jump to navigation

(Masih) Tentang Shalat, yang akan dipertanyakan pertama kali itu… 11 Januari 2008 10:36 am

Posted by zal in Yang direnungkan.
trackback

Shalat yang dalam urutannya rukun islam berada pada urutan kedua, namun jika kita perhatian terhadap apa yang kita lakukan, bukankah terasa aneh, mengapa didalam pengerjaannya, kita mengucap dua kalimah syahadat, padahal dalam urutan rukun Islam mengucap dua kalimah syahadat merupakan urutan pertama.

 

Mungkin akan banyak jawaban yang akan disampaikan, dan kemungkinan salah satunya adalah bahwa ada pendapat ulama yang mengatakan bahwa rukun Islam itu bukan ditulis dalam urutannya. Bisa jadi juga, dan ini berarti tidak perlu dimasalahkan..

 

Atau ada yang mengatakan, “bukankah dalam shalat kita sedang berkomunikasi dengan Sang Khaliq, sehingga pernyataan bersaksi kita ucapkan”,  bisa jadi juga, seperti yang dikisahkan bahwa salah serorang dari khulafa urrasidin, pada saat kaki Beliau terkena anak panah, maka untuk mencabut anak panah tadi Beliau mengerjakan shalat, dan pada waktu shalat itulah anak panah dicabut dari kaki Beliau, dan tiada teriakan kesakitan sama sekali.

Ali Bin Abu Thalib RA, juga mengalami shalat yang memasuki fana, dan fananya memasuki fana lagi sehingga Beliau shalat benar-benar dalam fana..

 

Baiklah, namun dalam intinya dalam shalat ada persaksian, Persaksian Tauhid (syhadat tauhid) dan Persaksian Rasul (syahadat Rasul)..

Sebagaimana yang diketahui secara pengetahuan, bahwa yang pertama kali ditanyakan pada hari  kiamat adalah prihal shalat, adakah pertanyaan pada diri kita seperti apa shalat yang ditanyakan itu, apakah seperti dalam perlombaan shalat sebagaimana yang sering dilakukan baik pada saat saya belajar mengaji di makhtab dulu, dimasa kecil saya, dimana pada event tertentu seperti perayaan Isra’ Mi’raj selalu dilaksanakan lomba azan, qira’ah, shalat, pidato dll, dan sampai sekarang sepertinya masih berlangsung terutama pada anak-anak di pendidikan tingkat TK, SD atau pada TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), dimana orang tua akan sangat bangga melihat bagaimana anaknya yang masih kecil itu sudah fasih dengan gerakan maupun bacaan shalat, apa seperti itu…ya..???,.

 

apakah nanti Allah akan mempertandingkan kita dalam hal kefasihan yang sama dengan anak-anak TK itu… , jika demikian berarti yang perlu kita benahi adalah belajar pengucapan mahraj yang benar, tentunya dengan belajar berbahasa arab yang baik dan benar, lalu kita lengkapi juga dengan tajwid, sebab kita harus membaca dengan Izhar, idgam, iqlab, qolqolah, yang benar, dan mungkin harus ditambah dengan lagu sebagaimana qari – qari’ah, lalu gerakan, bagaimana seharusnya takbir, dimana posisi tangan pada saat diangkat, bagaimana pandangan pada saat berdiri, posisi ruku’ seperti apa punggung kita, tangan berada di dengkul,  berapa derajat posisi ruku’ dan seterusnya.

 

Nah, berarti kira-kira yang akan mendapat penilaian terbaik bisa jadi, yang paling fasih berbahasa arab, yang suaranya merdu, untuk dua hal ini, para juara qira’ah dunia seperti Nanag Qosyim, dan Nur Asyiah Jamil, akan menduduki peringkat utama…lha saya yang bersiul aja fals, terus bagaimana, orang Barat lalu bagaimana nasibnya, terutama yang dari Prancis dan Soviet, yang kalau ngomong saja seperti orang kumur-kumur….

 

Betapa mengerikan juga bagi mereka yang (maaf) bibir sumbing, semua huruf menjadi sengau, yang bisu, malah engga kedengaran suaranya, yang lidahnya dipotong malah hurufnya sama semua….belum lagi yang Allah turunkan ke dunia ini yang Ibu Bapaknya KTP/ Kartu Keluarganya pada baris agama ditulis selain Islam,(hmmm apakah Keadilan Sang Maha Adil, membuat start yang engga adil seperti ini…enak buanget yang gitu nongol emak bapaknya ber KTP dengan inisial agama =Islam)… kalo gitu…iiich ngeri kali bah…!!!…

 

Untuk mencari bocoran, tentang shalat yang seperti apa yang ditanyakan itu, kepada siapa kira-kira harus bertanya…???? Atau engga perlu bertanya…apakah kira-kira ada ulama, ustadz-ustadz yang sudah dapat bocoran tentang hal ini…??? Yuk nanya yuk…mumpung masih ada waktu….

Komentar»

1. danalingga - 11 Januari 2008 11:33 am

Wah, dari dulu sebenarnya saya sangat ingin membahas mengenai shalat ini di blog saya. Tapi berhubung bahasa saya seringnya tidak qurani, takutnya dianggap menghina. Jadi nggak saya tulis tulis sampe sekarang. Akhirnya ada artikel ini yang membahasnya, jadi ada kesempatan saya berkatarsis di sini.

Kira kira sebenarnya yang akan di nilai itu shalatnya atau hasil shalatnya itu zal?

*satu katarsis aja dulu*

2. danalingga - 11 Januari 2008 11:34 am

Walah, ada yang sebelum ini toh tentang shalat.

*meluncur ke tkp*

3. zal - 11 Januari 2008 12:19 pm

::kan kita menulis dari yang terbacakan dan, seyoyanya pasti qurani, apapun itu…,
apa yang terfahami dan, ada pernyataan deffens terbaik adalah offens, jadi bertanya lebih dulu, biar engga ditanyai lagi…., mengapa menunggu ditanya…bukankah segala sesuatu sudah dilengkapi…, sedang malu bertanya sesat di jalan katanya…😆

4. bedh - 11 Januari 2008 12:57 pm

huhuhu saya setuju nggak mungkin orang masuk surga hanya karna dia fasih berbahasa arab, enak bener jadi orang arab. mengaji dengan faseh juga belum jadi ukuran yah pak? mungkin yang penting itu mengkaji yah pak bukan mengajinya huhuhuhu.

ntar kalo dah nemu jawabannya jangan lupa bagi-bagi yah pak.
*mupeng mode : on*

5. abah dedhot - 11 Januari 2008 1:10 pm

“…Untuk mencari bocoran, tentang shalat yang seperti apa yang ditanyakan itu, kepada siapa kira-kira harus bertanya…???? Atau engga perlu bertanya…apakah kira-kira ada ulama, ustadz-ustadz yang sudah dapat bocoran tentang hal ini…???…”

pasti nulisnya lagi didepan cermin…😆

6. abah dedhot - 11 Januari 2008 1:23 pm

@mas zal
kayanya… bagusnya… digelar dulu “sejarah” mengenai awal mula turunnya perintah shalat… yang itu tuh… yang sering peristiwanya dirame-ramein (harusnya diper”ingat”i) sama orang-orang. haqiqat dari ‘abdiNYA yang diperjalankan dari baitul muharam – baitul muqadas – langit – neraka – surga – sidratul munthaha (final destination) – back to baitul muharam, membawa shalat. (menempuh 7 maqom).
Apabila ini sudah dijabarkan oleh kyai zal… insyaallah “shalat” yang dimaksud bisa ABAH fahami…
salam

7. joyo - 11 Januari 2008 4:43 pm

*duduk manis nunggu sang Pembocor*

8. abah dedhot - 11 Januari 2008 9:39 pm

lho… kok… sang Pembocor, malah duduk manis…???

9. syahbal - 12 Januari 2008 1:37 am

lagi mbahas masalah shalat yax????

shalat teh klo teu salah mah ibadah kan???

10. zal - 12 Januari 2008 2:20 am

::bedh ibarat nyetir, saya ini taunya udah bisa bawa mobil, nah untuk bocoran bagaimana tekniknya, seluk beluk teknik nyetir, itu mah tugas Si Abah dedhot, Beliau ini sangat detail, segala selat, teluk, palung, dll diteliti, sehingga engga ada satu cm pun yang terlewat dari amatannya, kalau saya mah bisa jalan aja udah apik.

::abah tuh, joyo ama bedh termasuk saya udah nunggu penjelasan detailnya…, abah kan tahu kalau saya ini kalau dijalan suka molor, eh si abah njelalat sana sini, pengen tau sagalanya…nah sekarang oleh-oleh pandangannya dituntut harus dijelaskan disini😆

::marhaba ya syahbal, iya benar…, ini ngebahas shalat yg ibadah itu….

11. brainstorm - 12 Januari 2008 2:24 am

harus dengan ritual2 juga ya untuk dekat dengan Nya?? belum cukup dengan menjadi orang baik yang dihatinya udah tertanam Love of God..

12. syahbal - 12 Januari 2008 5:24 am

@zal

oh…
brati harus tau apa itu ibadah dulu dong…

truz ibadah itu apah??

13. joyo - 12 Januari 2008 10:05 am

ada yang sedang belajar…🙂
*masih duduk manis menunggu abah dedhot😀 *

14. zal - 12 Januari 2008 10:10 am

::brainstorm, dari apa yang difahamkan pada saya saat ini, jalan ritual hanya salah satu jalan pencarian, kebetulan saya kebagian yang melakoni shalat, maka inilah mungkin cara jalan untukku, banyak yang dikenalkanNYA kepada saya melakoni dengan berbagai cara. kayaknya Allah engga melihat cara, namun bagaimana yang dibalik dada itu…
mengenai tertanamnya Love of God, sebenarnya pada tiap hamba laki-laki dan hamba perempuan ditempatkan cinta dan kasih sayang dan diujung ayat mengenai ini disebutkan menjadi pelajaran bagi yang berpengetahuan,

::syahbal, ibadah mungkin bentuk kata lain dari pengabdian, pengabdian yang terfahamkan di saya, merupakan totalitas dari apa saja yang dibuat Allah yang harus kita alami, dari aktivitas, perasaan, hubungan-hubungan dll, yang mungkin dari segala hal ini akan membangun pada diri kita itaquallah, syobiriin, mukhlisiin, muslimiin dll. wallahu a’lam.

15. zal - 12 Januari 2008 10:13 am

::joyo, ho oh, abah mungkin harus menjabarkannya…😆

16. abah dedhot - 12 Januari 2008 11:07 am

waduh… inilah keahlian kyai zal, dia bisa memeras sang fakir, uadah jelas-jelas fakir tapi masih aja di peras-peras…😆
akhirnya…
“…didalam pengerjaannya, kita mengucap dua kalimah syahadat, padahal dalam urutan rukun Islam mengucap dua kalimah syahadat merupakan urutan pertama….”
disaat kyai zal lagi latihan band mau mau manggung, menggelar musik metal, sebelumnya mas zal sudah yakin benar bahwa pagelaran itu ada penontonnya (yang menyaksikan). sebagus apapun permainan musik yang ditampilkan… ngga syah, tanpa ada penonton atau pendengar yang menyaksikan.
Jadi jelas yang merupakan syarat pertama harus ada “penyaksian”, baru kemudian yang kedua… permainan musik metal… dimana penonton SUDAH PASTI ada didalamnya.
“shalat tiada ARTI tanpa syahadat, dan syahadat tiada GUNA tanpa shalat”

Nah yang ke 2 :
“…pendapat ulama yang mengatakan bahwa rukun Islam itu bukan ditulis dalam urutannya…”
itu mah ulama LIEURRR…
semua harus tersusun rapi, yang pada pelaksanaannya ke 5 rukun tersebut manunggal adanya. tapi terurai dalam pengertian.
Kalo mau nyetir mobil… mesti pegang kuncinya dulu, trus buka pintu, masuk & duduk dikursi belakang kemudi, start mesin, masukin gear perseneleng… baru bisa jalan… eh abah lupa mesti tutup pitunya lagi. pada peristiwa nyetir mobil : kunci, jok, setir, mesin mobil dan abah manunggal adanya.

yang ke 3 :
“…bahwa yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat adalah prihal shalat…”
nah kalo yang ini, abah mau istirahat dulu ah… pegel euy. habis nyetir seharian… tapi kalo dipijitin sama mas zal… abah bisa lanjut lagi…😆

salam

17. zal - 12 Januari 2008 11:43 am

::abah mungkin penonton lebih menyenangi jika abah menyajikan perjalanan turunnya perintah sholat itu,😆

::abah, bukankah “AKU hendak mengambil penyaksi”
bukankah, “jika kamu tidak melihat, ingatlah bahwa kamu dilihat”
rasanya engga semua “disusahkan” seperti abah, ada juga yang disenang-senangkan, namun dengan pelaksanaan yang lebih susah, karena harus meyakin-yakinkan…:mrgreen:

18. abah dedhot - 12 Januari 2008 2:16 pm

@mas zal
waduh… ojo ngono mas… kok jadi di kembalikan… yang memberi sesungguhnya yang menerima… ayo dong mas zal…
*habis belum dipijitin, sih*

mas zal, menurut abah … jalannya memang begitu, keIMANan bukanlah pengkondisian… meyakin-yakinkan… melainkan melalui jalan terjal penuh krikil tajam.
bukankah :
“Alastu bi rabbikum…???” bala……….. syahidna…!!!
“siapa” yang menuntut penyaksian…???
salam

19. bedh - 12 Januari 2008 4:00 pm

menunggu dengan sabar, masih ada sambungannya kan?
*lirik2 abah ma zal gi pacaran.

20. joyo - 12 Januari 2008 8:36 pm

lha ni kok malah jadi pijet2an to?
*masih menyimak dan mencatat proses pijet2annya *😀

21. brainstorm - 13 Januari 2008 4:37 am

@ zal

ketika jalan menuju Tuhan berbeda-beda, walau dengan kadar cinta yang sama, apa jadi salah? kalo begitu ada apa dengan ummat manusia ketika yang berbeda jalan lalu bertemu dipersimpangan harus ada yang di kafirkan?

22. sitijenang - 13 Januari 2008 7:50 am

seandainya dulu perintahnya 500x seperti apa lagi salat itu ya? pertandingannya sampe gempor kali…:mrgreen:

23. zal - 13 Januari 2008 9:32 am

::abah, yupe,😆 , “tahukah kamu jalan yang lurus, jalan mendaki lagi berbatu,”… sungguh kamu tidak akan mau kecuali KUkehendaki”

jika semuanya bisa bukankah “golongan yg sedikit” menjadi batal😆
khullafa urrasidin, juga tidak semua berada dijalan ini, kemungkinan besar hanya Abu Bakar Siddiq, sedangkakn lainnya yang mendapat faham Ali RA, sedang yang lain, memahami pola syariat.

::beberapa isyarat tentang shalat ini digambarkan Rasulullah SAW,
1. “Aku lebih senang membantu urusan Saudaraku ketimbang i’tiqab di mesjid selama sebulan”
2. “merenung sejenak lebih baik daripada shalat 60 tahun, atau ada yg menyebut 100 tahun”
3. “Tanda-tanda akhir zaman, mesjid megah namun kosong”

jadi tentang mendirikan shalat adalah lebih baik pada tiap-tiap orang bertanya dengan sangat sungguh-sungguh kepada Tuhan Semesta Alam,
Pengalaman yang diberikan kepada saya tentang bertanya hal ini kepada Beliau, jawabannya melalui AQ, yang setiap saya buka, maka yang terbuka hal shalat itu…, dan pada hadist juga tentang shalat itu.

namun sesudahnya saya coba untuk mencarinya namun tidak ketemu.
wallahu a’lam.

::bedh, abah biasanya dengan mudah akan menjabarkan sesuatu, namun mungkin untuk shalat ini, sepertinya tidaklah mudah mengungkapkannya, sebab distorsinya sangatlah luas, jika diungkapkan akan menimbulkan penyempitan maksud, bukan begitu bah…:mrgreen:

::joyo, mungkin tangannya abah engga mau digerakkan untuk menuliskannya, jadi tangan kanan abah (kalo enggak kidal) beralasan pegal-pegal…🙂

::brainstorm, yang terfahamkan, pengkafiran berada pada kadar ketidaktahuan saja, namun inipun akan menjadi formula guna menimbulkan motivasi “bersegera”, sebab kekerasan tidak selalu diselesaikan dengan “air”, namun bisa dengan “besi”, namun dengan besi akan hancur dan terjadi pengembalian ke asal mula, ada dua kesaksian berbeda “kesaksian fir’aun” menghasilkan “Tuhan Bani Isyrail benar-benar Tuhan, dan akupun berserah diri kepadaNYA” AQ Yunus 90, “kesaksian pengikut Musa AS”, malah menghasilkan anak sapi emas, dari sini ada perbedaan yang dihantam dan yang dibela.

:::mrgreen: memang perintah awal 50 waktu, cumakan 50 waktunya Allah rek… orip iku 😆

24. abah dedhot - 13 Januari 2008 11:39 am

@mas zal
bener pisan, mas… yang abah “celetukin” perihal “turunnya perintah shalat” (ISRA MI’RAJ), penjelasannya yang abah terima sangat kompleks. dalil yang menjadi dasar sangat melimpah, mesti dikupas satu persatu, diantaranya :
karena maqom SHALAT adalah sesuatu yang “sangat sakral”, pembahasan melalui “jalan mendaki lagi berbatu” tidak terelakan. harus dimulai dari pembahasan “IMAN”, yang dalam pengertiannya ada 6 unsur / 6 perkara, dengan iman kepada yaumil kiam / akhir atau yang lebih tepat iman kepada “yaumiddiin” sebagai poros.
“IMAN” inilah yang mendasari / sebagai penyaksian terhadap “ISLAM”, yang dalam pengertiannya meliputi 5 unsur / 5 perkara, dengan SHALAT sebagi poros.
IMAN lah yang memberi jaminan “kemenangan”. & ISLAM yang menjamin “keselamatan”. Maka SHALAT menempati maqom yang sangat sakral, karena meliputi IMAN & ISLAM.
IMAN meliputi perjalanan abdiNYA dari baitul muharam hingga ke sidratul munthaha (& memperoleh kemenangan). Penjabaran perjalanan ini, memerlukan kupasan yang rapih… disinilah abah mulai mumet. satu persatu dari 6 maqom, mesti dikupas. mungkin melalui konsep “martabat tujuh” nya syeh abdul muhyi, atau konsep 8 wejangan Rasullulah kepada sahabat Ali ra. di bukit lawet, by Syeh Muhammad Sirullah… diharapkan bisa menghantarkan.
ISLAM meliputi perjalanan abdiNYA dari sidrtul munthaha kembali dan bersemayam di baitul muharam (dengan membawa SHALAT), kembali sebagai manusia sempurna (berbalut keselamatan) alias INSAN KAMIL .
Aduh… gimana yah mas zal, baru pendahuluan (yang asal lewat) aja, udah ‘ngos-‘ngosan nih… *Semoga DIA mengizinkan… *
apa mau dilanjut…??? atau ada tambahan & koreksi dulu dari mas zal…???

salam

25. abah dedhot - 13 Januari 2008 11:52 am

sabda BIG BOSS : “SHALAT adalah MI’RAJ nya orang-orang beriman”.
AQ : “… dirikanlah SHALAT untuk mengingat KU…”…
& yang lalai / alfa / lupa / tidak mengingat KU dalam SHALATnya… celaka euy, keluar dari jaminan ISLAM.

salam

26. abah dedhot - 13 Januari 2008 8:00 pm

@sitijenang
Sungguh pada kenyataannya, bahwa seperti itulah sesungguhnya SHALAT nya Rasulullah… (yang dikoreksi mas zal sebanyak 50 x, sebenernya sih… ngga ada yang menghitung, saking seringnya). terbukti dengan fisiknya yang ngga mampu mengikuti rasulullah… pernah dikabarkan sampe kakinya pada bengkak, gempor…
dalil : SHALATlah “seperti” AKU SHALAT.
Jadi yang dibakukan oleh ilmu FIQH, itulah yang “seperti” SHALAT rasulullah.
contohnya : Daihatsu memproduksi mobil Grand Max dengan model “seperti” mobil Nissan New Serena. Sudah pasti Grand Max bukanlah New Serena, tetap beda kelas. dia hanya “seperti”.
salam

27. syahbal - 13 Januari 2008 10:56 pm

@bang zal

aduh mau nulis apa yak….

lupa lagi…

mikir dulu…

eh iya…inget…

mau nanya yah…

ibadah itu kan dari ubudiyah… na’budu(kami menyembah)…
truz kata abah (bapak saya, bukan abah dedhot)…
budaya itu berasal dari kata ubudiyah…
jadi budaya adalah ibadah…
bener ga…
jadi ibadah harus dibudayakan…bener ga…
atau budaya yang harus di ibadah kan…
hmmmm… bingung…

28. zal - 14 Januari 2008 8:54 am

::abah, benar ya bah, mi’raj, memandang hamba akan Tuhannya, lalu dengan konsep, “dimanapun kamu, hadapkan wajahmu ke masjidil haram itu”, maka memandanglah hamba kepada Tuhannya, dimanapun, kapanpun, dari dasar pandangan ini maka terbersitlah “lillahi Ta’ala”

::syahbal, yang benar membudayakan ibadah, konsep pembudayaan dimaksudkan pada diri sendiri, pada setiap tindakan, merasakan, dan mencipta apapun dengan menghidupkan hati, yakni memandang pada Sang Khaliq, mempertahankan hal ini dengan kesungguhan, didalam diri baik dalam suka maupun duka
semoga Allah berkenan menyegerakan mengenaliNYA…,

29. abah dedhot - 14 Januari 2008 8:59 am

@mas zal
Apakah tidak riskan bahasan diatas (yang akan digelar…) mengingat “resiko”nya…???
Bukankah orang lebih terpesona dengan “bunga mawar”…??? dibandingkan dengan pohon mawar yang penuh duri tajam dan akar yang kotor penuh tanah…???

salam

30. abah dedhot - 14 Januari 2008 9:38 am

@mas zal
Dalil-dalil :
“Bila engkau memahami keutamaan SHALAT di Baitullah, niscaya engkau akan melaksanakannya meskipun engkau datang dengan merangkak”.
“Jika SHALAT seseorang baik, maka baiklah semua amalnya”.
“SHALAT adalah amanah tuhan, yang gunung dan bumi pun tak mampu menanggungnya”.
“SHALAT merupakan “tiang” AGAMA”.
“SHALAT adalah MI’RAJnya orang-orang beriman”.
“… SHALAT untuk mengingat KU…” ( QS 20 : 13-14).
“Sesungguhnya SHALAT itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (QS 2:45)
“Sesungguhnya SHALAT mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS 29:45).

akan SANGAT TIDAK TERBANTAHKAN, apabila kita uraikan melalui “jalan mendaki dan berbatu”, bahwa SHALAT meliputi IMAN & ISLAM.
bukan atas dasar pengkondisian atau meyakin-yakinkan, akan tetapi berupa cahaya keyakinan yang HAQ.

salam

31. zal - 14 Januari 2008 9:41 am

::benar bah, jika tak ada syir, berarti bergayut nafsu, hanya lantunan siul burung yang terdengar, meskipun indah tak dimengerti maksud siulannya…
namun bukannya mentari membiarkan cahayanya dimanfaatkan untuk apa saja, bunga mawar meskipun tahu akan layu, namun tetap memekarkan diri, untuk dimanfaatkan keindahan dan sarinya..dan juga aromanya….
biarkanlah buah ini busuk, dan menjadi bibit, ketimbang dipetik sebelum ranumnya, sehingga membusuk, masih berasa kecut….

32. abah dedhot - 14 Januari 2008 11:27 am

*bias wajah sang Maha Bijaksana yang abah hadapi*
subhanallah… sir tetaplah menjadi sir
hatur nuhun.

>>saya engga ikutan lho bah 😯

33. bedh - 14 Januari 2008 5:03 pm

*gubrak*

puyeng nih,🙂
@zal @abah
gak bisa nanya lagi, mo dikasih ya kasih. gak juga gak papa. segini aja dah lebih dari cukup kok. huhuhuhuhu

>>puyeng itu singkatan dari pupu yang gayeng yak…😆

34. sitijenang - 15 Januari 2008 3:48 am

@abah dedhot
lha maksud saya misal dibikin estrim gitu. ya udah, kalo gitu 50x kalo cara fiqih kayak sekarang kan gempor abis… menurut pengetahuan saya, proses ketika Muhammad mendapat pencerahan dan tugas pun tidak dengan gerakan yang dicontohkannya kemudian, setelah jadi Rasul. lagi-lagi hanya seperti… bukan begitu abah?

>>bahkan yang sepertinya itu hanya seperti 😆

35. wisnuharjantho - 26 Februari 2008 6:08 pm

mas zal, bagaimanakah menjelaskan ketika sunan kalijaga berdiam diri di tepi kali berhari-hari, yang ketika itu seharusnya secara fisik bisa melaksanakan rukun2 sholat, apakah nabi juga pernah seperti ini ?

36. zal - 27 Februari 2008 3:07 am

::mungkin mas Wisnu pernah membaca suatu hadist :
seseorang yang lagi shalat, dipanggil berulang kali oleh Rasulullah…namun orang itu tidak datang…dan tidak menghentikan shalatnya…
setelah selelesai shalat iapun menemui Rasulullah, lalu Rasulullah bertanya mengapa aku panggil kau tidak datang…, aku sedang shalat jawabnya… tapi aku memanggilmu… sergah Rasulullah…

Pada saat menjelang perang Badhar Setelah berdiam lama.. Rasulullah memerintahkan untuk semua pulang membawa bekal seperlunya dan memerintahkan agar shalatnya dilakukan disuatu tempat…, padahal masuknya shalat asyar sudah sangat dekat…sebagian berangkat duluan, dan bershalat diperjalanan, Rasulullah melihat dan tak menegurnya sebagai suatu kesalahan, padahal perintahnya amat jelas….

Apa kira-kira yang menyebabkan perbadaan dalam pelaksanaan shalat, padahal masing-masing ada perawinya… bahkan Abu Hurayrah telah memproklamirkan Shalatnya yg paling mirip dengan shalatnya Rasulullah…

silahkan mengkontempelasikannya…:mrgreen:

37. wisnuharjantho - 27 Februari 2008 10:32 pm

sebenarnya mau saya tanyakan tadi malam, tadi karena mau fokus dulu ke satu hal jadi saya tunda dan kebetulan nemu (denger hadis) yang lain . Mas Zal, sebenarnya kewajiban harus melakukan rukun sholat secara lahiriah pernah saya tanyakan ke orang lain juga, menurut beliau ada haditsnya, yang artinya kurang lebih begini (nggak tahu dalam bahasa arabnya):” Sholatlah kamu seperti kamu melihat aku sholat” jadi kalo nabi sholatnya seperti itu, maka tuntunannya ya seperti itu, terus dari tauziyah salah satu ulama mengenai sholat khusyu ada hadis yang menyebutkan ketika Rasulullah SAW melihat seorang sedang sholat dan tangannya dimain-mainkan. “Andaikan khusyu hati orang itu niscaya khusyu semua anggota badannya” nah kalo ada hadits yang begini bagaimana cara memahami dg hadits yang sebelumnya disampaikan oleh mas Zal ? terima kasih atas pencerahannya..

38. wisnuharjantho - 27 Februari 2008 10:47 pm

nambahin lagi, biar sekalian langsung rumit jadi dapet penjelasannya yang top, nah kalo rukun sholat yang lahiriah bisa digantikan secara bathiniah, bagaimana dengan rukun haji yang juga sama-sama dalam satu paket kewajiban orang muslim dalam rukun Islam, nanti malah nggak ada yang pergi haji ? wah yang ini pasti sudah pernah jadi bahan diskusi yah, tapi berhubung saya belum tercerahkan, mohon dibagi ilmunya ya mas Zal, terima kasih wasslamu’alaikum wr wb

39. zal - 28 Februari 2008 4:15 am

::Mas Wisnu, sejujurnya saya tidak tahu bagaimana Rasulullah Shalat, kecuali gerakan dan bacaan yang diajarkan muallimah saya sewaktu mengaji diwaktu saya SD dulu, dan kalaupun yg ada sekarang mestinya hanya mengacu pada pendapat-pendapat sebagaimana yg disampaikakn Abu Hurairah yang menurut Beliau shalatnyalah yang seperti shalat Rasulullah.

::kalau mennurut saya, sebaiknya tidak beribadah berdasarkan katanya, siapapun itu, sebab apa yg diketahui di benak atau batin si sumber jauh lebih banyak ketimbang yang disampaikan, karena gerakan dan ucapan itu amat sangat terbatas.

::alangkah baiknya kita melakukan sesuatu sejauh yang dapat kita fahami saja, dan tidak berhenti menggali kebenaran itu melalui hubungan dengan Yang Maha Tahu, sebab ini jauh menenangkan kita, dan bisa jadi ini jauh lebih mulia dalam pandangan Allah daripada sikap yg di ada-adakan, kecuali jika kita memang di fahamkanNYA pada maksud.

Memang Al-Ankabut 45 ada menyebutkan “mengingat Allah jauh lebih besar” namun sebelumnya kan “sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”

::biarkan saja siapapun merasa ibadahnya lebih baik dari kita, toh yang punya ukuran/ neraca, Allah koq, bukankah Allah yang menjadi tujuan kita…, saran saya sih, lakukan saja yg kita ketahui, inilah harta haq yg sementara ini ada pada kita…, kalau Allah akan mencabut dan menggantinya dengan yang lebih baik, itu hak preogretif Allah…akan ada saatnya bagi kita…sejauh kita bersungguh-sungguh…, Insya Allah..

::”nah kalo rukun sholat yang lahiriah bisa digantikan secara bathiniah “…akh buat apa mutasi, jika promosi memungkinkan…:mrgreen:

40. abah dedhot - 7 Maret 2008 10:58 pm

@mas zal
mas abah baru di undang namu ke blog nya sahabat abah… blognya porn abisss, bikin abah horny berat… mantaf.
abah tunggu mas di
http://sodinco.blogspot.com/
salam

41. danalingga - 7 Maret 2008 11:46 pm

Walah, rame nih pencerahannya. Nah sekarang saya mo nanya nih, sekalian melengkapi pertanyaan-pertanyaan yang udah diglontorkan. Tempat naik haji sebenarnya itu di mana sih?

42. zal - 8 Maret 2008 1:40 am

::Abah, yo..meluncur ke TKP

::Dan, kayaknya dana udah pernah nulis tentang tempatnya deh..😆 itu kalau masalah tempat…, cuma kayaknya tempat dan haji masih dibedakan….

43. zal - 8 Maret 2008 7:53 am

::abah setelah ke TKP, saya melihat kumpulan cerita orang lain…

44. abah dedhot - 8 Maret 2008 8:04 am

@mas zal
… Iya mas, sebagai referensi… bisa refreshing, mengingat masa lalu…
mesti di up date dengan rujukan paling sempurna, kitab diri…

@mas dana
wah… bener ya, baru kepikiran… kalo memang ada “naik” haji, sebelah mana “turun”nya ya..???:mrgreen:

salam

45. sodinco - 8 Maret 2008 8:11 am

@abah dedhot
Sekedar klarifikasi ….
Blog di ane betulnya ngambil dari berbagai sumber yang ane
merasa cocok lalu di taruh di blog ane …

@mas zal, mas dana, santri gundhul
Mohon izin untuk ngopy bebapa artikel2 mas sekalian
untuk di taruh di blog ane

salam

46. sodinco - 8 Maret 2008 8:17 am

@mas dana
sedikit urun rembug mengenai naik haji ane kutipkan suluk wujil:

Norana weruh ing Mekah iki
alit mila teka ing awayah
mang tekaeng prane’
yen ana sangunipun
tekeng Mekah tur dadi Wali
sangunipun alarang
dahat dening ewuh
dudu srepi dudu dinar
sangunipun kang sura legaweng pati
sabar lila ing dunya//
Masjid ing Mekah tulya ngideri
kabatollah punikaneng tengah
gumantung tan pacacantel
dinulu saking luhur
langit katon ing ngandap iki
dinulu saking ngandap
bumi aneng luhur
tinon kulon katon wetan
tinon wetan katon kulon iku singgih
tinggalnya awalesen

Artinya :
Tidak ada yang tahu Mekah yang sebenarnya. sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai tujuannya. Bilamana ada orang yang membawa bekal lalu sampai di Mekah dan menjadi wali, maka sungguh mahal bekalnya itu, dan sulit diperoleh. Bekalnya itu bukan rupiah atau dinar, tetapi keberanian dan kesanggupan untuk mati. Kesabaran dan kerelaan hidup di dunia.
Mesjid di Mekah seperti mengelilingi. Ka’bahnya ada di tengah dan bergantung tanpa pengait. Dilihat dari atas, tampak langit di bawah. Dilihat dari bawah, tampak bumi di atas. Melihat barat yang terlihat timur, sedangkan melihat timur yang terlihat barat. Sungguh itu penglihatan terbalik.

sumber : http://ridoxxx.multiply.com/journal

47. zal - 8 Maret 2008 9:31 am

::he..he…sampai saat ini sepertinya bolehlah meyakinkan abah dedhot bukan sodinco,😆

::ada suatu cerita yang pernah saya baca, seorang guru memanggil muridnya yang selalu menceritakan kehebatan gurunya ke orang-orang, lalu gurunya mengingatkannya, agar tidak menceritakan hal orang lain, namun carilah hal diri, dan menetapkan muridnya tsb, untuk pergi meninggalkannya, dan kembali lagi setelah 4 tahun”
si murid pergi meninggalkan sang guru, tanpa memahami maksud gurunya, setelah empat tahun si murid, kembali menemui gurunya, gurunya meminta cerita tentang dirinya, lalu si murid tadi menceritakan sesuatu, dan si gurupun tersenyum puas.

nyamuk nekad mendekati manusia, untuk menyedot darah beberapa tetes, meskipun dilantai berserakan jasad nyamuk lainnya…karena darah itu diperlukan untuk melanjutkan kehidupan baru…adakah metode lain selain bernama nekad… ???
nekad dan tekad hanya beda N dan T…😆

48. razuka - 29 Mei 2008 4:52 am

dalam AQ diceritakan…..
Neraka wail buat Orang yang Sholat…. yang seperti apa yachhhh???
tidak lain yang MENGERJAKAN SHOLATmaka Allah akan cemplungin dia kedalam neraka wail apling dalem lagi.!!
..yaitu ketika SHOLAT dia tidak menghadapkan wajahnya kepada BIG BOSS ( pinjem kata2nya ya abah )
..ketika sholat yang dalam benaknya masih mikirin hal2 yang lain
..ketika sholat tidak lagi diDIRIKAN
..ketika sholat dianggap ibadah kewjiban
..ketikan sholat tidak menjadikan kita menjauhi kemungkaran
..apalagi yachhh??..ketika sholat menjadikan kita media untuk nandur PAHALA….
..ketika sholat menjadi hal yang terselip didalamnya kekejian yang nyata….MAKA kata rasulullah:
>>dirikanlah sholat seperti yang aku lakukan karena..
barang siapa yang mengerjakan amal ibadah tidak seperti yang aku contohkan maka akan TERTOLAK.
dan..segala yang tertolak tempanya…diiiii…..??????
maaf saya ga berani nerusin ach…takut bae!!!!
-salam-

49. zal - 29 Mei 2008 10:26 am

::ooh…gitu ya…, tapi saya engga bisa gerak…, cuma saja dibolehkan niat gerak, maka kamipun bergerak…sepertinya…

50. chawz - 22 Juni 2008 12:41 am

ckrg mah Qt ikuti kata hati Qt z..n ttp ykin kl Allah bsrta Qt,dlm lngkah,grak,nfas n ucpan Qt.
Cuz shalat itu @ slah 1 mdia antara Tuhan n umat-Nya..
so…enjoy ur love !!!

zal - 18 Oktober 2010 12:32 pm

Tks Chawz, Anda Benar…

51. sodik - 17 September 2010 2:50 pm

minal aidzin wal faidzin..maslh ibadah (sholat) itu pribadi dn allah yang tau mslh sholat spt apa yang akan d tanyakn sdh d jlaskan lngakp d al-qur’an dan hadits..yg perlu qt ketahui Allah tdk pernah memaksakn batas kmampuan makhlukny dlm hal apapun yang penting qt terus blajar agar mendkati sempurna dlm ibadah…..amin

zal - 18 Oktober 2010 12:32 pm

Tks Sodik, ya.. Anda benar…

52. Filar Biru - 27 Oktober 2010 3:48 pm

Sholat juga pertanyaan yang paling mematikan diakhirat kelak mampuslah awak, aduhai diriku

zal - 27 Maret 2011 11:04 am

kok tidak sekarang saja ditanyain…, ada istilah pertahanan yang paling efektif adalah menyerang…nah sebelum ditanya, tanyain aja tentang shalat itu (jangan salah menerjrmahkan “kepada yang tahu” pilih yang paling tahu jangan sama yang sok tahu seperti saya ini ya..), jangan mau nunggu akhirat (kelak)..temuin aja akhirat sekarang…sekarang juga….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: