jump to navigation

Mau Jadi Orang Beruntung atau Pandai…??? 1 Februari 2008 6:11 pm

Posted by zal in Yang dialamikan, Yang direnungkan.
trackback

Seorang temanku bertanya kepadaku, jika ada pilihan bagi kita, mau jadi orang beruntung atau menjadi orang pandai yang mana yang dipilih…???, lalu aku balik bertanya, kalau kamu memilih yang mana…???..
Lalu dia menjawab, “kalau boleh memilih, aku memilih menjadi orang pandai, sebab orang pandai tahu apa yang dia lakukan dan kepandaian akan abadi, sedangkan orang beruntung, bisa jadi tidak mengetahui apa yang terjadi padanya, hanya peruntungan saja yang memihak hanya suatu kebetulan, dan itu tidak abadi…???

Lalu berlansunglah dialog….

Aku : “kefahamanku mengatakan tidak ada yang kebetulan, jadi aku memilih menjadi orang beruntung saja..”

Temanku : “mengapa tidak ada kebetulan…”

Aku : “karena menurut kefahamanku, yang terlihat segala sesuatu, salah satunya seperti permainan sepak bola, ada yang bermain dan bergerak dengan gerak bayangan (shadow moving) ada pengumpanan, sehingga selalu ada yang membawa bola…”

Temanku : ……… (menatapku…)

Aku : “segala sesuatu, dalam keteraturan, misalnya tentang kelahiran, dalam setting rencana sudah dibangun pola/ design tentang segala sesuatu tujuan penciptaan, seperi membangun suatu aplikasi program, dimana segala sesuatu, mulai dari untuk tujuan “apa” aplikasi dibangun, table “apa” saja yg diperlukan, “mengapa” diperlukannya hal-hal tersebut, “dimana” akan ditempatkan button/ knopnya, “dimana” akan diletakkannya masing table, “siapa” pengguna masing-masing otorisasi, “bagaimana” proses kerja yg diharapkan, “bagaimana” tampilannya, “bagaimana” pembagian otorisasi aplikasi, segala detail pembangunan aplikasi dicatat, dicermati, sehingga tidak ada kecacatan lagi,

Dan uji coba – uji coba akan membuat aplikasi ini akan menjadi sempurna.

Demikian lah pembangunan segala sesuatu termasuk kita ini.

Temanku : “saya koq belum menemukan hubungnnya dengan tidak adanya kebetulan…”

Aku : “baik, menurut kamu apakah seorang Muhammad Bin Abdullah, secara kebetulan menjadi Nabi sekaligus Rasul, apakah ada alasan tertentu sehingga Beliau memilih berdiam beberapa waktu di goa hira’ , apakah ada kisah yang lain di lingkungannya melakukan hal sama, atau apa sajalah yang terkait sebagai suatu sebab mengapa Beliau akhirnya menjadi manusia terpilih, apa lantaran dari kecilnya sudah yatim-piatu,  padahal kalau itu saja, banyak yang mengalaminya, coba dicari dan temukan sebab akibat adanya kenabian diberikan kepada Beliau…

ada sebuah riwayat yang sering disebut -sebut “bahwa pada saat hendak diciptakan makhluk maka malaikat bertanya kepada Allah, tentang apakah jadi diciptakan makliuk tersebut, kapan waktunya, bagaiman bentuk, rezeki serta segala sesuatu yang terkait dengan penciptaan makhluk tersebut.

Temanku : “lalu apa hubungannya dengan keberuntungan…”

Aku : “tadi kan kamu sebut bahwa keberuntungan itu, bisa jadi bentuk kebetulan, nah… aku katakan kefahamanku mengatakan tidak ada yang kebetulan”
Allah berkata “berpeganglah pada tali Allah”, mungkin banyak sekali persepsi jika hal ini disebut, misalnya tali itu adalah menjaga silaturrahim, ya itu betul…,

kefahamanku mengatakan bahwa Tali Allah itu, ya seperti tali yang terjulur, coba bayangkan misalnya kita memegang tali itu, dan diujung lain tali itu ada yang tergantung, maka kita akan menempatkannya sesuka kita, kemanapun kita maka yang tergantung tersebut ikut, yang tergantung itupun akan tahu apa saja gerakan kita, apapun yang kita lakukan karena dia ikut dengan berpegang pada tali tersebut. Nah jika kita ini kaya raya, dermawan, berkuasa dll, maka amat beruntunglah yang berpegang pada tali tersebut itulah yang dikatakan kefahamanku. Maka aku berujar, kalau aku memilih menjadi orang beruntung..🙂

he..he…sebenarnya aku ngga milih…, kalau kamu bagimana,..pilih menjadi orang beruntung..atau..pandai…:mrgreen:

Komentar»

1. danalingga - 1 Februari 2008 8:42 pm

Ah, semua itu kan karna dah karma, bukan kebetulan. *siyul siyul*

2. zal - 1 Februari 2008 10:33 pm

::yupe, karma inilah salah satu bentuk perkawinan itu Dan, kan ini tidak ditemukan dalam Ajaran diluar Buddha, Buddha lah yg dipertemukan dengan hal ini, cuma akan sulit bagi manusia untuk bersikap adil, sebab adanya gayutan “kecondongan” pada fikiran, sehingga akan terjadi sepenggal-sepenggal, padahal kan harus kaffah, bila tak mempu..boleh menggunakan yang jika fikiran kita mau minum maka bergeraklah seluruh organ menuju minum, padahal kita cuma berfikir mau minum, dia ini juga terhubung dengan induk semang…, cuma entekan sudah berada dalam puting beliung…, tinggal ngikut aja…dibawa kemana..puting beliungnya koq yg ngantemin….kita engga ikut-ikut..😆 *puting beliungnya siul-siul*

3. Cabe Rawit - 2 Februari 2008 4:32 am

Assalaamu ‘alaikum bang..
Ane bakalan lebih memilih pandai daripada beruntung. KArena kepandaian membuka jalan keberuntungan. Kalaupun ada orang yang beruntung tanpa kepandaian, kasusnya hanya sesekali. Misalnya, orang yang kagak belajar, kagak pinter, dan kagak punya persiapan ikutan SPMB, dibandingkan sama orang yang memang punya persiapan dengan belajar ditambah pinter, secara umum dapat dipastiin kalo yang kedua akan lebih banyak berhasil. Adapun yang pertama, kebanyakan tumbang alias kagak lulus. Kalo ada yang lulus, itu anak beruntung…

Menurut ane, beruntung dan berhasil sama, tapi beda derajat. Lebih tinggi derajat berhasil daripada beruntung. Keberuntungan kadang tidak memerlukan usaha, pengorbanan bahkan dengan diem aja orang bisa dapat keberuntungan. Berbeda dengan status berhasil. Upaya buat mencapainya perlu ikhtiar yang sungguh-sungguh…

Maaf ane ngoceh kepanjangan. Ini komen ane paling panjang selama 2 hari ngeblog. Ane masih bayi bang… Salam pedes!

4. joyo - 2 Februari 2008 5:01 am

saya kok lebih suka jadi orang beruntung ya, secara ada petuah jawa yg saya peluk yg kira2 bunyinya spt ini:
“luwih becik dadi wong bejo ketimbang wong pinter utowo sugih”

artinya…

“lebih baik jadi orang beruntung ketimbang jadi orang pintar atau kaya”

dan lagi orang beruntung itu kok hidupnya semeleh (pasrah), nggak sibuk mikir ini itu, mikir masa depan harus ini harus itu, biasanya lagi orang beruntung itu jarang susah, lha wong semua dijalani dg pasrah, dapat syukur gak dapat jg syukur.

5. sarah - 2 Februari 2008 9:53 am

Akh….kalo aku sih pilih…. duaduanya boleh donk🙂

6. zal - 2 Februari 2008 10:01 am

::cabe rawit, itulah pilihan dari perasaan awal, mungkin jika ada waktu pandanglah siapa saja orang yg jelas maupun yg tak jelas bagi kita riwayatnya, mungkin akan kita temukan yg dulunya bodoh berubah jadi pandai, yg disangka pandai malah engga bisa ngurusi dirinya sendiri, pandai dan beruntung adalah satu wujud, yg dinamis, bodoh dan beruntungpun satu wujud namun pasif, jadi sebetulnya beruntung berada pada dua sisi pandai dan bodoh…itu menurut kefahaman saya lho…

::joyo, benar sam, cuma interpretasi terhadap kalimat itu, yang menyebabkan susah sendiri, sering kudengar ungkapan seperti pasrah, “yo wes opo maneh, be e wes ngene dhalane”, padahal ini bentuk keluhan….kepasrahan bahkan ditampilkan orang yg benar-benar menemukan ke atheisan, dimana ungkapannya “aku tak tahu apa yg terjadi setelah aku mati, namun sepenjang kehidupan ini ada padaku, maka aku akan mempersembahkan yang terbaik..”..mempersembahkan…lho… tanpa tendensi sama sekali..baik pada lingkungan apalagi pada Tuhan…, cuma aku belum mampu ikutan, meski sebagian difahamkan padaku mengapa demikian itu… yg jelas bukan menentang Tuhan

::sarah, ya jelas bolehlah…bukankah yang mengekang kita diri kita sendiri, meskipun kesannya bisa timbul dari luar diri kita, namun jika yang dari luar itu kita bawa kedalam diri kita, kan menjadi bagian dari diri kita…lalu kita berdalih bahwa kebebasan kita terkungkung…siapa yg akan melarang segala persepsi yang hanya bermain dalam diri kita…kan…🙂

7. sitijenang - 3 Februari 2008 8:30 am

wah kalo saya mesti didefinisikan dulu. keberuntungan yang dimaksud tepatnya yang mana? kepandaian juga seperti apa? yang selamet yang mana? saya pilih yang paling selamet aja deh… he he he..:mrgreen:

8. abah dedhot - 3 Februari 2008 8:34 am

@MAS ZAL
“…sesungguhnya, manusia / insan dalam keadaan merugi / ngga beruntung, kecuali…???”
Yang “kecuali” ini nih… memerlukan / butuh banget dengan “faham”. Supaya ter”faham”kan dengan ILMU, insan butuh anugerah penanggalan ke”bodoh”annya. CAHAYA AKAL yang membedakan manusia dengan makluk lainnya, adalah tempat tanggalnya kebodohan. sehingga sifat “pandai” menempat padanya. dan ternyata menempatnya sifat “pandai” ini adalah suatu “keberuntungan” bagi manusia bila, pandai “nya” ditujukan kepada pengukuhan keIMANan, berperilaku damai, dan tolong menolong menjembatani insan untuk mencapai AL HAQ & AL SOBR.
Jadi kalo “pandai” tapi arahnya bukan tertuju kepada pengukuhan keIMANan, dsb. itu mah masih BODOH, masih merugi… ngga beruntung. Jangan ngaku pandai kalo masih merugi…
Saat abah ditanya, pilih menjadi orang beruntung..atau..pandai…???
abah mah milih… “ATAU” …aja lah :mrgreen:
salam

9. peyek - 3 Februari 2008 8:41 am

selama semua adalah pilihan, dan kita berhak memilih, bukankah nafsu juga terusik dan iri untuk mencampuri pilihan kita itu?

10. zal - 3 Februari 2008 10:50 am

::sitijenang, kyai siti meniko golekane selamet thok😆 kui jenenge pilah pilih, pengabdian mestinekan ora milih toh…, selamet iku dipilih mboten pilihan… jarene kefahamanku lho…:mrgreen:

::abah, bener teing , sabdaNYA juga “sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh…Ilmu itu nama Allah, dan juga sifatNYA, sungguh beruntung manusia yang dikenalkan pada hal ini, meskipun sesungguhnya Bodoh…., jadi fahamnya manusia, karena diberitahu, “ada cahaya” jika gelap datang mereka berhenti…
jadi yang pandai itu sesungguhnya siapa bah…😆

::peyek, awalnya memang pengekangan nafsu dilakukanNYA, agar “terpisahkannya antara yang baik dan yang buruk” dengan terurai maka akan saling menenal akan keadaan masing-masing, dengan demikian ditundukkanNYA, lalu segala sesuatu bertasbih padaNYA….

sesungguhnya hanya keberuntungan bagi siapa yang menerima apapun yang diterima, jika menyadarinya “sebelumnya ummiy, lalu dijadikanNYA bisa membaca sehingga tidak lupa…” kenyataannya, banyak yang “lelaku” sedikit yg benar-benar menerima, sebagian lagi malah di goda dengan permainan dan masuk dalam permainan, mari memperhatikan bentuk apa sih yg dimaksud permainan itu…:mrgreen:

11. Arwa - 3 Februari 2008 11:29 am

saya mah minta dipilihkanNya saja.
dipilihkan pandai saya terima
dipilihkan beruntung saya terima.
yang terpenting fokus ama kerjaan aja .

12. zal - 3 Februari 2008 11:38 am

::heh, di Arab Saudi udah lewat subuh ya…,
yupe fokus ama kerjaan, fakus ama yg dikerjakan, fokus dengan maksud kerjaan…meminta seringnya disesuaikan dengan konsep diri, malah seringnya pada saat diberi, malah merasa belum diberi…, karena belum berkesuaian dengan konsp kita…😆

13. Arwa - 3 Februari 2008 2:25 pm

hiiihiiii….,
itu namanya ndak tau diri aja kale zal…,
*intropeksi mode ON*
*disini baru tengah malam euy..hiihiiihii, tepatnya 4 jam lebih lambat dari WIB*

14. abah dedhot - 3 Februari 2008 8:13 pm

@mas zal
mungkin yang dimaksud juragan arwa…
“kerjaan” itu adalah kerjaanNYA, Qudrat & Iradat NYA. Dan memang pengamatan harus difokuskan kearah sana… sampai :
Laa maujud ilallah, Laa taksiru ilallah…. Laa ilaha ilallah. Tapi tetap berpatokan kepada : Laa hawla wa laa kuwwata ila billah. Tak kuasa memilih, hanya ridho & ketetapanNya lah yang di lakoni dalam kehidupan.
salam

15. :::::: - 4 Februari 2008 1:15 am

sayah pilih pandai dan beruntung
TING!!
=== berlalu===

16. bedh - 4 Februari 2008 5:20 am

saya mau memilih beruntung aja kalau lagi memilih sesuatu atau tidak memilih sesuatu.
karna saya tidak terlalu pandai kalau memilih.
apa saya milih pandai aja apa yah? jadi nggak perlu keberuntungan?
lah kok malah jadi binun….
pilihin dunkkkk
om
huhuhuhuuh

17. sitijenang - 4 Februari 2008 7:09 am

lha mo gimanalagi… kalo gak slamet ya namanya gak untung atau buntung. kalo sampek slamet berarti emang pinter. ya nunut kyai slamet mawon…:mrgreen:

18. abah dedhot - 4 Februari 2008 9:28 am

@mas zal
“jadi yang pandai itu sesungguhnya siapa bah…😆 ”
jawab :
si itu tuh… bukan yang mukanya kuning ”😆 “, ( lagi hepatitis akut ? ) dia ketawanya terlalu banyak. Tapi beliau, yang “beruntung” menjadi “pandai”, sehingga jubah “fathonah” melekat pada nya… beliau ketawanya sedikit banget, tapi selalu menebar senyum…
salam

19. abahdedhot - 4 Februari 2008 10:08 am

@mas bedh
mendingan ikut abah ajah… milih “ATAU”. pasti aman deh :mrgreeen:
karena setiap pilihan yang ditetapkan, akan disertai dengan resiko, sebagai bagian dari pilihan itu sendiri.
Yang pilih “pandai”, dia harus meRASAkan dulu (hingga faham) akan “bodoh”, & yang pilih “beruntung” juga harus meRASAkan dulu (hingga faham) akan “merugi”.
Kalo pilih “siang”, harus faham dulu “malam”… SIAP..???
salam

20. Santri Gundhul - 4 Februari 2008 5:00 pm

Huuueeeh…lah dhalah….
saya ketinggalan kereta senja neh…Kang Zal..tunggu dulu….!!??,

Halah…halah….baru masuk dah dihadapkan pada pilihan….
Minum dulu deh Kang Zal haus banget neh…..ntar baru ikutan NYBLOS…eh MILIH ding..
Emang Akang mo CALONKAN jadi Lurah yah…kok pake QUIZ segala..
Gukh…gukh…clegukh…lah kesedak aku Kang…

Begono yah….nyambung karepe Kang Siti Jenang..
Musti jelas dulu DUDUKnya definisi PANDAI dan BERUNTUNG entuh seperti APA…??.
Pandai adalah….hik..hik…kayak P. Sawali lagi mulang muridne wae..
PANDAI tuh kerjanya MURNI dari sang AKAL PIKIRAN yang sangat rentan dengan GODAAN si Nafsu…jadi sering digunakan untuk MBODHOHIN orang lain….dengan pertimbangan pastinya UNTUNG dan RUGI..
He…he…Jadi, aku gak PILIH ini….
BERUNTUNG…??? halah…halah…kan dah dijelasin diatas…dasarnya masih HITUNG-HITUNGAN…untung gak…Rugi gak tadi…. kelemahannya biasanya orang ini PELIT banget…yeeee….!!.

Makanya, aku juga gak NYOBLOS/PILIH dua-duanya Kang…he..he…
Dan, sebenarnya aku mo PILIH jadi orang yang NGERTI azah deh….tapi ternyata gak ada dalam pilihan

Jadi….
Kabuuuuuuurrrrrrrrr…..ntar keburu ditagih BAYAR minum…..
Habis Kang Zal pingin Beruntung je…??.

21. zal - 5 Februari 2008 5:53 am

:: Arwa, benar, yg engga tau diri , yg mikirnya kayak gitu…😆

::Abah benar, dalam keadaan tersembunyi “ada”

:::::, sepertinya semakin jelas kalau yang berujar ting ==berlalu== bentuk yg tidak asing…ini si may si lasak….😆

::bedh tuh udah minta ama om nya…😆

::he..he..salaman …salamun…selamet… yoh benar…kalau engga selamet yo ngga beruntung…kalau engga mikir yo engga pandai… pancen kyai jenang ki…😆

::he..he…si abah mah semakin canggih cing dengan kaya perumpamaan…nyelemnya makin engga kerasa ya abah…, udah kaya putri duyung…😆 siiip….

::santri ghundul,…wong lengkap..buanget…., panjenengan iku koyo bunglon bisa hinggap dimana saja…..😆 dan tersamar apa adanya…

22. Tito - 6 Februari 2008 12:18 am

semua ada sebab-akibat… yang kita sebut sebagai kebetulan pun ada sebabnya… kita hanya terlalu malas memikirkannya sehingga melakukan simplifikasi dan melabeli suatu peristiwa sebagai kebetulan🙂

Saya sebenernya pilih keduanya kalo bisa😛
Tapi kalo emang musti milih salah satu ya saya milih jadi pandai🙂

23. Hair - 6 Februari 2008 10:32 pm

Kok seperti Di kuis deal or no Deal yach
saya sich lebih memilih jadi orang pandai, secara Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, apalagi kalau ilmu itu diamalkan.
kalau orang2 yang beruntung, gak pernah di bahas tuch

24. SANTRI GUNDHUL - 7 Februari 2008 2:16 am

sek…sek….kok aku kroso gak kepenak..
Balik maniiiiing…nah kan..??
Protes…protes….!! Demo kayak di Bundaran HI…sambil bawa Bunglon.
Mas aku dibilangin Bunglon…tapi mendingan sih ketimbang dibilangin KUTU LONCAT….

karena PROTES harus bayar 500 yah…
Kabuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrr…maning….sambil nerocos…
Nek orang Jawa PASTI pilih yang UNTUNG….karena orang Jawa gak pernah RUGI…
coba ajah….sudah JATUH terus kakinya PATAH sebelah, masih sempat bilang UNTUNG…cuman kaki sebelah yang PATAH….kalau dua-duanya kayak apa..??.

25. zal - 7 Februari 2008 9:24 am

::tito, he..he…secara saya, memilih tapi aslinya tak memilih…
sebab – akibat mungkin merupakan model, guna menemukan sumber dari segala sumber…, namun sebagian mencukupkan pertemuan dengan sebab….tapi siapa yg melarang jika sungaipun sudah terlihat mengalir memenuhi muara, meskipun diujung sana telagapun tak mengakui jika dia sebagai sumber sungai..

::hair, thanks for your comment, iya…orang-orang ber – ilmu, dan siapa itu ilmu..siafat siapakah..???

::he..he..lha wong panjenengan pancen T-O-P, lha bunglon kan TOP tersamar…pada bentuk apapun yg ditempatinya…😆

26. siapaindra - 8 Februari 2008 7:35 am

berilmu tapi tak mengamalkan…
bertelinga tapi tak mendengar…
bermata tapi tak melihat…

semua yang ada di dunia sudah sesuai dengan Qadha dan Qadar dari Allah SWT…

27. zal - 8 Februari 2008 7:50 am

::benar siapaindra, dua kriteria dibawah adalah posisi saya, yang pertama bukan, sebab saya tak berilmu, bagaimana saya beramal..
sedangkan Qadha dan Qhadar masuk pada rukun iman, .yang berarti kadar yg sudah mengimani sesuatu karena faham pada sesuatu tersebut.
apakah mudah masuk kedalam iman…??? inilah ayatnya

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; (Al Hujarat 14)

28. joyo - 8 Februari 2008 9:42 am

nyambung yg dulu…
semeleh itu mendahului kehendak, usaha dan hasil Ki, jadi bukannya nyarah dan nrimo sesuatu apa adanya.

29. zal - 8 Februari 2008 11:45 am

::lha wong wes tak jawab bener koh…,😆 interpretasinya tertuju pada pandangan kebanyakan, baik yg berjalan, maupun tidak… duduk diam mendapat pelajaran, bertindak mendapat keyakinan, ngono kan sam…

30. tobadreams - 10 Februari 2008 1:53 am

Paling elok kalau boleh memilih keduanya.

btw aku minta izin menitipkan pesan disini Bang.
Bagi orang batak sedunia, Orang Jawa, Cina dan Keling yang selalu bangga menyebut diri “Anak Medan” atau orang Sumut, mari kita dukung PSMS Medan. Ayo kita doakan semoga Saktiawan Sinaga cs berhasil melibas Sriwijaya FC. .

Awas, ada kemungkinan PSMS akan dikerjain wasit lagi. Soalnya, Sriwijaya memang diplot oleh orang berkuasa di PSSI untuk merebut gelar juara. Salah satu caranya adalah dengan menyetel wasit agar merugikan PSMS. Ini terkait dengan sejarah dan bisnis, yaitu Persijatim yang dijual pemgurusnya dan kemudian menjelma menjadi Sriwijaya FC.

Viva PSMS Medan, Mampuslah Sriwijaya FC!

31. zal - 10 Februari 2008 4:34 am

::supriadi, yang kena kartu merah main ngga Bang… ???

hiduuppp PSMS….!!!!!!

32. Cabe Rawit - 10 Februari 2008 4:52 am

Hidup Persib!!!!!!!!!!!!👿🙂 8)

33. Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ - 10 Februari 2008 6:32 am

hohohoh…
tentang sepak bola yah…

eh….

hahahaha…

salam kenal…

34. Ferry ZK - 11 Februari 2008 12:26 am

Beruntung itu luas lhoooo artinya semetara pandai itu cenderung pendek akal, seseorang yang merasa pandai cenderung menjadi arogan dan takabur serta sulit untuk menambah kepandaianya, sementara orang yang merasa beruntung selalu bersyukur akan segala hal yang ia peroleh…

Beruntung bisa menyeluruh semantara pandai hanya “sekedar” pandai, toh banyak orang pandai tidak beruntung tapi banyak juga orang yang beruntung diberi “kepandaian” he.. he.. jadi jelas beruntung bukan sekedar kebetulan, sebab beruntung bukan sesuatu yang unik seperti kebetulan, beruntung bisa jadi setiap saat (* atawa paling tidak merasa beruntung *) sementara kebetulan hanya terjadi sesekali saja (* coz kalau setiap saat bukan kebetulan namanya *)…

moga – moga masih ada mahasiswa jebolan UIN/IAIN yang masih beruntung diselamatkan akidahnya (* he.. he.. OOT yak… sorry… *)

35. zal - 11 Februari 2008 3:34 am

::setuju…. , memang begitu adanya…cuma biasanya orang milih yang sepotong…yang bernama “pandai”, padahal kedudukan beruntung jauh diatasnya…

heh..saya ini jebolan makhtab ibtidaiyah, selain SD negeri pagi, dan alwasliyah untuk Juz Amma dan Pelajaran Shalat, maka saya hafal juga Allahumma ba’id. disambung mengaji di rumah manggil guru tapi itu hanya untuk Tilawah…lainnya otodidak..

Yah semoga Allah Yang Maha tepat JanjiNYA, akan melakukan Surah Yunus 99 dan 100. Aaamiiin.

Ferry terima kasih atas kunjungannya…, saya senang dengan perbedaan kita… ini Rahmad Yang Agung…

36. Arwa - 11 Februari 2008 11:16 am

Wahhh… Lae zal kali ini kurang beruntung kusabab PSMSnya kalah.
Bijimana niih…?
wuih…hihiiihiii….
Meskipun demikian saya mah tetep membela PERSIB.

viva PERSIB forever….!

*bobotoh persib mania*

37. Ferry ZK - 11 Februari 2008 6:47 pm

kekekeke Yunus 99 tentu jadi landasan yang mendasar, tp bukan berarti boleh mengaburkan yang jelas dan membelokan yang kurang jelas, barangkali ini landasan kerukunan beragama versi AQ tetapi tentu tanpa menggadaikan akidah…

Yunus 100 : apakah maksudnya juga menggunakan akal versi liberal ? he.. he.. justru kalau mau menggunakan akal masa iya semua agama benar ? bukankah sunnah ALLAH ada baik ada buruk, ada benar ada salah ? ada hitam ada putih ?

38. Ferry ZK - 11 Februari 2008 6:49 pm

zal bahkan saya dan istri juga berbeda agama😀 tp perbedaan bukan berarti penghalang juga perbedaan bukan untuk dicari titik temu barangkali perbedaan harus disikapi dengan arif…

Salam Damai…

39. zal - 11 Februari 2008 10:55 pm

::wadow…ada si usep itu di balakang, jadi palang pintu…dia juga nyebut ..hidup persib…😆 meskipun tendangan persib ke psms dihadangnya…. ya…hidup persib… emang permainan bola mah asyik… di sriwijaya juga malah nunjukin benderanya…ghana…atau mana…pokoknya daerah afrika aih jadi hidup.. apa…
eh malah slamet riyadi..bilang hidup psms..juga…membuat sleding tackle waktu sektiawan hampir lolos bebas melewatinya…
ah…hidup yang hidup…aja lah…

40. zal - 11 Februari 2008 11:28 pm

::bagi saya Fer, Jadikan Al-Quran & Hadist jadi pedoman dan petunjuk, namun berpegang pada satu ayat yang terus menerus dipertanyakan kepada Allah maksudnya…sehingga mengenal, akan lebih berfaedah ketimbang banyak yang diketahui namun tak satupun merasuk menjadi bahagian hidup kita,…
Banyak memang orang berkata, bahwa pedomannya AQ &hadist, namun pada saatnya disajikan padanya apa yg dipedomani itu, maka sebahagian akan balik badan menyembunyikan dadanya…
Berbeda, yang saya maksudkan adalah seperti berbedanya huruf, dari A s.d Z, tanpa mengkombinasikannya apa manfaatnya huruf-huruf itu….
Berpedoman pada Akhli tafsir, tentu tak salah, namun seorang akhli tafsir juga manusia, sama seperti kita…
Namun Allah tidak membatasi siapa hambaNYA yang diberiNYA Petunjuk, dan memahamkannya melalui hati, yang pada saat ditempatkanNYA pada hati itu siapa yg bisa melihatnya..???
Umpama ini Fer, jika Muhammad SAW itu hidup dimasa kita ini, dan sebelumnya bersenda gurau sebagaimana teman sepermainan, lalu Beliau mengatakan pada suatu saat bahwa Beliau Rasulullah, apakah kita bisa langsung menerimanya…dan merasa bisa percaya sebagaimana kita sekarang…mempercayainya…???
Saat ini kita hanya dimudahkanNYA untuk mempercayainya, dan itupun didukung, dari turunan kita, Kakek/ nenek, Ayah /Ibu yang sama keyakinannya…, ditambah sudah sangat banyak orang percaya…meskipun kepercayaannya bertingkat – tingkat…
namun adakah Allah, melarang kita memilih…???, padahal IA amat mengetahui apa yang dibalik dada itu…, Wallahu a’lam….

41. Ferry ZK - 11 Februari 2008 11:53 pm

hehehe… itulah zal bedanya saya dan anda, saya cuma seorang yang terlalu haqul yakin dengan tauhid dan dua kalimah syahadat meski jujur saya akui saya bukan orang yang taat dalam ber-ibadah. Satu hal lagi zal, karena ISLAM menurut saya disempurnakan dan digenapkan oleh Nabi Muhammad maka jika saya belajar ISLAM tentu saya belajar berdasarkan ajaran Beliau yang diteruskan oleh sahabat – sahabat Beliau dan sahabat dari sahabat Beliau dan seterusnya, bukan hasil karya buah pikiran dari orang baru yang terputus tali riwayat dari beliau…

Salam Damai.

42. zal - 12 Februari 2008 4:15 am

::iya..ya.. , namun begitu dalam pandangan Allah semoga tiada beda, semoga kita menjadi orang yang dalam ridha Allah…aaamiiin…
Yupe, Al_maidah 3 “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….”

semoga kitapun masuk dalam penyempuraanNYA…aaamiin

43. AmruL - 12 Februari 2008 4:21 am

Kalo saya pilih jadi org yg beruntung aja neh….

Ternyata Pak Zal ini..lautan dalam juga…..Hihoihohiho…
Salam kenal Pak Zal….

44. zal - 12 Februari 2008 4:58 am

::Amrul,😯 …Allah Yang Al Ilmu…, zal tak mengetahui apapun, selain sekedar yang ditaukan…, Lautan dalam itu bagiannya Allah… saya Lahaula wala quata illa billah, asli super bodoh,
salam kenal juga… Pak Amrul…Terima kasih sudah mampir…

45. abah dedhot - 12 Februari 2008 6:45 pm

@mas zal
*garuk-garuk*
wuih… ateul uey…
salam

46. zal - 14 Februari 2008 4:33 am

::eleh..eleh siabah ateul itu apa…bah, apa yang di garuk-garuk😆
bukannya itu kulit…, eh iya..karena ada gatal maka digaruk ya…

47. abah dedhot - 14 Februari 2008 9:12 am

@mas zal
ateul teh artinya gatel… habis, ada yang ngaku terlalu….???, tapi ngomongnya pake “sayah”, masih sayah yang ngebawa, …masih tebel. pabeulit… kusut.😆
salam

48. zal - 14 Februari 2008 10:57 am

::he..he..si abah mah, kaya mancing belut, mancingnya pake kelingking…., iya atuh Bah, si saya mah yang ngajarin aku…., jadi nyang benar mah nyebutin saya… setuju😆

49. stey - 14 Februari 2008 5:34 pm

boleh ga jadi dua2nya? I mean..jadi orang pandai itu kayaknya suatu keharusan ya?Soalnya dunia jaman sekarang gitu lho? Tapi “A Good Luck Thing”will be good also lho..kadang kita perlu kok..

50. zal - 14 Februari 2008 11:31 pm

::stey, boleh aja…dunk, secara parsial akan terpandang bahwa orang beruntung…tidak lah mesti pandai, namun kefahamanku berkata, orang pandai juga karena beruntung…😆 salah ya… ???

51. abah dedhot - 15 Februari 2008 11:44 am

setubuh lah.. eh, setuju lah…
haqul yakin dengan saya…:mrgreen:

52. abah dedhot - 15 Februari 2008 8:37 pm

@mas zal
begini maksud abah :
dikala mengamati pintu… sang kayu hilang…!
disaat mengamati kayu… sang pintu hilang…!

waktu haqul yakin dengan diri… sang pribadi lenyap…!
ketika haqul yakin dengan pribadi… sang diri sirna…!
kalo ada AKU… dimana “saya”…???

53. Ferry ZK - 15 Februari 2008 11:14 pm

@ abah,

Barangkali bukan hilang bahhh tapi sembunyi dibalik bentuk, kayu kan telanjang sementara pintu sudah bersolek dan berpakaian, tentu sang pintu juga sudah berinteraksi dengan paku, cat ato pernish… boleh dibilang kayu itu balita pintu sudah dewasa…

kenapa “saya” abah ? karena “saya” cuma sekedar jiwa sementara “aku” barangkali adalah campuran “jiwa”-“raga” dan “ruh”
hehehe…

“manunggaling ingkang gusti” memang buat “saya” sulit dicerna tapi jujur “ruh” yang ada pada saya memang bagian dari “gusti” cuma apa iya bisa “manunggaling” ?

54. zal - 16 Februari 2008 12:56 am

::abah benar…,
cerita aja nich ya bah,
yang dilihat , yang melihat dan yang diperlihatkan….
yang dilihat sirna, yang diperlihatkan diberi lihat oleh yang melihat
yang melihat menyadari keadaan dan tunduk,
yg dilihat, disadarkan pada keadaan dari apa yg diperlihatkan,

utuk “saya” dan “aku” ini, mungkin hanya cerita pengalaman pribadi, dan ini mungkin umum saja, “aku berfikir maka saya ada” dia menongolkan kepalanya… 😆 sekali saja…setelah itu terfahamkan dengan apa saya bekerja…, dan sayapun akan bertambah..namun bukan bilangan… tapi entahlah bah, saya gak ngerti juga..😦

namun hari ini dia terbaca disini…
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” AQ18:17

“Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk” AQ7:43

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”AQ 20:123

55. abah dedhot - 16 Februari 2008 7:49 am

@kang Ferry
konsep “manunggaling kawula gusti” itu keluar dari persepsi diri sang salik… hanya untuk dirinya saja.
Banyak ungkapan-ungkapan para salik, seperti yang kang ferry singgung :
“kayu sembunyi dibalik (terhijab) bentuk, pintu”. pintu manunggal dengan kayu…???
Tidak syah disebut guru kalo ngga punya murid.
Tidak syah seorang dokter kalo ngga punya pasien.
Tidak syah disebut Khaliq, kalo ngga ada makhluq ciptaannya.
Manunggal kawula gusti..???
bagaikan gelombang adalah citra samudra, warangka manjing curiga dsb. hanyalah ungkapan, perumpamaan “kondisi” yang di bahasakan. Yang tanpa batas diungkapkan dengan yang terbatas (bahasa), jadi pastinya ngga ada yang pas, hanya yang me RASA kan yang difahamkan.

Pribadi = AKU / sang HIDUP.
Diri = jiwa / nafs / saya. (perbuatannya, af’alnya, karyanya AKU)

man arafan nafsahu faqod arafab rabahu, barang siapa mengenal
nafs / diri nya maka ia akan mengenal rab / sang Maha Pemelihara nya.
Qulu nafs dzalikatul maut, segala yang berjiwa / nafs akan mengalami maut, mati.
kalo kata karuhun:
mulih ka jati, mulang ka asal.
raga akan pulang pada ke”sejatian”nya… tanah, air, angin, api (nur M…???)
Ruh akan kembali kepada asalnya, min amri rabi.

Kitu meureun kang…???

56. zal - 16 Februari 2008 2:03 pm

::abah udah seperti mursid,😆
lengkap, detail dan terang benderang…

57. abah dedhot - 16 Februari 2008 8:14 pm

@mas zal
…andai semudah menuliskannya…
kata mas bedh : hu.. hu.. hu.. 1000x

58. zal - 17 Februari 2008 10:00 am

::yupe bah “apakah sama orang duduk dengan yang bekerja..”, nah disinilah sepertinya terjadi kelalaian pada yg berjalan, asik dengan permainan, sehingga lupa dalam implementasi, padahal akan ada “pergantian setara atau yang lebih tinggi”, ada “haqqotuqoti” dan “walaa tammutunna “, kalau sudah tahu kedudukan diri lalu seharusnya apa, apakah sudah bisa mengikat unta, dan yakin unta terikat tak lagi bermain pada benak..
sedangkakn hu..hu saja masih berjenjang kan…
oh ya bah, menurut abah, apa yg terlihat dari dua orang yg hubungannya sangat dekat, agak dekat dan biasa-biasa saja…😆

59. abah dedhot - 19 Februari 2008 1:37 am

@mas zal
apakah dua orang ini berlainan jenis…???:mrgreen:

60. zal - 19 Februari 2008 2:44 am

::he..he…si abah…itulah yg namanya Maha Suci kan…😆
kalau kata krispatih…”tapi bukan aku…”:mrgreen:

61. abah dedhot - 19 Februari 2008 9:16 am

sayah mah memang bukan AKU.
kalo sayah bilang : subhanallah…
kalo AKU :subhani… subhani.:mrgreen:

62. penggoda80 - 30 Mei 2008 7:06 am

@abah dedhot
ada nyang kurang tuh…..

saya bilang : subhanallahu…
kalo AKU : subhanallahi……
lalu…..apa sampe disitu???

si pak abah harus digodain dulu baru lengkap kaliii * mmuuuuah *
lantas kalo subhanallaha????
-salim-

63. Faubell - 30 Mei 2008 11:26 pm

Pilih beruntung aja Bang.
Cuma sebagian orang lupa bahwa untuk mendapatkan kondisi beruntung itu ada proses, dipikirnya seperti kayak pasang togel aja, pas menang disebut beruntung, di dramatisir menjadi kebetulan sekarang saya beruntung menang togel.
Proses untuk mendapatkan kondisi beruntung, berbekal pada Al ‘Ashr:3 : 1. Orang2 yg beriman kepada Allah
2. Mengerjakan amal saleh
3. Saling menasihati sesamanya untuk berpegang teguh
pada kebenaran
4. Saling menasihati untuk bersabar.

disitu terlihat bahwa pandai hanyalah tool saja untuk melakukan itu semua dengan tujuan mendapatkan kondisi keberuntungan itu. Berarti Bang Zal sudah pandai memilih langsung ke final destinationnya. He..he..he
Salam.

64. zal - 31 Mei 2008 5:50 am

::faubell, keknya udah mantap kali potongan-potongannya…, tapi kalau saya, memang karena keberuntungan saja,
1. saya tak tau saya sudah beriman atau belum…, kalau tunduk, mungkin ya..sebagian, soalnya pas disuruh saya masuk kelubang yang sempit, bah..:shock: saya malah milih lompat…, engga berhasil lompat malah saya tidur di salah satu sofa…
2. yang saya tau, apa kerja yang ada, disoronglah untuk digarap segera, kek mana itu saleh, sayapun tak tau…soalnya saya pernah disentakkan, pas mau melengkapi kerjaan biar kelihatan bagus, malah waktu pertemuan sudah masuk, sentakan itu mengharuskan saya menyajikan apa adanya saja, tapi ajaib mek, malah pekerjaanku dibantuin banyak orang termasuk yang meminta data tersebut…, dan tidak disalahkan sama sekali…
3. apalagi masalh ini, menasihati diri sendiri, saja susah.., kalau saya katakan si kulit benkak ini, bandelnya minta ampun…
4. sabar yang paling rendahpun pernah diujiNYA, cuma perkara menunggu, padahal sudah difahamkanNYA jika DIA itu tak pernah ingkar janji.., baru saja ngedumel dalam hati, yang ditunggu hadir…alamaak…aku tak pernah berhasil dalam ujianNYA, meski hal spele saja, itulah makanya aku disuruh bergantung saja…
final destinationnya, cuma karena ujian-ujian yang engga pernah bisa lulus sekalipun,…. itu saja,…namun kuakui dengan perasaanku yang paling dalam sesungguhnya DIA itu amat sangat-sangat Maha Baik….biar dengan orang sebandel aku ini…. DIA tetap perduli…

65. Faubell - 31 Mei 2008 6:35 am

@zal
he…he..he
*Munduk2*
Kalau sudah sampai kesitu mah…ya La haula wala quwata illa Billah.
Ndak punya apa2 dan nggak bisa apa2. Segalanya kepunyaan Allah.
Saya baca tulisan Bang Zal jadi sejuk.. Kek mana saya berpindah ke kondisi sejuk ini pun saya nggak bisa..
Diriku hanyalah layang2 yang bergantung pada benang yang digerakkan Yang Maha Penggerak. Diulur manut..Disendal manut…
Karena Gerakan-Nya lah yang membuat saya bergerak.
Salam.

66. zal - 31 Mei 2008 9:56 am

::faubell, sami’na waato’na…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: