QURAN sudah tidak bisa lagi berlaku bagi manusia pada jaman setelah Muhammad bin Abdullah meninggal. Kenapa…?? loh kan gak akan ada yang MENGAPLIKASIKAN ayat-ayat yang sampeyan cuplik tadi…?? Aku jadi teringat 3 hal tentang Syahadad ini Kang
1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna).

Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”.

Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.

Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama..

Wis…wis…
Pancen sampeyan wis pantes dadi menungso PENCERAH Kang,

Mundhuk-mundhuk…Sungkem karo wong tuwo…ben gak KWALAT.

11. zal - 20 Mei 2008 11:12 am

::Yo, reneb cak, sebagaimana Allah katakan, “bukankah telah Kami bacakan AQ itu untukmu…”, “Kami jadikan kamu bisa membaca sehingga tidak lupa..”.
Sejatinya AQ tidak lagi dibaca lewat pandangan mata dan diucapkan lewat mulut, namun AQ terpampang dalam pandangan non material, terpampang dan difahamkan…, inilah Yaa siin, dan Alif Lam ra,
syahadat yg diajarkan Nabi Muhammad SAW, dimana Beliau juga mengucapkan syahadat yang sama, adalah cara Beliau mengajarkan dengan cara mensinyalkan adanya keadaan yang diucapkan, namun sayangnya dahulu hal ini hanya disampaikan kepada yang khusus saja, sebagaimana ungkapan Abu Hurayrah, “kepadaku disampaikan 2 hal, pertama untuk disampaikan kepada umum, yang kedua jika kusampaikan, maka aku akan dipenggal….”
dan sekarang, jika kita lihat fenomena dimana sex, kalau dahulu hanya dikonsumsi oleh orang yg sudah dewasa, saat ini anak-anakpun sudah ditanamkan pada jiwanya akan ketertarikan lawan jenis…, apakah ini kebobrokan moral, atau mengajarkan Annuur 21.
lebih dini..kepada jiwa…

12. tentang Al Qur’an « nurma rachman - 22 Mei 2008 6:40 am

[…] sebuah tanggapan pada 2 postingan yg ‘menyentuh’ku belakangan ini.. post yang ini dan yang itu. Terharu aku baca postingannya (maksudnya, saking gak ngertinya gitu ) berikut komen2 di dalamnya […]

13. abahdedhot - 23 Mei 2008 10:20 am

@Mas Zal
Allah sudah berkenan… Sahabat, karena “RASA senang” sudah sampai kepada Abah sebelumnya, dan setelah dikalimatkanNYA… sempurna sudah RASA senang itu.

Abah setuju sama mas santri G… cahaya diatas cahaya… apa di dalam cahaya…???😆

salam

14. adi isa - 25 Mei 2008 8:33 pm

rasanya kita nggak mungkin lagi ketemu dengan yang namanya rasul atau nabi.
tapi kita mungkin bisa melihat pribadi orang lain yang seperti nabi dan rasul. bukankah ilmu tuhan maha luas?
apa yang tidak mungkin menjadi mungkin oleh tuhan.

15. zal - 25 Mei 2008 10:46 pm

::Abah, Alhamdulillahirobbil’alamiin…
saya engga pake setuju-setujuan, dan bukan oleh saya juga…🙂

::mas adi isa, tks, udah mampir…, apa yang kita fikir tidak ada, mungkin hanya berkisar pada belum ditahukan saja,
Jika Nabi Muhammad SAW, memang merupakan Nabi terakhir, sebab Beliau mengkhabarkannya, “aku adalah penutup segala nabi, aku seumpama bangunan dimana jika satu sisi itu ditutup maka bangunan itu menjadi lengkap, itulah aku”,
namun untuk Rasul, dalam Syahadat, Beliau bersaksi dengan Syahadat Tauhid, dan Syahadat Rasul,…Untuk syahadat Tauhid, memang Allah dipersaksikan Beliau, nah Syahadat Rasul bagaimana persaksiannya, sedang Beliau juga tidak terluput dari rukun Iman kan….yang harus percaya kepada Rasul Allah…

16. abahdedhot - 27 Mei 2008 8:08 am

@ma zal
Mungkin pak Kyai Zal… belum diingatkanNYA, sama TAFSIR yang satu ini… kayanya yang “ini” lebih… anu…. :
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbi kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. Al Fath : 8-9).

Lebih teramati… ADA :
1. Kami (ALLAH).
2. Rasul – Nya.
3. Kamu ( ? ).

Setuju teu…??? ( dipaksa, kudu setuju wae… ):mrgreen:

salam

17. zal - 27 Mei 2008 10:50 am

::very-very setuju atuh Abah…, ini memang sesungguhnya keadaan.., penyaksi…yah…penyaksi…syahadat…tiada berbuat apapun, hanya penyaksi…ahh…inilah kamu ku…

18. razuka - 29 Mei 2008 5:00 am

abah..
numpang…..aku disenggol sengol dong, boleh kasih sesuatu ga??
yang itu tu……….
lain kali aja ach bah, aku lagi ngga mud

19. ningrum - 29 Mei 2008 11:28 pm

Ada baiknya hati-hati sam dengan provokasi:-)
Kebenaran dan Kesalahan adalah relatif, tergantung siapa dan apa yang digunakan dalam menilai. Agar berkesimpulan sama jadi harus ada kesepakan nilai apa yang kita gunakan dalam menilai benar atau salah itu *keknya gitu sam*

20. penggoda80 - 30 Mei 2008 4:05 am

@ningrum
tidak ada dasarnya anda mengatakan kesalahan dan kebenaran adalah relatif, coba jelaskan perspektif salah dan benar dengan teori relatifitasmu!

saya ingin tau sedalam apa hal itu engkau ketahui saat kamu memberi pandangan, agar kita dapat memahami DIRI.
-salam-

21. penggoda80 - 30 Mei 2008 4:13 am

@santri gundul
” dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan”

bukankah dalam melakukan semua perbuatan bahwa DIA-lah yang nyuruh??? karena tampa dia bisa ape kite bang Dul??

22. zal - 30 Mei 2008 5:32 am

::mbak Ningrum, sesungguhnya Allah Maha memprovok, sebab ada hal yang harusnya “bangkit”…he..he..kayak puisinya dedi mizwar..
kalau secara saya, lebih baik tidak menterminasi pendapat dengan relatif, untuk ujar-ujar dunia sich boleh-boleh saja, untuk pribadi padangan harus pasti, sebab samar hanya menimbulkan kegelisahan.., nilai benar sesungguhnya “Al-Qur’a terang pada hati”, namun sekali lagi ini bagi pribadi, sebab benar saya untuk saya, benar mbak ningrum bagi mbak ningrum…,

ya..mungkin untuk relatif, pada hukum relativitas, sebagai umpama hidayah dengan penerimanya…,

::penggoda80, biarkan Sang Penilai yang menilai, jika boleh ya….

::mengapa harus merasa diawasi, bukankah Dia selalu tampak pada apapun, jika engga nampak dengan apa kita faham…

23. Faubell - 30 Mei 2008 5:44 am

wuih penggoda80 memang berada dimana2.

@penggoda80
Sampeyan dikasih energi untuk mencerahkan tapi sampeyan gunakan untuk nyerang. Siapa yang nggak sadar…
*kabur…berani protes pada suhu*

24. penggoda80 - 30 Mei 2008 6:31 am

@ faubell
saya tidaklah pantes jadi suhu..hiks..hiks…hiks, malu pada pribadi.
saya mah kan orang nista…gobal gabel demi cari sesuap nasi ga bisa apa2 cuma bisanya memikat dengan segala kelemahan pada diri, barangkali dosa sudah bejibun * bila ada yang anggap saya berdosa*

saya hanya ingin coba berusaha untuk lebih menggaris bawahi bahwa kebenaran itu hukumnya mutlak! tapi saya adalah manusia juga, kadang teori penyampaiannya tidak arif dan bijak seperti bang Zal, pak Abah, bang santri atau saudaraku yang lain yang belum sempat di senggol pake * ……….itutu…………….*

mohon maaf bila ada silaf kata karena kesalah bukan semata mata ingin saya lakukan tapi….*…..ga ach * malu ngerayau terus.
-salam-

25. penggoda80 - 30 Mei 2008 6:50 am

@Zal
bang…maaaaaaaaaf, * cilingak cilinguk..menghilang *

26. indera keenam - 1 Juni 2008 10:08 pm

Kepada YTH,
DETASEMEN 88 ANTI TERORIS
Di Tempat

Saya melaporkan bahwa ada suatu gerakan teroris yang sangat membahayakan jiwa masyarakat umum dan keamanan secara umum.
Kelompok teroris tersebut bernama FPI atau disingkat dengan FRONT PEMBELA ISLAM, adalah suatu kelompok teroris yang setiap saat bisa membunuh siapa saja.
Mohon segera diproses secara hukum, kelompok teroris tersebut segera dibubarkan, serta para anggota yang diidentifikasi ikut di dalamnya untuk segera dilakukan penangkapan dengan segera.

Indonesia, 2 Juni 2008.

27. akmalhasan - 1 Juni 2008 11:49 pm

kutipan abahdedhot dan ulasannya nyamleng tenan.
kedengarannya seperti kata-kata dari kedalaman nafas dan hati yang tidak datang hanya dari penafsiran tekstual tapi dari pemahaman yang ter-“bangkit”-kan dari buah laku kehidupan dan selarasnya niat-pikir-rasa-perbuatan.

Ayo Indonesia, Bangkit!

Trims & salam kenal

28. sitijenang - 7 Juni 2008 2:28 am

gimana dengan: salah-benar karena pilihan dgn penuh kesadaran. di sisi lain, salah-benar karena dipilihkan atau skenario Tunggal. ada juga salah-benar karena pelajaran dan pembelajaran. katanya juga ada lagi salah-benar karena tuntutan peran. wah… kok banyak bener nih😀

29. zal - 7 Juni 2008 11:52 am

::akmalhasan, yap Indonesia bangkit….tks saudah mampir..🙂

::sitijenang, wah panjenengan nagendi wae blog ora tau di update…
salah beneripun, pada pandangan manusia, koyoke, menjadi sesuatu yang differently, mungkin untuk membedakan rasa a dengan rasa b, pada mulanya, namun pada hakikatnya salah saja sudah benar, apalagi benarnya…🙂

30. sitijenang - 8 Juni 2008 5:17 am

abis sok sibuk nih… nguru rumah, kerjaan, anak, dll. lagian belom ada inspirasi nulis lagi (ceh elah)..😀

kalo pemahaman jawa kan ada bener (benar) ada pener (tepat). sering ada yg bilang, “ya kuwi bener, nanging durung pener..” lha kalo itu bigimana lagi?😀

31. zal - 8 Juni 2008 6:28 am

::he..he..he..pasti sing ngomong kui, pandangane luwih duwur, ketimbang sing diomongi, sehingga dapat melihat yang lebih tepat dari kesimpangsiuran kebenaran yang bertebaran, dan bisa jadi pada periode berikutnya, ketepatan akan berubah lagi….

32. sitijenang - 8 Juni 2008 7:20 am

ya ya ya… seperti orang bilang bumi datar. setelah liat dari luar angkasa ternyata bulat. lebih jauh lagi liatnya, ternyata bumi hanya bagian dari salah satu sistem tata surya. lebih jauh lagi tata surya adalah bagian dari galaksi dst. gak tahunya semua bener…😀

33. irdix - 8 Juni 2008 11:57 pm

kebenaran yang disalahkan.. ato kesalahan yang dibenarkan ?
jah.. apa pula itu ?

34. zal - 10 Juni 2008 8:32 am

::sitijenang, lha lek ngono wes pener kui .. ??? 😉

::dix, yah kedua-duanya digunakan untuk njelimeti.. he..he…

35. joyo ga login - 10 Juni 2008 12:45 pm

wah gak mudeng

*balik ke meja nerusin mbaca Alam😀

36. zal - 10 Juni 2008 11:04 pm

:: wah mosok gak mudenga, canda wae penjenengan meniko… lha itu baca Alif Lam Mim…nopo…🙂

37. Santri Gundhul - 15 Juni 2008 1:04 am

Kang Dana,
Aku mo pamit dulu dari pergulatan di dunia MAYA ini. Ada PEARJALANAN yang harus aku selesaikan Kang.
Sepurone nek ono tindak-tandukku sing KURANG AJAR karo sampeyan yoh Kang..??.

Nuwun..lanjut dan terusin olehmu MBABAR KAWERUH ” ASAH, ASIH lan ASUH ” karo sapodho-padhane makhluk yoh Kang.

Wuuuuuuzzz…Plaaaaaaaazzz..Plaaaaaaaazzzz…

38. Santri Gundhul - 15 Juni 2008 1:05 am

Wuehhhh…salah sebut Kang ( maksudku ) Kang ZAL..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: