jump to navigation

Merenungi Shalat, Apakah sama mendirikan dengan mengerjakan 5 Januari 2008 12:04 pm

Posted by zal in Yang dialamikan, Yang direnungkan.
trackback
Tergerakkan dari pertanyaan saya, di blognya aboutmiracle bedanya shalat dengan sembahyang apa ya Bung… ??? 
Lalu dijawab aboutmiracle : “itu sama aja pak Zal…  hanya kalau kata “sembahyang” itu dipakai dalam konteks bahasa indonesia/melayu dan biasa dipakai dalam komunitas suku melayu… 
nah kalau “shalat” itu pure bahasa Arab/bahasa Qur’an-nya..
Jadi ya, sami mawon…  :lol:

Mohon maaf, ini bukanlah, masalah menyalahkan, atau membenarkan, bukan pula masalah pembenarkan pendapat diri,
dikutipnya soal jawab itu, menunjukkan bahwa dari soal jawab itulah adanya gerakan untuk membuat entry disini, yg sebelumnya sudah diketik beberapa kata, namun gerakan menghapusnya untuk stock disini ternyata lebih kuat….he..he… :mrgreen:

Adalah AQ 29 : 45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari  keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah  adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ada 4 (empat) point besar dalam ayat ini :
1.       Bacalah apa yang diwahyukan….
2.       Dirikan shalat, yang mencegah dari keji dan mungkarnya manusia kepada Rabb nya…
3.       Mengingat Allah, yang sesungguhnya bayak keutamaan-keutamaan yang Allah sajikan dalam “mengingatNYA”
4.       Allah Maha Mengetahui……

Tentang mendirikan shalat… 


Apa yang terfahamkan pada saya, bahwa “Sembahyang”, merupakan “pembahasa-an” dari dirikanlah shalat, yang merupakan implementasi/ tindakan fisik maupun batin, dari apa yang di Pujikan, Apa yang dkomitmentkan, apa yang digerakkan, apa yang dinyatakan dalam pengerjaan shalat;
mari kita coba, merenungkan sebagian kecil dari hal shalat :
1.       Takbiratul ihram, pada posisi ini kita meng Akbar kan Allah, dengan posisi ini Allah adalah sesembahan yg tidak boleh sedikitpun diremehkan, Dia Pemilik Jubah Ke Akbaran, Yang Maha Terhormat, segala sesuatu tunduk padaNYA, siapapun yang selalu meng AkbarkanNYA dalam kehidupan keseharian, dan bersabar jika datang godaan apapun niscaya Sang Penggoda akan tunduk.
Namun mari kita renungi pasca shalat, benarkah kita tidak meremehkan Allah dalam hal apa saja, mari sejenak kita flashback keseharian, renungkan bagaimana kita menerima segala macam persoalan, apa tidakan kita pada saat tekanan datang menerpa, siapakah yang dalam perasaan, fikiran dan tindakan yang kita ambil sebagai penolong…???? Mari merenung… bukankah kata Rasulullah SAW, “mereneung sejenak lebih baik…..” hadisnya engga soheh…??? ;) sementara ini, mari kita manfaatkan saja… (kalau mau memastikan kesohehannya ayo kita tes aja sendiri  :lol: )

2.      Kita juga Menyatakan Allah Maha Terpuji, dan Allah juga Maha Suci, apakah kira-kira cukup penyebutan demikian saja, apakah Allah senang dipuji-puji seperti itu, tanpa jelas mengapa DIA Terpujikan demikian, bukankah Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi dan apa yang dizohirkan.
Coba lihat diri kita, umpamakan wajah kita ini amat jauh dari tampan, lalu ada gadis jelita mengatakan “duh tampannya kamu…” , curiga pertama yang mungkin hadir pada diri kita adalah “pasti si jelita itu sudah gila…” ya iyalah masak hancur berantakan begini dibilang tampan… :lol:
Mungkin akan beda, jika ungkapan demikian kita sadari bahwa kita datang dengan “Mercedes” seri terbaru, Stelan lengkap, dan belum lama diberitakan dimana-mana kalau kita termasuk dalam “orang terkaya di Indonesia” oh ya…seperti siapa itu ya… ??? yang ngawinin beberapa artis yg tergolong cantik, dan salah satunya diceraikannya cukup lewat SMS… ada yang tahu nggak  :lol:
  Kalau begitu ceritanya, akan tahulah kita sebab apa kita dipuji… :mrgreen: 
Pujian tanpa alasan, adalah pujian kosong…!!!!  
Demikian pula MenSucikan Allah, sucikanlah diri kita terlebih dahulu, dengan prasangka-prasangka baik kepada Allah, inilah hakikat wudhu, “siapapun yang tak hendak mensucikan dirinya niscaya Allah tidak akan mensucikannya”, pada saat Allah “mencap” diri ini “suci” niscaya tidak akan ada lagi hal-hal yang tidak suci berani melewatinya, Cap Allah adalah Register Sang Maha Raja, bahkan dengan Capnya saja sudah dipandang sebagai DIA yang berlaku….Umpama Allah tentang hal ini, seperti tulisan “suci” yang tercantum pada tangga mesjid, yang mengenali kesucian tidak akan melewatinya dengan memakai sandal atau lainnya… .
3.       Doa, Iftitah, apa saja komitment kita pada Allah pada waktu shalat, dalam do’a iftitah bisa jadi menggunakan bacaan berbeda, ada yg melafalkan Allahu Akbar Kabiira, ada juga yang melafalkan Allahumma baid bayni wa bayna, namun mari kita renungi, apakah benar komitment itu berjalan dalam keseharian kita. 
Komitment yang mana…???

 
Ø     Inni wajjahtu wajhia…, selalu menghadapkan wajah kita ke wajah Allah, sudahkah ini tidak hanya sekedar lips service, baik dalam mengerjakan maupun dalam menegakkan (Allah menegakkan langit tanpa tiang lho…jadi, apakah menegakkan masih terlihat sama dengan mengerjakan…)….

Ø Inna sholati wanusuki wamahyaya wama mati, lillahi robbil ‘alamiin…, menyerahkan hidup mati hanaya kepada Robb semesta Alam…sudahkah…???? …ah yang betul… :lol: tanyakan dulu kepada diri kita sendiri apa siap dengan segala penyerahan, dan penyerahan segala….

Ø     La syarikalahu… , tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apapun selain Allah…..sudahkah tegak,  yang beneer…., kemarin sewaktu ada kesulitan, terus ada teman yang membantu bilang apa…???? Kayaknya bilang “untung ada kamu yang membantu, kalau engga…”, sewaktu loby kenaikan jabatan siapa yang nolong…???



demikian seterusnya hal shalat. …  apakah menurutmu engga sulitkan mendirikan shalat… ???., emang engga sulit koq…, kan ngikut imam .!!!… ya..ya…, imam yang didepan itu …????  bukan …itu …ya…kalau itu masih mengerjakan shalat namanya….
lalu yang mana….Yok ngelamunin lagi…(oh ya..kalau mau ya…)
Sekarang kita cerita bagaimana oleh-oleh mi’raj itu diterima, apa dalam suatu paket all in, gerakan berikut bacaan….???, kalau ya…, mengapa ada 2 bacaan do’a iftitah…???, lalu mengapa turunnya AQ 87:1-2 “Sabbihisma robbika a’lallazi holaqo fasawwa” lalu Rasulullah SAW berkata “jadikan itu bacaan sujudmu”….
Lalu gimana kira-kira paket itu diterima ya…??? Bertanya lagi…,
 ngelamun lagi…..asyiiik.. :lol:
Belum lagi yang di AQ 87:15 “wa zakarasma robbuka fasholla”..>> dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang….,
nah yang ini gimana lagi donk… :lol:
Bertanya lagi…., melamun lagi… asyyiiikkk lagi… :lol:
Mengenai nama Allah, (Iqra’ bismirabbikallzi cholaq), misalnya kita akui Allah Maha Tahu, seberapa besar kita mendudukkan diri dalam pengakuan yang diimplementasikan dalam keseharian hidup kita…khusukkan setiap aktivitas yg berjalan, perhatikan tiap-tiap sinyalemen yang datang, jika datang pelalaian dengan aktivitas lainnya, pada saat kita mengerjakan satu hal, kerjakan secara sempurna, jangan terburu-buru, sebab pada terburu-buru ada pelalaian….


Dalam Sifat 20 Allah :
Allah bersifat Sama’, sifat aktif Allah dalam sama’ adalah Kaunuhu sami’un
ini juga ada dalam gerakan i’tidal kita…
Allah juga bersifat Aliim, aktifnya Kaunuhu Aliimuun, ini juga ada dalam nama Allah.
namun seberapa besar kita mendudukkan keyakinan atas semua itu pada sisi terdalam kita, dalam menghadapi kehidupan keseharian.
Sesungguhnya Allah telah melengkapi, segala atribut untuk kita mudah menggapaiNYA, mengapa syurgaNYA yang dilirik….bukankah itu hanya hal kecil….
Seorang pendekar yang baru turun gunung dari mengasah kemampuan silatnya, akan mencari Raja, yang didambakannya untuk pengabdiannya, segala cara akan dilakukannya asal dia diperkenankan mengabdi pada Raja tersebut, bahkank perang tanding mempertaruhkan nyawa disiapkannya, sampai Sang Raja memanggilnya untuk selalu berada disisinya kapanpun…dan tinggal di istana Sang Raja….
Posisi mengerjakan shalat adalah, sesuatu tindakan dimana kita diajarkan hal-hal yang menyangkut pengakuan, pujian, komitmen, pengenalan hukum/aturan, pengenalan segala sesuatu mengenai Allah dan ciptaanNYA, komunikasi Abdi dengan Khaliq, konsentrasi, ekstase, ketundukan, penyerahan, kesaksian…, dan ada pengetahuan bahwa ujung dari komitment-komitment itu adalah keselamatan.
Menegakkan shalat, adalah terejawantahnya segala komitment dalam segala tindakakn keseharian, dalam ubungan apa saja, musibah, kesenangan, pengerjaan perintah dari apa saja, tanggung jawab.
Kau takut bukan Tuhan yang Maha Tunggal yang kau sembah, percayalah, apapun jika kamu bertahan dan meyakinkan dirimu bahwa menurutmu itulah Tuhanku, maka Allah akan menggantikannya dengan yang baru, sampai Dia akan menggantinya dengan DiriNYA sendiri, DIA takkan pernah rela kau menyembah selain DIA, dan DIA maha Pencemburu, kalau kau yang sudah DicintaiNYA, berpaling kelain hati, yang juga diciptakanNYA….
Rasulullah SAW berkata, “dengan shalat aku menjadi punya waktu dengan Allah”
Apa cita-citamu dengan shalatmu….????  Sudahkah kamu mendirikan shalat…..????

Komentar»

1. almascatie - 5 Januari 2008 12:16 pm

mengerjakan sering.. mendirikan masih belom *semoga bisa tercapai*
kadang kita ga pernah berpkir tentang esensi ini, kita hanya mengikuti yang sudah ada tanpa perlu dipikirkan, yang penting “keliatan” udah ga ngurus yang laen…

2. sitijenang - 5 Januari 2008 9:09 pm

amankan dulu… pertamax! 8)

3. aboutmiracle - 5 Januari 2008 11:26 pm

wah..pak Zal…saya baru nyadar jika dialog singkat kita itu berubah menjadi postingan yang sungguh berguna… :)

saya tidak dapat berkata2 lagi pak..selain menulis… :p
sungguh berat mengamalkan tuntutan dari shalat…Nanti deh saya merenung dulu, nanti komentar lagi..hiks hiks.. (*berjalan dengan gontai…)

4. sitijenang - 6 Januari 2008 3:44 am

lha dana, si pejalan, itu senengnya kan kiamat. berarti seneng salat rupanya… ya ya ya… salatlah supaya selalu kiamat… muahahaha :mrgreen:

5. zal - 6 Januari 2008 4:56 am

::sitijenang, disini pertamax engga ngetop, soalnya daeranh yg jarang dikunjungi…. :mrgreen:
Sejatinya setiap orang mendirikan shalat, pembeda hanya kehusukan, sehingga terlalaikan pada masalah tujuan, pada akhirnya memisahkan antara mengerjakan shalat dengan kegiatan lainnya, padahal dari ukuran waktu, aktivitas pengerjaan shalat hanya sebagian kecil dari total waktu yang ada, lalu kemana berpalingnya pandangan setelah mengerjakan shalat.

::aboutmiracle, mohon maaf, tidak bermaksud pada salah menyalahkan, atau sok benar sendiri, kita hanya penyampai, comment di blognya aboutmiracle adalah tangga menuju postingan ini, sekali lagi mohon maaf, jika ada manfaatnya, hanya Allahlah pemberi manfaat.

6. bangbadi - 6 Januari 2008 12:27 pm

beda tuh mengerjakan dan mendirikan. kebanyakan orang cuma mengerjakan.

Ichank - 7 Juli 2009 5:20 pm

Bener emang beda antara mengerjakan dan mendirikan .. wah saya salut pada siapa saja yang bisa mendirikan shalat ..

QS 20:14

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

7. qzink666 - 6 Januari 2008 12:50 pm

Wah, kalo begitu selama ini saya belum benar-benar sholat dunks, bro?

8. Arwa - 6 Januari 2008 1:29 pm

Sepertinya harus di cek lagi syahadatnya jika ingin benar-benar ingin mendirikan shalat.
Apa betul segala kegelapan (illah) dah sirna total ?
Ah…yang bohong aja deh.
Sesuai urutan shalat itu masih tetap nomor 2.
Mari kita hadapkan wajah kita kearahNya meskipun dalam keadaan tertunduk karena merasa saking hina dina, dihadapanNya.

-tertunduk malu karena bohong terus setiap salat-

9. kurtubi - 6 Januari 2008 11:42 pm

shalat bukan sekedar “jengkelat jengkelit” ya bang Zal tapi shalat merupakan

“merupakan implementasi/ tindakan fisik maupun batin.”

Doakan saya bang Zal, agar tidak berpaling ke lain hati …. sebab saya inginya bisa konsisten untuk cinta dan cinta pada yang Satu… :)

10. ordinary - 7 Januari 2008 1:59 am

lagi..lagi..
tak ada yang bisa tertulis, kalau abang yang satu ini udah mengeluarkan sabdanya.

*merenung juga*

11. siapaindra - 7 Januari 2008 6:31 am

Mungkin tidak ada hubungannya dengan posting ini…

Kalau tidak salah, arti dari “Sembahyang” itu dulunya adalah bahasa Melayu yang dipakai masyarakat di zaman kerajaan Sriwijaya untuk menyembah sang Yang dalam bentuk kepercayaan Hindu Kuno.

Maka memang kata “Sembahyang” itu terdiri dari dua kata, yakni “Sembah” dan “Yang” di mana adalah salah satu dewa dalam ajaran tersebut. Jadi, saya berpendapat kata “Sembahyang” ini lebih baik dihindari karena memang tidak terdapat di dalam Al Qur’an.

(Mohon dikoreksi, kalau ada salah).

12. joyo - 7 Januari 2008 8:00 am

pusing mbaca hurup nya yang besar kecil, simpen dulu ah…

13. zal - 7 Januari 2008 8:18 am

::bangabdi, qzink666 >>tks udah mampir, seperti jawaban untuk sitijenang, sejatinya setiap orang sudah mendirikan sholat, namun kesadaran atas perbuatan yg belum terbuka, ibarat orang berjalan didalam tidurnya…, ini bukan penghakiman, sekedar share aja bang, karena sadar atau tidak dalam kuasa Allah saja…, dan gerak diri tentunya…

::Arwa, emang sholat sendiri dalam rukun Islam disebut dalam urutan berikutnya dari syahadat, mungkin selayaknya begit, namun pengaturannya bukan pada kita, seperti ayam dengan telur, sedangkan, mereka yg masuk pada perjalanan memerlukan pangilan, ada waktu yg dinyatakan mulai.. benar apa engga… :lol: namun yg sudah memasuki wilayah ini, tidak jarang menampilkan kesombongan versi 2… padahal hanya pemberian….

::Pak Kurt, kayaknya Allah yang Maha Tahu, atas segala yg menjadi pertanyaan kita, di Al Baqarah, Allah mengejek dengan Kalimah “orang yang bodoh-bodoh itu” kepada orang-orang yg mungkin mengenali hakikat arah kiblat, sebab apapun ukurannya hanya pada Allah, “mereka yang berdo’a kepadaKU niscaya akan AKU kabulkan”, namun mungkin doa kita seringnya bernilai rendah (para sufi beranggapan segala kedunyan itu rendah) “jangan jual agama dengan harga rendah”, ambillah yg tertinggi dari segala yg tertinggi yg kita ketahui…

::may, bukannya saya juga membaca ini…, meskipun tangan saya (yg aslinya ghoib)menulis, bukankah fikiran kita juga ghaib.

::siapaindra, “dari Allahlah setiap perkara, kepada Allahlah kembali perkara”, Sembahyang, dapat juga terfahami pada sesembahan pada Yang Maha, yg mungkin apa yang kita persembahkan kepada Allah, dengan segala qualitas yg ada,
seringkali tanpa sadar, kita menstate bahwa ada pencipta produk selain Allah, yg dengan demikian tanpa sadar juga kita sudah menciptakan sekutu Allah…,
padahal pelajaran dapat diambil dari perumpamaan nyamuk atau yg lebih kecil dari itu….
Al-Quran tidak terbatas pada yg ditulis, bahkan saya, kamu dan apa saja yg diciptakan Allah, adalah AQ, intinya Insya Allah dipertemukan melalui Indera, entah Indera yang mana, namun itu tampak dengan jelas….

::

14. zal - 7 Januari 2008 9:00 am

::joyo.., wooi udah balik ke Batam ya… :lol: , iya nich agak kesulitan saya mempaste dari word, padaha editingnya sudah perblock, namun koq hasilnya amburadul begini….

15. zal - 7 Januari 2008 9:30 am

::almascatie, comment kamu terspam…tumben engga pertamax-an …, :mrgreen: mungkin kalimat “sudah” dan “belum” perlu disholatkan juga… :lol:

16. hadi arr - 8 Januari 2008 5:34 am

mengerjakan yah seperti sebuah tugas jika selesai sudah gugur kewajiban, kalau mendirikan yah harus tercermin dalam langkah-langkah kehidupan, diucapkan dengan lisan, diyakini dengan hati dan dimplemantasikan dalam perbuatan ( gitu kali yaa ).

17. joyo - 8 Januari 2008 8:20 am

hmmm iya sudah balik batam lagi :( , tapi cuma bentar pak, bulan depan saya kembali ke jogja :)
eh bukannya Allah (Islam) itu punya 99 sifat ya? klo dalam pikiran saya malah cuma punya 1 sifat, segala2nya :D

18. zal - 8 Januari 2008 9:38 am

::Pak Hadi, itulah namanya pencarian, selamat mencari… Pak Hadi…kan sepertinya amat luas, sehingga kemanapun memandang disana wajah Allah berada… :)

::joyo, sebenarnya dari manapun kita memandang akan sama melihat, kesatuanNYA untuk terlihat detailnya, kedetailanNYA untuk terlihat kesatuanNYA, :lol:
secara tulisan dan pembukuan, ada nama dikenalkan 99 Nama, cuma kan matematika, Aljabar, ada yang namanya korelasi, relasi hitung sendiri jadi berapa…
Sifat yang wajib ada 20, ada yang hanya menyebutkan sifat secara pasif, misalnya ilmu, Mengetahui, sifat aktifNya kaunuhu ‘ilman berkeadaan mengetahui.
ada pula af’al, ini adalah perbuatanNYA, tindakanNYA dari namaNYA terbaca Tindakan, dari SIfat terbaca bagaimana Allah bertindak,
dari ketiganya belum tahu apa yg akan terlihat… :lol:

19. joyo - 9 Januari 2008 9:44 pm

betul pak, tapi namanya manusia sering lupa, klo sudah melihat yg detil2 enggan keluar untuk memahami keseluruhan, padahal keseluruhan memiliki sifat yg tak dimiliki detail, yang tersisa keterjebakan
mudah2an saya tidak lupa semuanya :)

20. zal - 9 Januari 2008 10:30 pm

::he..he…he…tul… :lol:

21. danalingga - 11 Januari 2008 11:36 am

Woh , ini toh versi satunya tentang shalat.

Btw, zal saya juga selalu kopi paste dari word tuh nggak ada masalah. Saya pastenya pake paste as text , ada iconnya kok. Demikian sekilas info.

22. danalingga - 11 Januari 2008 11:38 am

kapan mo di bahas nama Allah yang ke 100 kyia zal? *provokasi*

23. zal - 11 Januari 2008 12:09 pm

::he..he…engga juga…cuma bagi-bagi rezeki yang ditahukan… :lol:

nah ini dia, cocok, soalnya settingan selalu berubah-ubah…thx lah

::kalo udah masuk ke nama Allah yang ke 100, berarti udah ada yang urus, apa yang tersampaikan disini, siapa tahu sebagai asbabun nuzulnya mencari nama itu… kan panggilan tergantung kedekatan mungkin kalau teman akrabnya sby manggilnya mbeng… pasti sby noleh dan merasa ini pasti teman kecilnya :mrgreen:

24. bedh - 11 Januari 2008 12:49 pm

huhuhu jadi menciut baca postingan ini :mrgreen:

25. abah dedhot - 11 Januari 2008 12:58 pm

euleuh…. sering ketemu di dasar samudera, baru tau padepokannya sekarang… dasar si abah mah superkuper… kumaha damang pak kyai..??? pertama berkunjung lagi bahas shalat…. beurat euy.
Dulu saat abah masih ‘pinter’, abah sering melakukan sembahyang… euhm… menyembah bayang-bayang (bukan sembah hyang), apa yang dibayangkan (fantasi) tentang Tuhan… itu yang abah sembah. jadi kesimpulannya, abah menyembah Tuhan yang abah ciptakan, bukan Tuhan yang menciptakan abah… weuh.. LIEURRR.
Sekarang…. apalagi setelah baca tulisannya mas zal… abah boro-boro mampu shalat, wudhu juga masih berantakan… cuma ngebasah-basahin muka… :lol:
kumaha yeuh mas zal… nasib abah…??? apa biarinin aja yah, abah ngga mampu shalat, paling ngga ngejagain penitipan sendal aja lah… :lol:
salam

26. zal - 12 Januari 2008 2:06 am

::bedh, he..he…yang menciut apanya….anunya… mungkin bagian setia budi semakin dingin ya bulan-bulan ini, itu dana menayakan nama ke 100… padahal saben berkunjung selalu dibawa-bawa… koq ngga ada yang nyamber…. :lol:

::heh abah…biasalah bah, udah capek keliling bawa bandrek bajigur, namanya juga usaha, ternyata usaha cuma usaha yak…akhirnya nyerah eh malah bandreknya laris maniis… he..he…

jaga sendal itumah jauh lebih baik.., jadi tahu siapa yg udah ngelepasin sendal siapa nyang belon…, terima kasih bah udah mampir… :lol:

Ichank - 7 Juli 2009 5:23 pm

Seandainya nama Tuhan yang ke 100 dapat ditulis .. tentulah sudah di muat di dalam Al Quran.

zal - 12 Juli 2009 9:18 pm

akh itu penamaan keberapa itu cuma hitung-hitungan saja, sebenarnya tertulis bahkan sangt-sangat berulang namun karena tidak distate oleh penafsir maka tidak dipopulerkan, meski para pejalan menggunakannya, bahkan setiap yang bernafas menyenandungkannya…

Ichank - 13 Agustus 2009 12:04 pm

Itu bukan hitung2an !!!
setiap yang bernafas menyenandungkannya ?? apa ga’ salah
tolong kita kaji lagi deh

Ichank..: terima kasih.. coba saja dengarkan dengusan nafas ichank…
apa yang disenandungkannya…carilah dengan nahu syorof…maka akan ketemu apa yg disenandungkan itu..

27. savikovic - 4 Februari 2008 5:49 pm

mendirikan sholat = mensholatkan diri?

klo belom tanhaa ‘anil fahsya’ wal munkar ya belom sholat, ya ga?

28. zal - 5 Februari 2008 5:35 am

::savikovic, bukannya Allah Maha Luas, jika dicari tak ketemu batasnya…kalau menurut faham yg ada pada saya, tidak terpaku pada kalimat, atau bentuk, sebeb “jika KUhentikan suatu pengetahuan Aku ganti dengan yang baru atau setara”, jadi apa yang sudah difahamkan yg paling utama ditindaki dengan arah dan tujuan dilakukannya..

Bukankah Shalat yg merupakan jalan yg akan menjadikan Tanha ‘anil fahsa iwal munkar, ya namanya jalan, bisa langsung ketemu atau belum bertemu, namun jika bertemu dengan maksud Al’ankabut 45 itu alangkah beruntungnya….

29. wisnuharjantho - 26 Februari 2008 10:54 pm

kadang-kadang kita dipertemukan lagi dengan hal dan makna yang pernah kita dengar, tapi kapan saatnya ketika makna itu bener-bener menghujam di hati dan menjadi terlaksana yang bener2 berat, takut kehilangan penghasilan (gaji) saja membuat kita (saya) tanda-tandanya masih meragukan hal itu (karena kurang kuat kali yah..?) apalagi kalo kehilangan keluarga ? mudah2an dg pertemuan ini dan perjalanan sekarang ini menjadikan saya lebih kuat….mohon topangannya ya mas Zal…

30. wisnuharjantho - 26 Februari 2008 10:55 pm

maksud topangan = ilmu dari Alloh

31. zal - 27 Februari 2008 2:52 am

::mas wisnu, semoga Allah merahmatimu, soalan segala ketidak sesuaian antara harapan dengan keinginan, mungkin selalu menjadi fenomena yang menimbulkan kecemasan, apalagi bentuk kehilangan…, namun suatu unsur lemah ditambah dengan banyak unsur kuat maka yang lemah akan tertolong….
“awaluddin ma’rifatullah” demikian ungkapan Ali RA, kekuatan sanubari bagi saya hanya bisa tertolong dengan mengandalkan daya kerja Yang Maha Penolong itu,…
itu mungkin pada potongan Al-Ankabut 45 disebutkan :”namun mengingat Allah jauh lebih besar..” cuma seringkali hal ini dipersepsikan sebagai elingnya orang yang berfaham kejawen…padahal ya..gimana kita mau perhatian jika kita engga ingat…ya namanya juga lupa…kan…
semua orang selalu ingin tergesa-gesa, menemukan hal ini, padahal segalanya pada genggaman Allah…, percayalah waktunya Allah, amat sangat menakjubkan…yang kita fikir lama…sebentar sangat itu…lamanya…yg kita fikir akan cepat..yang lama sangat itu waktunya…, jadi terakhir saya mebiarkan DIA saja menentukannya…rindu kepdaNYA…yg menimbulkan Cinta..jauh lebih indah.., itu makanya..engga ada yang dibiarkanNYA mengenalNYA dengan seluas-luasnya…agar merindu tetap terjaga…jadi menurut saya keadaan Mas Wisnu saat ini…sangat amat sangat indahnya…bak orang jatuh cinta…mencari informasi kekasihnya dengan demikian ngotot…nanti kalau udah menikah isterinya dipendhelik i… :lol:

32. rumahdamai - 26 Juni 2008 7:43 am

Assalamu’alaikum bang zal, ikut nimbrung ya…
sholat, mengerjakan atau mendirikan..?? mengerjakan lalu mendirikan, mungkin itu ,menurut saya. karena awalnya mengerjakan hingga akhirnya mendirikan ini suatu proses. awalnya hanya sekedar hadir tapi lama-kelaman jadi menghayati. justru sangat di sesalkan karena tidak bisa mendirikan akhirnya tidak mengerjakan. bang zal mungkin kita bisa membahas “bagaimana memunculkan kenikmatan dalam sholat?”. ketika orang lain tahu bahwa sholat itu nikmat, sebagaimana fitrat manusia ketika mengetahui dalam satu makanan terdapat rasa manis, maka ia akan lagi dan lagi ingin selalu mencicipi makan itu. jazakallah

33. zal - 26 Juni 2008 12:28 pm

::rumahdamai, wa’alaikum salaam warachmatullahi wabarakatuhu..

::sesungguhnya pada tindakan dan bacaan shalat terdapat tanda-tanda, yang mengkhabarkan apa hakikat shalat yg sesungguhnya..
sesungguhnya Allah dan Rasulnya menyampaikan segala sesuatu dengan perumpamaan-perumpamaan, untuk memudahkan, bukan menyulitkan…

perhatikan bagaimana Malaikat menanyakan kepada Allah, AQ 2 “mengapa Engkau ciptakan orang yg akan membuat kerusakan….bukankah kami selalu bersujud dan memujiMU”
kalau shalat sekedar sujud dan pujian, maka itu sudah dilakukan Para Malaikat dengan sangat konsisten, namun Allah tetap menciptakan khalifah…mengapa…???

sedangkan tujuan shalat adalah pada Al_ankabuut 45, adalah pencapaian “terhindarnya diri dari berbuat keji dan munkar”, belum sampai pada tahap pengabdian kan… jazakallah….

34. aryf - 19 Oktober 2008 11:08 am

Sifat Allah tidak munkin utk dihitung. sama halnya spt perumpamaan `wajah` Allah.

Sifat-sifatNya adalah manifestasi dari karuniaNya, yg sama sekali tidak munkin utk di `katakan`.
Limpahan RahmatNya menjadi karakter unik bagi setiap mahluk. Mampukah anda `bilang` mahluk yg Dia jadikan???

Sederhananya, munkinkah menghitung jumlah pasir di lautan.

Generalisasi sifat-sifat 20 justru mengkerdilkan KeagunganNya.
Mahluk2 ciptaanNya hanya merasakan sebagian kecil dari samudra Sifat dan AsmaNya. Tentu saja itu pun tanpa ke-Maha-an pd diri mahluk.
Maha hanya milik Allah semata. Dia lah yg Maha Sempurna dan Maha Segalanya.

Hal ini juga bagian daripada syariat dan hakikat itu sendiri. Diri kita tidak dijadikan sia-sia. Secara kasarnya, mulai dari ujung kuku sampai ujung rambut. Secara halusnya, rahasia shalat itu ada di diri anda sendiri.
Sebahagiannya disebutkan sbg perumpamaan dlm AL Qur`an, selebihnya telah dicontohkan oleh Muhammad SAW yg pantas dijadikan tauladan. Semuanya ada pada kejadian semesta alam.

Semoga kita tak pernah lupa utk senantiasa mendekat padaNya. Jadikanlah perjalanan anda bagian dari perjuangan tak kenal lelah utk selalu berada di sisiNya.

NB: jgn jadikan komen sbg sandaran, apalagi utk mempersekutukan Allah. semua itu cuma saran, selebihnya tergantung pada diri anda sendiri. Dimana ada kemauan, mudah2an byk mendapat kemudahan.

35. zal - 20 Oktober 2008 11:36 am

::arif, bukankah kita menerima cahaya, dimana saja yang dipancarkan oleh matahari yang sama…, meskipun kau mencari detail, kamu akan menemukan tiap detail kembali ke titik yang sama…., namun jangan mengeneralisasi, sebelum mendetailkan…, namuun jangan pula sibuk terus mendetailkan… sebab dari sisi manapun air laut diambil, dia akan memberi rasa yang sama pada tiap sendoknya…,

36. aryf - 1 November 2008 10:00 am

ahh jawaban yg bijak.
sayangnya hanya ada satu brewer master utk tester segala rasa anggur.
sayangnya hanya ada satu `penarik` kopi utk setiap kedai kopi.

selebihnya hanya `lidah` para penikmat, yg mengecap dg sensasi rasa yg pasti berbeda, walaupun dari zat yg sama.

NB: kadar salinitas setiap laut berbeda2 kok :-)…yah, msg2 ada `kadarnya`.

37. aryf - 1 November 2008 10:03 am

percayakah anda, bahwa senyawa siklamat pun (gula buatan) memakai lidah manusia sbg standar tingkat kemanisannya? disebut sbg siklamat master.

..sayang benar tuh lidah, tp ap mau dikata, demi anak istri mereka pun rela :-)

38. zal - 1 November 2008 10:36 am

::disinilah keunikan tiap-tiap penemuan, itulah sebabnya disebut Maha Kaya, bukankah “siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya”…

39. yande - 28 November 2008 9:54 am

artinya shalat ga harus lima waktu donk, kapanpun bisa
dan tidak hrs di musholla, dimanapun bisa
betul mas?

40. zal - 29 November 2008 10:33 pm

::yande, terima kasih sudah berkomunikasi, shalat dilakukan disebabkan ada waktu yang diatur, bukankah lima waktu sebagai gambaran banyak…???, yang pasti perintahNYA dimesjid-mesjid Allah…, dimanakah itu…???

41. KangBoed - 8 Juli 2009 10:37 pm

hehehe.. di mana neeeh.. dah balik belum.. siang tadi sibuk yaaaa.. hehehe.. ya udah hati hati yaaaaa..
Salam Sayang

42. KangBoed - 17 Juli 2009 12:00 am

Waaaah.. dah tidur yaaaaa.. piye iki turu waeeeeeee
Salam Sayang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: