jump to navigation

YAMAWARAWA, monster baik yang tidak dipercayai keberadaannya…. 24 Desember 2007 4:48 am

Posted by zal in Yang dialamikan, Yang direnungkan.
trackback

Alhamdulillah, hari ini saya dipertemukan dengan suatu film seri pada salah satu televisi swasta yang saya engga tau judulnya, yang jelas itu sebuah film seri sepertinya dari rumah Produksi Jepang, (hmm … sama dengan Doraemon ya…wah jangan-jangan menyesatkan juga kayaknya..) yang biasa disuguhkan buat anak-anak.

Ceritanya begini :


Yamawarawa, sebagai tokoh monster itu adalah makhluk halus yang pada cerita ini hanya bisa dilihat anak-anak,  dan cerita ini dimulai dimana dalam perjalanan dengan Ayahnya, seorang anak, bertemu dengan Yamawarawa ini, dan mengikuti arah kemana Yamawarawa pergi,

Setelah kembali dan bertemu ayahnya, si anak yang menceritakan pertemuannya dengan makhluk itu, langsung diceramahi panjang lebar, dengan tekanan jangan banyak berhayal dan bermain, harus focus pada pelajaran.

Di tengah perjalanan kembali, Yamawarawa, sang monster yang sudah berubah wujud menjadi besar dan sekaligus sedang berang, ternyata mengikuti arah perjalanan mereka, dan keduanya dapat melihatnya, termasuk unit keamanan yg sedang beroperasi di daerah tersebut, sianak diculik oleh Yamawarawa, dan dibawa pergi.

Ayahnya yang ditemukan unit keamanan tadi bercerita dan mengaku bahwa “semasa kecilnya, dia pernah ditolong oleh Yamawarawa, dan mulai dari itu, mereka menjadi bersahabat, dan hal ini diceriterakannya kepada temannya disekolah, temannya yang tidak dapat menerima kebenaran cerita ini, langsung menyebarkannya disekolah, walhasil teman-temannya mengejeknya sebagai pembohong, dan dikucilkan, bahkan guru dan orang tuanya tidak percaya, kecewa dengan keadaan ini si anak menjadi frustasi, dan akhirnya mereka pindah ke Tokyo,

Yamawarawa yang mengetahui keadaan tersebut, ikut frustasi, dan entah bagaimana memang hanya si ayah itu saja yang bisa melihat, sedangkan yang lainnya tidak berkesempatan melihat.   

Singkat cerita, si Ayah tadi bertemu dengan Yamawarawa, dan terjadilah dialog nostalgia yang mengharukan, si Ayah menunjukkan sebongkah batu kenag-kenangan pada pertemuan mereka di masa kecil si Ayah, yang akhirnya Ramawarawa kembali menjadi makhluk baik.

Di akhir cerita sebuah narasi disampaikan, bahwa siapa saja yang memiliki jiwa anak-anak bersiaplah untuk bertemu dengan Ramawarawa, karena Ramawarawa akan mengunjungi siapa-siapa yang memiliki jiwa anak-anak.

Film ditutup dengan dialog “apakah kapten dapat melihat Ramawarawa, dan dijawab Kapten “ya, aku dapat melihatnya” sambil matanya tak lepas dari bentuk mainan ditangannya sebagaimana juga dipegang oleh penanya, dan sipenanya dengan riangnya berucap sambil tertawa senang “ya aku juga”…

Moral cerita menurut saya (ini menurut saya lho…) :

  1. Demikianlah ketidakmungkinan menggambarkan sesuatu yang ada pengetahuan yang meyakinkan pada kita, dan tidak ada pada yang lainnya, seperti apapun kita mencoba menyampaikannya hanya akan menghasilkan cemoohan, Namun lihatlah, entah bagaimana prosesnya, banyak yang dapat mempercayai Para Rasul, tanpa mengalami yang mungkin dialami oleh Para Rasul itu, dengan jawaban Pasti, “apa yang sudah tercatat pada kitab suci itu pasti adanya, maka mengapa meragukannya..???,  dan itu memang engga salah, yang mengherankan justru pada ketidak percayaan jika ada orang yang diberi pengalaman sebagaimana yang dialami Para  Rasul, maka langsung saja di CAP SESAT,  (padahal tidak ada pembatasan pada jumlah Rasul, untuk Nabi memang jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad berkata : “Akulah penutup Para Nabi, sesudah Aku tidak ada lagi Nabi, Aku umpama sebuah bangunan, dimana ada satu sisi dari bangunan itu jika ditutup maka keseluruhan bangunan itu menjadi indah, itulah Aku”) .
  2. Memiliki jiwa anak-anak, sebagaimana distate bahwa anak-anak memiliki jiwa yang masih suci ibarat kertas putih (kata Rasulullah SAW), jadi siapapun yang sudah tersucikan jiwanya oleh Yang Maha Suci, maka berpeluanglah untuk mengalami Mi’raj.
  3. Besar kemungkinan ketidak percayaan atas hal “Pertemuan”, akan dibukakan dengan lebar bagi banyak Ummat dengan demikian “kebenaran”  sebagaimana Al Ayat menyatakan “Kalla syaufata’lamuuna ‘ainal yaaqiin, (jangan begitu sungguh kamu akan mengetahui dengan pengetahuan yang Yakin) dan lebih dipertegas dengan “Tsumma latarawunnaha ‘ainal yaqiin” (sungguh kamu akan melihat dengan pandangan yang yakin), mungkin akan ada sanggahan bahwa ini adalah hal melihat neraka…, ya…benar.., namun bayangkanlah bahwa Neraka adalah hal yang ghaib, jika Neraka berpeluang untuk di pandang maka akan ada peluan pada Hal kesurgaan.   

Allah menyatakan Kemanapun kau memandang disana wajah Allah berada, sudah kau melihatnya..???, jika tidak terlihat olehmu, mengapa tak risau hatimu….

Allah menyatakan, “buta di dunia, maka buta di Akhirat”, mengapa masih asik mengatakan nanti akan tahu sendiri setelah mati…, jika mati, bukankah itu sudah memasuki konteks akhirat….???

Wallahu a’lam bissyawab.

Komentar»

1. sitijenang - 24 Desember 2007 7:58 am

tapi bigimana caranya ngomong sama orang tuli? menunjukkan sesuatu kepada orang buta? mungkin harus bareng-bareng sebelum bisa mengenal bentuk seekor gajah.

2. zal - 24 Desember 2007 9:31 am

::mboh wes,…, sepertinya bukan karena kemampuan manusia mencapai pengelihatan, mendengar dan memahami, namun satu hal yang sering terlupa, bahwa ada gerak ada jalan,..eh jadi gerak jalan…ya…😆

3. danalingga - 24 Desember 2007 9:50 am

Walah, zal sekalinya posting langsung berat gini.

Kapan ya bisa melihat Yamawarawa?🙄

4. zal - 24 Desember 2007 10:00 am

::dana, he..he, bukannya udah…😆

5. sitijenang - 24 Desember 2007 11:24 am

ya sudah dikirim doa aja. wong gerak juga karena ada yang menggerakkan. katanya kan hidayah hanya milik-Nya.

btw, sudah direvisi tuh tulisan saya. pindah ke wilayah yang tidak terdefinisikan😀

6. arwa - 24 Desember 2007 3:28 pm

Bentuknya seperti bagaimana ya.. ?
takut kejebak ilusi dan imajinasi soalnya.., jadi bisa ngebedain mana yang asli mana yang palsu. Mana yang nyata mana yang jadi-jadian.

berharap dipertemukan yamawarawa.

7. joyo - 24 Desember 2007 7:47 pm

saya melihatNya di Blog ini😀

8. rozenesia - 24 Desember 2007 7:52 pm

Duh berat… – -;

Awalnya ditulis Yamawarawa, tapi kok di ujung jadi Ramawarawa?😕

9. zal - 25 Desember 2007 4:04 am

::sitijenang😆 yup itulah maksute….😆 cuma kebahagiaan memang warna syukur yang baik ya…

::joyo…, yang mana…koq aku engga ngeliat 😆

::Roze, aku juga confuse di akhir penulisan, lh koq tertulis rama, dan itu beberapa kali…. apa maksudnya emang rama kali ya…😆

10. kurtubi - 25 Desember 2007 6:33 am

begitu semanganya pada nasehat terkhiarnya itu yaa… heheh🙂
mencerna pak…

“apa yang sudah tercatat pada kitab suci itu pasti adanya, maka mengapa meragukannya..???, ”

… bagaimana tidak ragu, wong tafsirnya macam-macam kang Zal..🙂

11. zal - 25 Desember 2007 7:12 am

::he..he Pak Kurt, sepertinya di blognya Pak Kurt, simpanan sudah mulai dikeluarkan ya…

Nah, state yg seperti itu, yg sering muncul, dan ini juga banyak terbaca pada comment-comment, padahal sebagaimana comment Pak Kurt berikutnya, atau apa yg ditulis oleh Pak Agor,

ada beberpa terjemahan AQ yg saya baca, masing-masing berbeda, bukan saja masalah cara menyampaikan, bahkan sepertinya sudah berbeda arti…, belum lagi tulisan yang di dalam kurung ( ), apa memang seperti itu maksud Allah., saya sdh coba bandingkan terjemahan Hamka dengan terjemahan Kementrian Agama…, tetapi, engga masalah juga sih, sebab sepertinya bukan disitu letaknya…😆

12. evan - 25 Desember 2007 7:41 pm

ah…jadi pengen tetep anak-anak.

13. zal - 26 Desember 2007 12:54 am

::evan::
iya..ya…, mungkin anak-anak yg dewasa ya…soalnya kata ari laso hanya buat laki-laki yg cukup umur…😆

14. Kurt - 26 Desember 2007 6:24 am

Aku terenyuh setiap membaca ini:

Allah menyatakan Kemanapun kau memandang disana wajah Allah berada, sudah kau melihatnya..???, jika tidak terlihat olehmu, mengapa tak risau hatimu….

hmmmm… ngelus2 dada sama kumis🙂

15. zal - 26 Desember 2007 9:26 am

::Allahumma Ya Allah, shodoqollohul adziim….
Layukallifullahu nafsan illa wus’aha laha ma kasabat wa’alaiha maktasabat.

16. ordinary - 29 Desember 2007 1:10 am

Allah menyatakan Kemanapun kau memandang disana wajah Allah berada, sudah kau melihatnya..???, jika tidak terlihat olehmu, mengapa tak risau hatimu….

Seluruh alam beserta isinya adalah kegelapan. Sedangkan yang meneranginya hanyalah cahaya kebenaran dari sisi Allah. Barangsiapa melihat sesuatu di alam ini, tetapi tidak menyaksikan Allah didalamnya, baik disisinya, dibelakangnya maupun didepannya, atau sebelum dan sesudahnya berarti cahaya Allah itu telah membuatnya silau hingga dia terhalang dari cahaya makrifat lantaran diselimuti kabut tebal keduniaan

*menunduk* contoh orang yang terhalang melihat hakikat

17. zal - 29 Desember 2007 2:20 am

::may, hmmm berapi-api sekali..ya…kaayak pejuang 45😆
may…, ungkapan ini kok seperti ungkapan yg pernah saya kenal ya…dimana saya pernah mengenalnya…ah saya lupa…,
sepertinya may, bukan alam beserta isinya kegelapan, IaNYA amat terang benderang, dari kesilauan ini yang tampak alam dan isinya, jika redupnya telah mewarna, malah segalanya tak terlihat yang ada hanya cahaya….
jika berkenan may, jangan mendulang buah fikiran yang lainnya, yg tanpa sedar menempel dan hidup seperti parasit pada fikiran kita, itu seperti meremehkan diri kita sendiri, yang kata ALLAH, janganlah kamu melupakan Allah, solah kamu melupakan dirimu sendiri…sebagus-bagusnya permadani disebelah rumah, itu permadani yang bukan pada kita..
seburuk-buruknya yang ada pada saya, inilah saya, yang memang buruk, dungu dan tolol..jika kau melihat itu disini…itulah saya…si bengak….

18. ordinary - 29 Desember 2007 4:33 am

😆
*mode berguru on*

sayah super bengak bang,
ibarat bertamu, jika kudatang dengan keadaan yang tak sepantasnya apatah reaksi yang punya rumah, sebab itu kupinjam “permadani” tetangga (binun ngapain bawa permadani buat bertamu yaa.. asli memaksakan keadaan🙂 )
tapi benar kata abang, seburuk2 keadaan, inilah saya, jika melihat disini, inilah isi ku,

btw, kerelatifan selalu menjadi alas agar kita bersentuhan pada sempalan-sempalan ide lainnya ya bang😉

silau
silau
silau

19. ordinary - 29 Desember 2007 4:35 am

tanpa sedar menempel seperti parasit pada fikiran kita

hmmm…. FUN BRONTOK!!!!!!

20. ordinary - 29 Desember 2007 4:37 am

serius bang.. ini ga da niat hetrix, cuman setelah koment keduax yang terpotong itu.. koq kayanya salah sangatlah bila tak disertakan penjelasan mengapa oh mengapa
*dikasih arsik*

21. zal - 29 Desember 2007 10:54 pm

::dasar si lasak…😆
dariKU segala masalah kepadaKU kembalinya…, mau reaksi apa may…😉
yupe fun brontok mungkin baik sebagai umpama, sebab biasanya comment pada fun brontok ini baik, orang yg membuat seperti idealis, namun dialah tameng dari segala virus yang mengalir, sebab intimidasinya “ini hanya fun viruses, tidak berbahaya, jangan coba-coba menggunakan antivirus untuk menghapusnya akan tahu sendiri akibatnya”, maka mengalirlah worm dkk, dan pada saat dijalankan antivirus, serta merta windows log out, atau shutdown, seperti penolakan kita terhadap kemungkinan besar adalah yg akan di hakkan kepada kita.
maka sebagian besar Para Sufi, berpedoman, genggam apapun ditangan, sampai lelah tangan menggenggam, lepaskan, dan ini biasanya akan kita fahami dari tindakan…
sebagai share, tiada kemampuan siapapun membuat kita menjadi apapun dalam kaitan kedekatan dan penyatuan, “subhanallazi biadihi laila” hanya yang Maha Suci dan Menyucikan itu saja, kalau kita berujar-ujar di blog, cerita-cerita dimanapun tentangNYA, itu hanya senang-senangan, “Salamun qoulammirobbirrochiim”, “mereka muda dan sebaya, dan perkataan mereka “salam”, ini cerita slumun, slumin slamet…, kedekatan, penyatuan bukan pengetahuan yg diumbar, biasanya dia akan berjalan secara otomatis…, meskipun dengan ini ungkapannya dirasa remeh, yg bisa jadi sebab tdk dimengertikan kepada lainnya….
halah sok tahu juga…, macam yang tau aja.. 😆

22. ordinary - 31 Desember 2007 12:54 am

terhadap kemungkinan besar adalah yg akan di hakkan kepada kita.

*mupeng*
amiiiinnn

23. Kadung Kecebur di Sumur Maya « SANTRI BUNTET - 31 Desember 2007 6:34 am

[…] Zal, blogger baru tapi kata-katanya menggoda. Dia banyak bertutur di blog ini terutama dalam komentar-komentarnya yang menggenjoti dan menjedoti kepala saya. Sebuah pertanyaan nakal dan menelisik ke dalam sanubari sering sekali terlontar. Saya amat penaaran dengannya. […]

24. Tito - 2 Januari 2008 9:52 pm

Demikianlah ketidakmungkinan menggambarkan sesuatu yang ada pengetahuan yang meyakinkan pada kita, dan tidak ada pada yang lainnya, seperti apapun kita mencoba menyampaikannya hanya akan menghasilkan cemoohan, Namun lihatlah, entah bagaimana prosesnya, banyak yang dapat mempercayai Para Rasul, tanpa mengalami yang mungkin dialami oleh Para Rasul itu, dengan jawaban Pasti, “apa yang sudah tercatat pada kitab suci itu pasti adanya, maka mengapa meragukannya..???, dan itu memang engga salah, yang mengherankan justru pada ketidak percayaan jika ada orang yang diberi pengalaman sebagaimana yang dialami Para Rasul, maka langsung saja di CAP SESAT

mantaf, Pak Zal….

cukup jelas… gak ada yg perlu saya komentari lagi….
*lah ini komentar juga pan?*😆

25. zal - 3 Januari 2008 10:10 am

::he..he..semoga saya bisa menikmati segala sesuatu, dengan biasa-biasa aja… itu baru mantaf…. 😆

26. bedh - 11 Januari 2008 1:06 pm

pak minta alamat YAMAWARAWA….
boleh nggak?

27. zal - 12 Januari 2008 2:08 am

::bedh, alamatnya…panggil pake huhuhu itu, mesti dia keluar…😆

28. syahbal - 12 Januari 2008 5:42 am

aduh…pelem nya ini kapan…meni pengen nonton pisan euy…kayaknya mah rame nya???

cuma pengen nanya ajah…
“jika ada orang yang diberi pengalaman sebagaimana yang dialami Para Rasul, maka langsung saja di CAP SESAT, (padahal tidak ada pembatasan pada jumlah Rasul, untuk Nabi memang jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad berkata : “Akulah penutup Para Nabi, sesudah Aku tidak ada lagi Nabi, Aku umpama sebuah bangunan, dimana ada satu sisi dari bangunan itu jika ditutup maka keseluruhan bangunan itu menjadi indah, itulah Aku”)”

maksudna apah???kaga ngarti..
takut salah ngarti in…kan bang zal ini pake bahasa langit…jadi susah dimengertinya…hehehehehe…biasa rada oon…

mungkin setelah dicerna…maksudnya masih mungkin ada Rasul lagi…tapi klo nabi mah udah ga mungkin ada lagi…gtu bukan???

klo bener..mau nanya…

bukannya kalau seseorang siswa mau masuk pintu kelas (Rasul) itu harus lewat dulu gerbang sekolah(Nabi)???

truz gimana caranya sang siswa bisa masuk kelas kalau gerbang sekolahnya sudah ditutup….klo dari pengalaman saya mah yah…sogok ajah satpam sekolahnya…hehehehe…

thanks…

29. zal - 12 Januari 2008 9:49 am

::syahbal, percayakan bahwa ada zohir ada ghaib, sesuatu yang ada pada zohir ada juga dalam bentuk ghaib,
inilah mungkin mengapa Allah menyatakan, orang yang beriman, adalah orang yang percaya pada yang ghaib.
Rasul zohir, sebagaimana Rasulullah, yang dikatakan Allah, Beliau Nabi dan juga Rasul, nah kerasulan itu yang membawa beliau sebagai penyampai perintah Allah,
Jika pada materi tassawuf pada tiap jiwa adalah Nur Muhammad, inilah yang menuntun manusia mengenal akan kebenaran.
statement ini tidak mudah mempercayainya jika dikembangkan baik dalam bentuk buku bacaan ataupun percakapan, semoga tidak berlebihan kiranya jika saya sebutkan bahwa Rasulullah mengalami suatu hal saat Beliau berada di Goa Hira’, dan selanjutnya Beliau menghabiskan malam-malamnya dengan bermuhasabah, dengan ini ada bentuk kesadaran baru, apa dan siapa diri ini, dan sebagaimana hadist yang cukup pupuler bagi mereka yang melakoni pencarian bertauhid, “mengenal diri mengenal Allah” ,
bentuk-bentuk pengalaman ghaib yang dirasakan langsung bagi para “pencari” Al Haq, yang membangun bentuk keyakinan mutlak, dan pada saat dibukanya hijab yang jelas sangat berbeda dari ketidak tahuan menjadi ada pengetahuan yang meyakinkan.
meskipun jawaban ini panjang, namun jelas pertanyaan syahbal sangat menyulitkan saya untuk menjawabnya…, semoga yang sedikit ini bermanfaat, Insya Allah.

30. Kadung Kecebur di Sumur Maya « Anti Buntet - 16 September 2010 4:44 pm

[…] Zal, blogger baru tapi kata-katanya menggoda. Dia banyak bertutur di blog ini terutama dalam komentar-komentarnya yang menggenjoti dan menjedoti kepala saya. Sebuah pertanyaan nakal dan menelisik ke dalam sanubari sering sekali terlontar. Saya amat penaaran dengannya. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: