Sedikit, tentang Surah Al-Maa’uun 28 Desember 2008 12:53 pm
Posted by zal in Yang direnungkan.trackback
Tertarik dengan postingan Mas Agor disini, yang menyajikan ulasan sebuah buku yang mengambil dasar pemikiran dari AQ : 107 (Al-Maa’uun).
Surah ini hanya 7 Ayat, dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut yang saya coppas dari sini:
Bismillahirrahmanirrahiim
- Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (QS. 107:1)
- Itulah orang yang menghardik anak yatim, (QS. 107:2)
- dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. 107:3)
- Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS. 107:4)
- (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. 107:5)
- orang-orang yang berbuat riya . (QS. 107:6)
- dan enggan (menolong dengan) barang berguna . (QS. 107:7)
Mohon maaf, pemberian tambahan kalimat dalam tanda kurung sengaja saya coret, sebab bagi saya, membaca terjemahan tanpa menyertakan yang ada pada tanda kurung, dapat lebih memberi terjemahan yang murni dari terjemahan ayat-ayat tersebut, percayalah, jika belum percaya, buktikanlah…, dan jangan sekedar percaya tanpa bukti, bahwa tidak ada yang lemah pada AQ, meskipun yang dibaca terjemahan saja, dan sungguh tidak ada yang perlu ditambahi (mesikpun sekedar dicantumkan didalam kurung)
Namun demikian, bagaimana cara Anda membacanya dipersilahkan saja, dan itu pula sebabnya yang dituliskan dalam tanda kurung tidak saya hapus…
Apa yang akan saya tulis lebih lanjut bukanlah tafsir dari surah ini, sebab saya bukan mufassir, saya hanya amat sangat percaya dengan ayat berikut AQ 75:18 ; AQ 75:19; intinya Allah lah yang membacakan dan Allah pula yang memahamkan…dan….
Entah bagaimana, pada kefahaman saya yang tersirat surah ini bukan sekedar ayat tentang pemberian sedekah atau bantuan kepada orang-orang yang berstatus yatim ataupun fakir miskin, saya lebih merasakan pesan ini ditujukan bagi diri-diri tentang sesuatu yang penting dan itulah dia barang yang berguna tersebut…meskipun secara arti harfiahpun bukannya salah…namun rasanya ada sesuatu yang lebih dari itu dan amat sangat berguna dalam menggapai tujuan hidup ini…
Ayat pertama…yang mendustakan agama, sepertinya ini bukan masalah ngaku-ngaku beragama ini-itu, disamping itu tidak distate tentang sebutan agama tertentu, dan perlu diingat pula bahwa AQ bersifat universal, jika berpandangan AQ adalah kitabnya yang beragama islam yg dikenal sekarang…”kalau Nabiullah Muhammad SAW pernah ditanyai dari depan, kanan, kiri dan belakang tentang apa agama itu, Beliau menjawab ..”itu akhlak yang baik…”, di hadist yang lain Beliau berkata “tidaklah aku diutus kecuali menyempurnakan akhlak”…jadi agama itu lebih lekat dengan pribadi… jadi sepertinya arah dari kalimah “mendustakan agama..” kecenderungannya kearah “menipu diri sendiri…”
ayat kedua :…itulah orang yang menghardik anak yatim, siapakah anak yatim yang dimaksud Allah, bukankah semua manusia berpotensi menjadi anak yatim, meski dia Onasis, atau orang terkaya di dunia saat inipun berpotensi jadi anak yatim, jika orang tua laki-lakinya meninggal, kalau Ibu Bapaknya meninggal malah lebih yatim lagi piatu…maka “anak dari ex=Presiden” yang Ibu/ Bapanya sudah meninggal pun tak boleh dihardik, apa seperti itu…??? rasanya bukan itu, rasanya ada sesuatu yang tersembunyi dari kalimat ini, dan itu merupakan bagian/ terkadung dari tiap diri manusia…
ayat ketiga :…dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, apakah ada orang yang tidak lagi berusaha untuk memperkaya dirnya, tidak lagi berusaha saking kayanya…enggakkan, menurut faham saya, sepanjang orang tersebut masih punya keinginan terhadap apapun, maka tak layak disebut kaya..sedang orang miskin yang terlihat disekitar kita, bukankah Allah sudah menjaminkan rezeki pasti ada, Dialah Tuhan Yang Maha Melapangkan dana Menyempitkan rezeki terhadap Yang Dia Kehendaki, bahkan Hewan yang tidak dapat menjemput rezekinya didatangkan rezeki, contohnya Cicak yang makanannya nyamuk yang terbang sedangkan cicak tak mampu terbang, untuk tumbuhan seperti kantung semar, ini lebih aneh lagi, hanya diam saja, dan membuka, makanan datang sendiri…dan saya yakin, jika kita genggampun rezeki kita, sedang Allah hendak membaginya kepada yang lain..tanpa kita sadari yang ada pada kita akan bergeser kepada orang tersebut…. tukang hipnotis saja bisa… jadi siapa yang miskin…??? saya…saya…
Ayat keempat dan kelima :..kecelakaan bagi yang shalat, dan lalai dari shalatnya…ini lebih personality lagi, bagaimana shalat yang lalai, apa sebenarnya yang dimaksud Allah dengan shalat itu, lalu koq disebutkan orang yang sholat dan lalai dalam shalatnya, dan apa pula maksud lalai itu… apakah lantaran tidak khusuk sehingga terabaikannya bacaan…saya yakin, mereka yang sangat khusuk bahkan tidak lagi membaca bacaan sholat tsb, atau mungkin minimal gerakan dan bacaan, hanya meluncur dengan cermat, namun tidak lagi dirasakan oleh orang tersebut…lalu dimana lalainya, bukankah terlihat jika gerak dan bacaan menjadi termaksud dari sholat yang lalai tersebut, maka baik yang tidak khusuk, maupun yang khusuk tak lagi menikmati bacaan dan gerak shalat tersebut… ” Al-Baqarah 148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya…”
ayat keenam : orang yang berbuat riya, ini juga personality, disamping perbuatannya tersebut atas dasar kemasyhuran pribadi yang tidak dilandasi harapan akan ridha Allah, juga Allah sangat membenci orang yang mengaku-ngaku suatu perbuatan sebagai perbuatannya…, “Maha Suci Allah…” , dipandang apakah orang yang melempar batu sembunyi tangan…atau cuci tangan dari perbuatannya…????
ayat ketujuh : enggan dengan barang yang berguna, inilah sepertinya orang yang mendustakan agama…orang yang menghardik anak yatim, enggan menyuruh memberi makan orang miskin, orang yang sholat dan lalai dari sholatnya, dan orang yang berbuat riya…
Apa yang terfahamkan di saya, Al Maa’uun ini adalah informasi penting tentang sesuatu hal yang personality, semuanya tanpa terkecuali…jika ditemukan, sungguh itulah barang yang berguna tersebut….
ada satu kalimat satire yang saya kenal di sampaikan oleh Gede Prama cerita nya begini :
Sesorang melihat seseorang seperti sedang mencari-cari sesuatu dihalaman rumahnya, lalu orang tadi bertanya, “apa yang sedang dicari…???”..orang tersebut menjawab :..”jarum…” , lalu ditanya lagi…”jatuhnya dimana…???” …orang tersebut menjawab…”di dalam rumah…”… orang yang bertanya dengan keheranan bertanya lagi…”jatuhnya di dalam rumah..???..mengapa engkau cari di luar rumah…?? ..dengan santai orang tersebut menjawab…”akh di dalam rumah gelap…”
lho…!!!
Tidaklah sedikitpun dari apa yang diketik tangan ini dapat memahamkan, atau memberi mudharat, hanya Pada Kuasa Allah semata mengenai Memahamkan atau mendatangkan Mudharat…sungguh itu hanya Kuasa Allah semata…bahkan pengetikan ini…
Entah bagaimana, pada kefahaman saya yang tersirat surah ini bukan sekedar ayat tentang pemberian sedekah atau bantuan kepada orang-orang yang berstatus yatim ataupun fakir miskin, saya lebih merasakan pesan ini ditujukan bagi diri-diri tentang sesuatu yang penting dan itulah dia barang yang berguna tersebut…meskipun secara arti harfiahpun bukannya salah…namun rasanya ada sesuatu yang lebih dari itu dan amat sangat berguna dalam menggapai tujuan hidup ini… –>
Assww.
Kepahaman saya terhadap surah ini lebih ke arah peran sosial dari misi agama dalam memperhatikan anak yatim (kata anak penting) untuk mendefinisikan manusia yang “belum mampu”/dewasa agar terpelihara; membantu orang miskin adalah “keharusan” dari pesan Islam. Kalau itu enggan dilakukan, maka Allah menyamakannya dengan pendusta agama. Suatu tuntunan bahwa entah apapun jabatannya dan kepemahamannya dalam agama, namun tidak mau membantu kaum tertindas (dalam hal ini miskin), maka sama saja dengan pendusta agama.
Lalai dalam sholat, dalam pemahaman agor bermakna dalam konteks hubungan dengan perilaku sosial. Orang yang rajin dan tawakal dalam sholatnya, tapi pelitnya bukan main dan tidak membantu termasuk yang lalai dalam sholatnya.
Saya rasanya setuju juga, bahwa Allah lah yang memelihara. Namun, dipahamkan juga dalam pemeliharaan itu, ummat yang mampu harus memberikan haknya kepada mereka. Kalau tidak mau dilakukan, maka dia keluar dari komitmen keagamaannya (dalam konteks ini).
Surah ini, menurut agor bukan wilayah personality yang disentuh, namun menggambarkan dan sekaligus mengharuskan perhatian dari harta yang dianugerahkan Allah kepada kita, bukanlah milik kita sepenuhnya dan kita menjadi pelanggar agama (pendusta) jika kita mengabaikan kesalehan transformatif dari kepemilikan kita. Juga jika kita berlebihan-lebihan dan berbangga (riya) dengan harta yang kita miliki…
Wassalam…
Dan tidak kalah pentingnya…
Selamat berhijrah di Tahun 1430 H
Semoga hari-hari Indonesia adalah hari-hari penuh rahmat dan hidayah, serta ampunanNya…
Salam untuk seluruh keluarga besar Mas….
::Mas Agor, seperti yang saya sebutkan pada postingan, jika menggunakan arti harfiahpun tidak salah…, bukankah pada comment Mas Agor yang dikembangkan , dipandang dari permukaan ayat demi ayat tersebut.
umpama itu lautan permukaannya pun sudah disebut lautan, ini hanya mencoba menyelaminya, bukankah AQ itu ada Muhkamat dan Mutasyaabihatnya…
Namun apa yang Mas Agor commentkan tidak salah….dan itu memang diperlukan dalam kehidupan sosial…
::mungkin memang saya, lebih melihat apakah saya sudah selamat apa belum, seperti jika ada keadaan darurat di pesawat terbang, bahkan Ibu/ bapak/ Yang lebih dewasa, lebih dahulu menggunakan masker udara, baru membantu yang lainnya…ini juga bagi saya adalah petunjuk kearah mutasyaabihat itu…
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H, salam bahagia dan damai juga bagi Mas Agor beserta keluarga Besar…
qt sm2 mncoba mngurai ayt.4. sholat tp celaka bknkah ini brmakna sia2 ?, klo bgt mngapa ?. qt tngok k ‘pnjelasan’ alqr’an ykni al-hadist [qt hrs biasakn ini]. “ssngguhny sholat mncgah prbuatn keji & mngkar”. jk stlah sholat ttap pd “kkejian & kmungkrn diri” ini yg mngkin LALAI. so LALAI = STMJ [Sholat Terus Maksiat Jalan]
slmt Tahun Hijriah, mari qt brlatih Hijrah ke Akhlaq Rosulullah.
::masjk, terima kasih, yang mas sebut sebagai al-hadist tersebut adalah ayat dari Al_ankabuut 45, mohon maaf, apa yang terfahamkan pada masjk mengenai sholat, apakah yang dimaksud mendirikan sholat..???…
coba kita sederhanakan, apa yang tergambar terhadap menegakkan hukum, apakan sekedar pangajuan ke pengadilan, atau jika sadar hukum maka ditegakkan dengan tidak melanggar sedikitpun terhadap catatan-catatan hukum tersebut.
pada sholat, ada gerak dan bacaan, pada gerak, apakah sekedar gerak ataukah ada yang tersyirat, pada bacaan apakah sekedar bacaan, bukankah padanya ada petunjuk…dan pernyataan…
Menurut pendapat umum Lalai itu shalat tidak tepat pada waktunya, namun dalam pengertian khusus…
LALAI=sepanjang shalatnya tidak ingat kepada Allah, yang di ingat dalam shalat masih dunia (masalah, istri, pacar, kerjaan dll).
Sebelum mengingat-Nya tentu saja kita harus mengenal-Nya dengan baik agar tidak salah ingat,
Allah memberikan kemenangan kepada orang yang Khusyuk dalam shalatnya kerena selalu disertai oleh-Nya
Mudah2an shalat khusyuk kita bukan Shalat Khusyuk Salah Kaprah he he he
::
nambahin dikit: kata “salat” sendiri mungkin perlu dibahas lebih mendalam, kang Zal. salat konotasinya kan emang gerakan dan bacaan. menurut saya sih elemen penting dalam salat setidaknya ada lima: yg menyembah (pelaku), cara, tempat, kiblat, dan yg disembah. jadi kalau disebut lalai mungkin bisa karena kelakuan pelaku, salah tempat, keliru caranya, kiblat tidak tepat, dan mungkin juga lalai menarget sesembahannya.
::sitijenang…lha ini wes tak tulis diatas…”dan apa pula maksud lalai itu… apakah lantaran tidak khusuk sehingga terabaikannya bacaan…saya yakin, mereka yang sangat khusuk bahkan tidak lagi membaca bacaan sholat tsb, atau mungkin minimal gerakan dan bacaan, hanya meluncur dengan cermat, namun tidak lagi dirasakan oleh orang tersebut…lalu dimana lalainya, bukankah terlihat jika gerak dan bacaan menjadi termaksud dari sholat yang lalai tersebut, maka baik yang tidak khusuk, maupun yang khusuk tak lagi menikmati bacaan dan gerak shalat tersebut…”
kalau dijelaskan yang menurut kita sudah jelas bangetpun ndak bakalan cukup….makanya Tuhan berbaik hati buat perumpamaan, …dan memang ternyata sebagian besar manusia itu menjalani perumpamaan itu…misalnya disebut Allah “perhatikan makananmu…” maka yang diperhatikan adalah makanan, misalnya mulai dikaji halal tidaknya, dll… padahal kan yang hendak dilihat Allah apa yang dibalik dada itu, dan ini bisa dipastikan bukan Paru-paru, dan jantung…. lalu apa…nah dari sini tentu bisa dimulau meneerawang
Assalamualaikum
Sungguh bagus tulisan ini.
Subhanaallah.
Mas Zal, bagaimana menurut sampeyan.., kalo seseorang sdh melakukan sholat, tapi masih melakukan yg dilarang oleh Allah, apakah seseorang tsb masuk dalam lalai dalam sholatnya? kan ada firman kalo gak salah ..Inna sholata tanha anil fasa’i wal munkar (kalo tdk salah eja..,maap). Bukankah itu merup indikator?
walah..,komennya gak nyambung ya mas, alias nyimpang. maap sekali lagi..
::mas Jay, wa’alaikum salaam…, Alhamdulillah..
::mas jhon, tidak sadar dalam kelalian, atau sadar dalam kelalaian bukannya cuma itu bedanya…
mohon ijin bergabung dan diucapkan terima ksh
hehehe mencari jarum yang jatuh di dalam rumah di luar rumah, ungkapan yang bagus dan juga lucu.
saya juga pernah mendengar ungkapan “orang yang tak tau diri akan menipu diri karna itu dia lalu lupa diri”.
sungguh suatu barang yang berguna yah bang zal?
pertanyaan selanjutnya, ada apa dengan kiblat bang zal?
knapa di monitor saya warnanya biru. apa monitor saya suda terlalu burem atau memang sengaja di birukan?
::burem, terima kasih sudah mampir,…
warnanya biru…akh, mungkin melihatnya dari kejauhan…coba dekati pasti warnanya bening…???,
wakakakak bang zal ini pintar sekali bersembunyi di tempat yang terang.
::lah…aku tak sembunyi.., prasangka yang membawa persembunyian itu.., aku terang dan nyata, itu juga jika prasangka membawamu…kepada terangku…
Salam Persahabatan Mas Zal nyang baik…
Hihihihi………
Kualitas hati seseorang akan menggambarkan bagaimana hubungannya dengan Tuhannya (Habluminallah) dan tentunya akan menentukan perjalanan selanjutnya dalam bersilaturahmi berjalan berkumpul bersama yang lainnya….hehehe
hati yang baik dan bersih akan mencerminkan kasih sayang terhadap sesama dan sebaliknya hati yang kotor akan menyebarkan kebencian dan egois dan melupakan yang lainnya, walau mungkin bisa saja baik tapi itupun hanya kepalsuan belaka demi menutupi atau kepentingan ego sang diri pribadi.
Salam Sejati
ciOONsurOON
::bener kangboed, tapi saya gak ngerti apakah hati saya bersih atau nggak, sedangkan kamar mandi kami yang kotornya tampak saja sulit saya bersihkan dengan benar, konon lagi hati…yang jelas-jelas gak nampak…
Hihihihihi………
jadi malu ah…. bicara sok serius eh eh eh hmmm…. hehehe Mas Zal bisa aja ach,
Hati dimanakah engkau berada
Kemanakah engkau saat ini
lama nian ku tak mendengar suaramu
apakah engkau saat ini mulai tersenyum
apakah teteeep masih menangis
wiiiidddddddiiiiiiiiiiiiiiiiwwwwwwww
takut mas hatiku ternyata masih menangis huuk hhuuk hhuuuk
wah bagi obatnya dong mas biar hatiku tersenyum
hiiiiiik hikk hiiiiiiik
please dong aaaaahhh
Terima kasih mas obatnya bener bener manjur
hehehe hetiku mulai tersenyum membalas senyuman tulus dari hati sampeyan hahahaha thank you brother Zal buat obat hatinya
::he..he..tenanan kangBoed aku gak dong masalah letaknya…, jangkan hati, awakku iki opo, aku gak ngerti.. mek gulu tok… koyo hantu jeruk purut…